Memilih Tayangan Sehat untuk Anak
Menindaklanjuti sebuah seminar yang bertemakan tayangan Sehat Untuk Anak, beberapa orang yang sangat konsen pada tayangan anak kemudian mengadakan acara kumpul-kumpul. Kemudian terjadi diskusi kembali seputar memberikan tayangan yang sehat untuk anak. Hasilnya, mereka sepakat untuk membentuk sebuah lembaga yang tujuan utamanya melindungi anak dari pengaruh negatif media. Maka terbentuklah Kritisi Media untuk Anak (Kidia).
Berdasarkan penelitian Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), waktu menonton televisi pada anak adalah sekitar 30 - 35 jam per pekan, dengan pilihan acara yang kebanyakan bukan acara yang ditujukan untuk kelompok usia mereka. Saat inipun banyak tayangan yang 'ditujukan' untuk anak, namun ternyata sebagian besar berisi hal-hal yang berkaitan dengan supra natural, kekerasan, seksualitas, den segala hal yang tak sesuai untuk anak. Begitupun pada jam-jam anak-anak biasa nonton TV, sekitar jam 3 hingga 6 sore, banyak disajikan program dewasa yang tentunya tak sesuai untuk anak.
Sementara itu pemberian label peruntukan, seperti BO (Bimbingan Orang tua) dan DW (Dewasa), ternyata juga tak sesuai. Itu dibuat kalangan industri TV, yang jelas motivasinya adalah uang. Banyak program yang kita anggap tidak cocok untuk anak, mereka beri tanda BO." Bagaimana orang tua membimbing pada anak lewat TV, kalau orang tuanya sendiri ikut hanyut dengan alur yang disuguhkan TV? Atau, bagi orang tua yang pendidikannya tidak seberapa, mampukah mereka menerangkan kepada anak untuk mengkritisi acara yang ditionton yang ketika itu kelihatan asyik banget? Ini jelas isapan jempol belaka.
Label Bimbingan Orang tua pun tak sepenuhnya dipahami para orang tua. 'Tidak semua orang tua tahu apa yang harus ditakukan ketika mendampingi anak menonton," ungkap Guntarto. Berdasarkan penelitian YKAI, prosentase orang tua yang mendampingi anak-anaknya pun kecil, hanya sekitar 15 %. "Kualitasnya juga tidaktinggi," tambahnya.
Dengan berbagai kondisi tersebut, pihak orang tua adalah pihak pertama yang perlu disadarkan dan diberdayakan untuk memilah sejumlah program yang cocok bagi anak-anaknya. Namun tak semua orang tua memahami tayangan TV untuk anak, "Tayangan TV untuk anak itu banyak, sekitir 130-an judul program TV per minggu, Orang tua kini bingung, mana yang bagus dan mana yang jelek.”
Untuk menjembatani kerja orang tua, Kidia membuat news letter (buletin) yang berisi panduan memilih tayangan untuk anak. Di dalam news letter ini beragam informasi tayangan anak diungkap, terutama lewat analisa tentang beragam film kartun dan bukan kartun yang dilengkapi dengan panduan bagaimana seharusnya orang tua bersikap pada tayangan tersebut.
Dari Ya’la al-‘Amiri mengatakan bahwasannya Hasan dan Husain datang dengan berlari ke arah Nabi Saw. Maka Nabi pun segera memeluk seraya bersabda: Sesungguhnya anak itu menjadi tempat bertumpunya kikir dan rasa takut.
(HR. Ibnu Majah, dalam Kutubut Tis’ah, hadits no. 3656).
Tampilkan postingan dengan label Menonton TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menonton TV. Tampilkan semua postingan
Selasa, 24 November 2009
Tayangan tak Mendidik
Tayangan tak Mendidik
Banyak tayangan ini pun sejak kemunculannya pertama sudah mengundang protes dari banyak pihak. Penyebabnya, acara itu sering menampilkan kekerasan secara eksplisit lengkap dengan darah dan kata~kata kasar. Luka, darah, dan tubuh korban yang teraniaya sering ditampilkan dengan pengambilan karmera close up. Belum lagi, seringkali adegan rekonstruksi kejahatan ditampilkan kamera secara apa adanya. Ini misalnya bermasalah untuk perkara-perkara asusila. Misalnya, dalam kasus perkosaan ditayangkan tentang cara-cara perkosaan itu dilakukan. Jika korban adalah anak, maka model yang digunakan pun adalah model anak. Kini, berbagai stasiun melakukan pembenahan dengan menghindari adegan-adegan sadis, vulgar, dan dramatis dalam tayangan kriminal mereka. Ini sesuatu yang tentu saja menggembirakan.
Pedoman Perilaku Penyiaran itu menurut UU Penyiaran sekurang-kurangnya berkaitan dengan hal-hal berikut: Rasa hormat terhadap pandangan keagamaan; rasa hormat terhadap hal pribadi; kesopanan dan kesusilaan; pembatasan adegan seks, kekerasan, dan sadisme; perlindungan terhadap anak-anak, remaja, dan perempuan; penggolongan program dilakukan menurut usia khalayak; penyiaran program dalam bahasa asing; ketepatan dan kenetralan program berita; siaran langsung; dan siaran ulang. Dasar penetapan Pedoman dan Standar tersebut adalah melindungi kepentingan publik.
Pedoman Perilaku Penyiaran yang dibuat KPI ini wajib ditaati oleh sernua lembaga penyiaran di Indonesia. Bagi kemaslahatan masyarakat, ini sesuatu yang luar biasa mengingat selama ini TV dan radio berjalan bebas tanpa aturan. Karena kedua media penyiaran ini amat besar pengaruhnya bagi masyarakat, isi siaran yang selama ini secara semena-mena ditentukan oleh pihak stasiun dan itu umumnya hanya didasarkan pada keuntungan semata. Banyak yang bermasalah karena muatannya buruk. Di antara kedua media, TV menjadi jauh lebih kontroversial dibanding radio.
Kini KPI hadir dan mengatur itu semua. Lembaga ini menetapkan, Standar dan Pedoman, mengawasi pelaksanaannya, dan berhak memberikan sanksi terhadap pelanggaran tersebut. Sanksi terentang dari tahap-tahap yang ringan hingga terberat sebagai berikut: teguran tertulis, penghentian sementara mata acara yang bermasalah, denda administratif, pembekuan kegiatan siaran lembaga penyiaran untuk waktu tertentu, penolakan untuk perpanjangan izin, hingga pencabutan izin penyelenggaran penyiaran.
Nantinya, KPI wajib menerima aduan dari setiap pihak yang menilai telah berlangsung pelanggaran terhadap Pedoman. Lembaga ini wajib menindaklanjuti aduan tersebut. KPI wajib memberikan hak jawab tentang aduan tersebut pada lembaga penyiaran yang bersangkutan, sebelum KPI memberikan evaluasi akhir terhadap aduan itu.
Apa yang terjadi di dunia pertelevisian ini sungguh membuat kita berharap banyak tentang munculnya wajah TV yang lebih ramah di negara kita. Selama ini acara-acara TV banyak yang buruk, yang potensial membawa efek negatif terhadap khalayak. Kini, entah karena kesadaran dari insan TV sendiri untuk membenahi dirinya atau karena aturan yang harus berjalan (seperti yang ditetapkan KPI), kualitas acara TV kita harapkan membaik.
Meningkatnya kualitas acara TV akan berdampak secara sosial bagi banyak orang, karena TV adalah media yang amat dekat bagi kehidupan sebagian besar anggota masyarakat. Semoga, media ini makin banyak membawa maslahat, dan bukannya mudarat, bagi banyak orang.
v KIDIA Mengembangkan Sikap Kritis pada Media
Aneka tayangan di televisi, demikian memprihatinkan. Para orang tua dituntut piawai memilih program yang tepat untuk anak-anak. Kidia berupaya membantu tugas para orang tua dengan memberi informasi seputar tayangan anak. Termasuk bentuk tanggung jawab orang tua pada anak, maka pengetahuan tentang media seharusnya juga dimiliki orang tua. Dengan pengetahuan itu orang tua akan bisa memilih acara yang layak untuk anak dan mampu bersikap kritis terhadap media. Ke depannya sikap kritis ini diharapkan menular pada anak, sehingga mereka mampu melindungi diri sendiri dari pengaruh negatif media. Maka, Kritisi Media untuk Anak (Kidia) benar-benar dibentuk untuk menumbuhkan sikap kritis tersebut.
Banyak tayangan ini pun sejak kemunculannya pertama sudah mengundang protes dari banyak pihak. Penyebabnya, acara itu sering menampilkan kekerasan secara eksplisit lengkap dengan darah dan kata~kata kasar. Luka, darah, dan tubuh korban yang teraniaya sering ditampilkan dengan pengambilan karmera close up. Belum lagi, seringkali adegan rekonstruksi kejahatan ditampilkan kamera secara apa adanya. Ini misalnya bermasalah untuk perkara-perkara asusila. Misalnya, dalam kasus perkosaan ditayangkan tentang cara-cara perkosaan itu dilakukan. Jika korban adalah anak, maka model yang digunakan pun adalah model anak. Kini, berbagai stasiun melakukan pembenahan dengan menghindari adegan-adegan sadis, vulgar, dan dramatis dalam tayangan kriminal mereka. Ini sesuatu yang tentu saja menggembirakan.
Pedoman Perilaku Penyiaran itu menurut UU Penyiaran sekurang-kurangnya berkaitan dengan hal-hal berikut: Rasa hormat terhadap pandangan keagamaan; rasa hormat terhadap hal pribadi; kesopanan dan kesusilaan; pembatasan adegan seks, kekerasan, dan sadisme; perlindungan terhadap anak-anak, remaja, dan perempuan; penggolongan program dilakukan menurut usia khalayak; penyiaran program dalam bahasa asing; ketepatan dan kenetralan program berita; siaran langsung; dan siaran ulang. Dasar penetapan Pedoman dan Standar tersebut adalah melindungi kepentingan publik.
Pedoman Perilaku Penyiaran yang dibuat KPI ini wajib ditaati oleh sernua lembaga penyiaran di Indonesia. Bagi kemaslahatan masyarakat, ini sesuatu yang luar biasa mengingat selama ini TV dan radio berjalan bebas tanpa aturan. Karena kedua media penyiaran ini amat besar pengaruhnya bagi masyarakat, isi siaran yang selama ini secara semena-mena ditentukan oleh pihak stasiun dan itu umumnya hanya didasarkan pada keuntungan semata. Banyak yang bermasalah karena muatannya buruk. Di antara kedua media, TV menjadi jauh lebih kontroversial dibanding radio.
Kini KPI hadir dan mengatur itu semua. Lembaga ini menetapkan, Standar dan Pedoman, mengawasi pelaksanaannya, dan berhak memberikan sanksi terhadap pelanggaran tersebut. Sanksi terentang dari tahap-tahap yang ringan hingga terberat sebagai berikut: teguran tertulis, penghentian sementara mata acara yang bermasalah, denda administratif, pembekuan kegiatan siaran lembaga penyiaran untuk waktu tertentu, penolakan untuk perpanjangan izin, hingga pencabutan izin penyelenggaran penyiaran.
Nantinya, KPI wajib menerima aduan dari setiap pihak yang menilai telah berlangsung pelanggaran terhadap Pedoman. Lembaga ini wajib menindaklanjuti aduan tersebut. KPI wajib memberikan hak jawab tentang aduan tersebut pada lembaga penyiaran yang bersangkutan, sebelum KPI memberikan evaluasi akhir terhadap aduan itu.
Apa yang terjadi di dunia pertelevisian ini sungguh membuat kita berharap banyak tentang munculnya wajah TV yang lebih ramah di negara kita. Selama ini acara-acara TV banyak yang buruk, yang potensial membawa efek negatif terhadap khalayak. Kini, entah karena kesadaran dari insan TV sendiri untuk membenahi dirinya atau karena aturan yang harus berjalan (seperti yang ditetapkan KPI), kualitas acara TV kita harapkan membaik.
Meningkatnya kualitas acara TV akan berdampak secara sosial bagi banyak orang, karena TV adalah media yang amat dekat bagi kehidupan sebagian besar anggota masyarakat. Semoga, media ini makin banyak membawa maslahat, dan bukannya mudarat, bagi banyak orang.
v KIDIA Mengembangkan Sikap Kritis pada Media
Aneka tayangan di televisi, demikian memprihatinkan. Para orang tua dituntut piawai memilih program yang tepat untuk anak-anak. Kidia berupaya membantu tugas para orang tua dengan memberi informasi seputar tayangan anak. Termasuk bentuk tanggung jawab orang tua pada anak, maka pengetahuan tentang media seharusnya juga dimiliki orang tua. Dengan pengetahuan itu orang tua akan bisa memilih acara yang layak untuk anak dan mampu bersikap kritis terhadap media. Ke depannya sikap kritis ini diharapkan menular pada anak, sehingga mereka mampu melindungi diri sendiri dari pengaruh negatif media. Maka, Kritisi Media untuk Anak (Kidia) benar-benar dibentuk untuk menumbuhkan sikap kritis tersebut.
Pengaruh Menonton TV pada Jiwa Anak
Pengaruh Menonton TV pada Jiwa Anak
Seringkali anak-anak ketika ada kesempatan mengobrol tentang hantu. Ternyata, obrolan itu datang karena mereka menonton serial Ghost Stories yang ditayangkan Metro TV. Saya menghela nafas. Itu acara TV yang terlarang di rumah saya. Saya segera teringat dengan buku-buku teks ilmu komunikasi yang saya pelajari. Di dalam buku-buku itu dituliskan betapa makin lama anak-anak kita makin terbiasa dengan media sejak usia dini. Anak-anak kita besar dengan media. Media laksana babysitter bagi mereka. Sayangnya, kualitas babysitter ini kebanyakan buruk.
Saya juga teringat dengan buku After the Death of Childhood Sesuai dengan judulnya, buku bagus ini bercerita tentang matinya masa kanak-kanak, antara lain akiibat kehadiran media. Mengapa demikian? Media massa mengenakan anak-anak pada kehidupan dewasa. Itulah yang membuat anak-anak tercerabut dari masa kanak-kanak yang seharusnya harus dinikmati mereka. Sejak kecil anak sudah mengenal banyak hal dari aspek kehidupan orang dewasa, sehingga ia terperangkap dalam kedewasaan baik secara fisik, psikologis, ataupun sosial. Anak-anak tahu hubungan laki-perempuan, seks, kekerasan, dan perilaku-perilaku anti-sosial sejak mereka masih sangat kecil. Dari mana? Dari media tentu. Padahal, anak-anak belum siap untuk itu.
Lihatlah film kartun anak-anak. Isinya banyak yang terkait dengan hubungan laki-perempuan dan seks. Popeye, Crayon, Sinchan, dan Sailor Moon adalah beberapa di antaranya. Kemudian, Man TV. Mari Lihat Irex, Promag, Rapet Wangi, atau pompa air Simitzu. Semuanya menjual seks, padahal Man-man itu bisa saja ditayangkan pada jam tayang keluarga, dan tentu saja anak-anak ikut menontonnya.
Atau lihatlah tabloid-tabloid porno yang dijajakan di pinggir jalan. Anak-anak setiap saat dapat melihatnya. Mereka sejak kecil sudah melihat gambar perempuan dewasa nyaris telanjang, dan itu seks. Kemudian, ada pula sinetron, telenovela atau film yang menampilkan hubungan laki-perempuan atau seks secara eksplisit. Sekaligus. dari kisah-kisahnya anak-anak dapat menangkap cerita tentang penyelewengan, perceraian, dan krisis hubungan laki-perempuan lainnya. Ada pula videoklip yang menjual seks. Ada perempuan-perempuan nyaris telanjang di sana yang menari dan bergoyang sensual. Belum lagi, syair yang dinyanyikan yang kadangkala mengandung muatan seks pula.
Kemudian, mereka juga belajar kekerasan dari media melalui film kartun, film dewasa, dan sinetron. Dari sini kadang-kadang anak belajar bahwa kekerasan adalah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga mengenal horor sejak mereka sangat kecil. Kemungkinan karena di rumah para orang dewasa menonton acara TV Ghost Stories atau serial yang menampilkan Mak Lampir. Sekaligus, dengan menonton acara-acara demikian, anak-anak berkenalan dengan dunia klenik. Daftar ini akan bertambah panjang jika kita juga berbicara tentang profanity, kata-kata vulgar, kasar, dan tidak sopan yang sering jadi langgam bicara para tokoh yang tampil di sinetron atau film.
Bahkan, menyedihkan sekali, kalau toh anak-anak kita jejali dengan hanya materi TV berlabel "acara anak-anak," mereka juga tidak dapat bebas dari virus yang buruk itu. Anak-anak yang tampil dalam acara anak-anak banyak yang telah teracuni, tampil bak orang dewasa. Mereka sungguh-sungguh miniatur orang dewasa. Gaya bicara dan penampilan anak-anak itu persis seperti orang dewasa, karena mereka meniru gaya orang dewasa. Contohnya adalah Joshua.
Jadi begitulah potret media kita memang mengkhawatirkan buat anak-anak kita. Karena itu, sedapat mungkin, jauhkan anak kita dari media-media yang potensial membawanya ke arah pengenalan kehidupan orang dewasa. Kalau toh kita dengan selektif mengizinkan anak kita mengkonsumsi media, jangan biarkan dia mengkonsumsinya sendirian. Dampingi anak kita, ajak dia bicara jika ada muatan media yang kita rasakan "terlalu dewasa". Tentu saja anak perlu mengenal kehidupan orang dewasa, tapi itu nanti, pada saat yang tepat.
Seringkali anak-anak ketika ada kesempatan mengobrol tentang hantu. Ternyata, obrolan itu datang karena mereka menonton serial Ghost Stories yang ditayangkan Metro TV. Saya menghela nafas. Itu acara TV yang terlarang di rumah saya. Saya segera teringat dengan buku-buku teks ilmu komunikasi yang saya pelajari. Di dalam buku-buku itu dituliskan betapa makin lama anak-anak kita makin terbiasa dengan media sejak usia dini. Anak-anak kita besar dengan media. Media laksana babysitter bagi mereka. Sayangnya, kualitas babysitter ini kebanyakan buruk.
Saya juga teringat dengan buku After the Death of Childhood Sesuai dengan judulnya, buku bagus ini bercerita tentang matinya masa kanak-kanak, antara lain akiibat kehadiran media. Mengapa demikian? Media massa mengenakan anak-anak pada kehidupan dewasa. Itulah yang membuat anak-anak tercerabut dari masa kanak-kanak yang seharusnya harus dinikmati mereka. Sejak kecil anak sudah mengenal banyak hal dari aspek kehidupan orang dewasa, sehingga ia terperangkap dalam kedewasaan baik secara fisik, psikologis, ataupun sosial. Anak-anak tahu hubungan laki-perempuan, seks, kekerasan, dan perilaku-perilaku anti-sosial sejak mereka masih sangat kecil. Dari mana? Dari media tentu. Padahal, anak-anak belum siap untuk itu.
Lihatlah film kartun anak-anak. Isinya banyak yang terkait dengan hubungan laki-perempuan dan seks. Popeye, Crayon, Sinchan, dan Sailor Moon adalah beberapa di antaranya. Kemudian, Man TV. Mari Lihat Irex, Promag, Rapet Wangi, atau pompa air Simitzu. Semuanya menjual seks, padahal Man-man itu bisa saja ditayangkan pada jam tayang keluarga, dan tentu saja anak-anak ikut menontonnya.
Atau lihatlah tabloid-tabloid porno yang dijajakan di pinggir jalan. Anak-anak setiap saat dapat melihatnya. Mereka sejak kecil sudah melihat gambar perempuan dewasa nyaris telanjang, dan itu seks. Kemudian, ada pula sinetron, telenovela atau film yang menampilkan hubungan laki-perempuan atau seks secara eksplisit. Sekaligus. dari kisah-kisahnya anak-anak dapat menangkap cerita tentang penyelewengan, perceraian, dan krisis hubungan laki-perempuan lainnya. Ada pula videoklip yang menjual seks. Ada perempuan-perempuan nyaris telanjang di sana yang menari dan bergoyang sensual. Belum lagi, syair yang dinyanyikan yang kadangkala mengandung muatan seks pula.
Kemudian, mereka juga belajar kekerasan dari media melalui film kartun, film dewasa, dan sinetron. Dari sini kadang-kadang anak belajar bahwa kekerasan adalah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Mereka juga mengenal horor sejak mereka sangat kecil. Kemungkinan karena di rumah para orang dewasa menonton acara TV Ghost Stories atau serial yang menampilkan Mak Lampir. Sekaligus, dengan menonton acara-acara demikian, anak-anak berkenalan dengan dunia klenik. Daftar ini akan bertambah panjang jika kita juga berbicara tentang profanity, kata-kata vulgar, kasar, dan tidak sopan yang sering jadi langgam bicara para tokoh yang tampil di sinetron atau film.
Bahkan, menyedihkan sekali, kalau toh anak-anak kita jejali dengan hanya materi TV berlabel "acara anak-anak," mereka juga tidak dapat bebas dari virus yang buruk itu. Anak-anak yang tampil dalam acara anak-anak banyak yang telah teracuni, tampil bak orang dewasa. Mereka sungguh-sungguh miniatur orang dewasa. Gaya bicara dan penampilan anak-anak itu persis seperti orang dewasa, karena mereka meniru gaya orang dewasa. Contohnya adalah Joshua.
Jadi begitulah potret media kita memang mengkhawatirkan buat anak-anak kita. Karena itu, sedapat mungkin, jauhkan anak kita dari media-media yang potensial membawanya ke arah pengenalan kehidupan orang dewasa. Kalau toh kita dengan selektif mengizinkan anak kita mengkonsumsi media, jangan biarkan dia mengkonsumsinya sendirian. Dampingi anak kita, ajak dia bicara jika ada muatan media yang kita rasakan "terlalu dewasa". Tentu saja anak perlu mengenal kehidupan orang dewasa, tapi itu nanti, pada saat yang tepat.
Film Klasik untuk Anak
Film Klasik dan Musik
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Film Klasik untuk Anak
Film Klasik dan Musik
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Film Pendidikan
Film Pendidikan
Film yang juga bagus bagi anak adalah film-film yang memang diposisikan sebagai educational film (film pendidikan). Yang masuk kategori ini misailnya serial Percy the Park Keeper (Percy si Penjaga Taman) atau serial Little Bear (Beruang Kecil). Keduanya adalah film animasi berupa kisah fabel (kisah kehidupan binatang). Keunggulan film ini, selain ceritanya membawa nilai-nilai positif bagi anak, juga mampu mengasah rasa estetika anak. Film-film ini menampilkan gambar-gambar indah yang amat halus dan berpotensi menggugah imajinasi anak. Apalagi, dari film-film semacam itu anak dapat pula belajar bahasa Inggris. Film-film demikian umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang berbicara bahasa Inggris dengan artikulasi yang jelas dan bahasa sederhana.
Film pendidikan lainnya adalah serial Rahasia Hidup di antara Kita. Film ini sudah diindonesiakan dan didistribusikan secara baik. Hampir setiap toko VCD besar menjualnya. Film berbentuk animasi ini juga mengangkat kehidupan hewan. Para hewan berkisah tentang macam-macam hal menyangkut alam, flora-fauna, dan kehidupan. Lalu, berbagai hal itu akan dijelaskan secara ilmiah dengan bahasa sederhana oleh seorang profesor berbentuk kura-kura.
Inti serial ini adalah: sains itu menyenangkan. Menontonnya akan membuat anak-anak menimba ilmu sekaligus terhibur. Tingkah hewan-hewan tokoh film inii lucu dan kadang konyol. Anak-anak bisa terbahak melihat kekonyolan mereka.
Film yang juga bagus bagi anak adalah film-film yang memang diposisikan sebagai educational film (film pendidikan). Yang masuk kategori ini misailnya serial Percy the Park Keeper (Percy si Penjaga Taman) atau serial Little Bear (Beruang Kecil). Keduanya adalah film animasi berupa kisah fabel (kisah kehidupan binatang). Keunggulan film ini, selain ceritanya membawa nilai-nilai positif bagi anak, juga mampu mengasah rasa estetika anak. Film-film ini menampilkan gambar-gambar indah yang amat halus dan berpotensi menggugah imajinasi anak. Apalagi, dari film-film semacam itu anak dapat pula belajar bahasa Inggris. Film-film demikian umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang berbicara bahasa Inggris dengan artikulasi yang jelas dan bahasa sederhana.
Film pendidikan lainnya adalah serial Rahasia Hidup di antara Kita. Film ini sudah diindonesiakan dan didistribusikan secara baik. Hampir setiap toko VCD besar menjualnya. Film berbentuk animasi ini juga mengangkat kehidupan hewan. Para hewan berkisah tentang macam-macam hal menyangkut alam, flora-fauna, dan kehidupan. Lalu, berbagai hal itu akan dijelaskan secara ilmiah dengan bahasa sederhana oleh seorang profesor berbentuk kura-kura.
Inti serial ini adalah: sains itu menyenangkan. Menontonnya akan membuat anak-anak menimba ilmu sekaligus terhibur. Tingkah hewan-hewan tokoh film inii lucu dan kadang konyol. Anak-anak bisa terbahak melihat kekonyolan mereka.
Yang Bagus Bukan Hanya Film Amerika
Yang Bagus Bukan Hanya Film Amerika
Anak-anak kita umumnya sangat terbiasa dengan film-film produksi Amerika. Padahal, banyak film bagus yang bukan datang dari Amerika. Misalnya saja, film Iran. Dua contoh film Iran bagi anak-anak adalah Children of Heaven dan Color of Paradise. Film yang disebut pertama cukup populer ketika diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Film kedua sayangnya belum pernah diputar di bioskop. Kedua film ini dibuat oleh sutradara yang sama, Majid Majidi. Kelebihan sutradara ini adalah kernampuannya mengangkat tema sederhana menjadi indah dan bermakna. Keduanya juga mengangkat sebuah realitas kehidupan yang tak terasa mengada-ada. Children of Heaven adalah film yang masuk nominasi Oscar. Adapun Color of Paradise tercatat menang pada beberapa festival internasional.
Satu manfaat lain yang akan diperoleh anak saat menonton film Iran adalah kesempatan baginya untuk mengamati sebuah budaya lain. Film-film Iran, karena mengangkat realita, juga mengangkat budaya setempat yang pastilah menank bagi anak. Anak akan mempelajan budaya baru yang berbeda dengan mainstream budaya yang sering dilihatnya melalui media film, yakni budaya Barat (Amerika) dan Jepang.
Namun, di tengah film Jepang yang menyerbu anak, ada sebuah film yang patut mendapat perhatian. Spirited Away judulnya. Ini memang sebuah film animasi, tetapi sungguh sebuah film kartun Jepang yang lain daripada yang lain. Film ini banyak dipuji dan memenangkan penghargaan pada beberapa festival film internasional. Film animasi ini sangat halus dan indah. Pembuatnya adalah Hayao Miyazaki, sutradara film dan komikus terkenal lepang. Ia dikenal selalu membuat film yang membawa pesan moral bagi penontonnya. Film ini menggugah permenungan. Orang dewasa pun berpikir menontonnya. Tetapi, pada saat yang sama, film ini tidak berat dan menontonnya tidak membuat kening berkerut. Penontonnya bisa sangat terhibur, sedangkan anak-anak dapat menikmatinya dengan asyik.
Anak-anak kita umumnya sangat terbiasa dengan film-film produksi Amerika. Padahal, banyak film bagus yang bukan datang dari Amerika. Misalnya saja, film Iran. Dua contoh film Iran bagi anak-anak adalah Children of Heaven dan Color of Paradise. Film yang disebut pertama cukup populer ketika diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Film kedua sayangnya belum pernah diputar di bioskop. Kedua film ini dibuat oleh sutradara yang sama, Majid Majidi. Kelebihan sutradara ini adalah kernampuannya mengangkat tema sederhana menjadi indah dan bermakna. Keduanya juga mengangkat sebuah realitas kehidupan yang tak terasa mengada-ada. Children of Heaven adalah film yang masuk nominasi Oscar. Adapun Color of Paradise tercatat menang pada beberapa festival internasional.
Satu manfaat lain yang akan diperoleh anak saat menonton film Iran adalah kesempatan baginya untuk mengamati sebuah budaya lain. Film-film Iran, karena mengangkat realita, juga mengangkat budaya setempat yang pastilah menank bagi anak. Anak akan mempelajan budaya baru yang berbeda dengan mainstream budaya yang sering dilihatnya melalui media film, yakni budaya Barat (Amerika) dan Jepang.
Namun, di tengah film Jepang yang menyerbu anak, ada sebuah film yang patut mendapat perhatian. Spirited Away judulnya. Ini memang sebuah film animasi, tetapi sungguh sebuah film kartun Jepang yang lain daripada yang lain. Film ini banyak dipuji dan memenangkan penghargaan pada beberapa festival film internasional. Film animasi ini sangat halus dan indah. Pembuatnya adalah Hayao Miyazaki, sutradara film dan komikus terkenal lepang. Ia dikenal selalu membuat film yang membawa pesan moral bagi penontonnya. Film ini menggugah permenungan. Orang dewasa pun berpikir menontonnya. Tetapi, pada saat yang sama, film ini tidak berat dan menontonnya tidak membuat kening berkerut. Penontonnya bisa sangat terhibur, sedangkan anak-anak dapat menikmatinya dengan asyik.
Tayangan TV Buruk Berakibat Buruk
Tayangan TV Buruk Berakibat Buruk
Elly Risman, Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dari berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dari tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, "Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk," tegas Elly.
Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak-anak belum bisa membedakan antara akting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orang tua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orang tua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV.
Elly Risman, Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dari berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dari tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, "Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk," tegas Elly.
Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak-anak belum bisa membedakan antara akting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orang tua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orang tua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV.
Film Anak Berbobot
Film Anak Berbobot
Kalau Anda ingin mengenalkan film-film bermutu pada anak Anda, apa boleh buat, Anda harus punya waktu, dana, dan kemauan untuk mencari sendiri film-film tersebut di toko-toko yang menjual VCD. Anda tak bisa mengandalkan tempat-tempat penyewaan VCD, karena kebanyakan film yang bagus bagi anak tak tersedia di sana.
Film-film bermutu itu harus dicari. Saya tulis dengan huruf miring di sini, karena memang film-film demikian membutuhkan usaha ekstra untuk ditemukan. Yang saya maksudkan film bermutu adalah film-film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sehat bagi anak. Itu adalah jenis film yang membawa nilai-nilai positif, mengajarkan sesuatu, dan mengembangkan imajinasi anak. Film-film demikian juga sangat berpotensi mengisi kehidupan batin anak. Ia bisa jadi menciptakan perenungan.
Film-film bagus tak banyak tersedia di rental-rental VCD yang menjamur. Di sana umumnya hanya tersedia film-film populer semacam petualangan Mickey Mouse, Donald Duck, atau Popeye, kisah-kisah superhero seperti Powers Rangers atau Star Rangers, dan film-film animasi Jepang seperti Dora Emon, Crayon Shinchan, dan Let & Go dan sebagainya.
v Bukan Mainstream
Anak-anak kita umumnya sangat terbiasa dengan film-film produksi Amerika. Padahal, banyak film bagus yang bukan datang dari Amerika. Misalnya saja, film Iran. Dua contoh film Iran bagi anak-anak adalah Children of Heaven dan Color of Paradise. Film yang disebut pertama cukup populer ketika diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Film kedua sayangnya belum pernah diputar di bioskop. Kedua film ini dibuat oleh sutradara yang sama, Majid Majidi. Kelebihan sutradara ini adalah kernampuannya mengangkat tema sederhana menjadi indah dan bermakna. Keduanya juga mengangkat sebuah realitas kehidupan yang tak terasa mengada-ada. Children of Heaven adalah film yang masuk nominasi Oscar. Adapun Color of Paradise tercatat menang pada beberapa festival internasional.
Satu manfaat lain yang akan diperoleh anak saat menonton film Iran adalah kesempatan baginya untuk mengamati sebuah budaya lain. Film-film Iran, karena mengangkat realita, juga mengangkat budaya setempat yang pastilah menank bagi anak. Anak akan mempelajan budaya baru yang berbeda dengan mainstream budaya yang sering dilihatnya melalui media film, yakni budaya Barat (Amerika) dan Jepang.
Namun, di tengah film Jepang yang menyerbu anak, ada sebuah film yang patut mendapat perhatian. Spirited Away judulnya. Ini memang sebuah film animasi, tetapi sungguh sebuah film kartun Jepang yang lain daripada yang lain. Film ini banyak dipuji dan memenangkan penghargaan pada beberapa festival film internasional. Film animasi ini sangat halus dan indah. Pembuatnya adalah Hayao Miyazaki, sutradara film dan komikus terkenal lepang. Ia dikenal selalu membuat film yang membawa pesan moral bagi penontonnya. Film ini menggugah permenungan. Orang dewasa pun berpikir menontonnya. Tetapi, pada saat yang sama, film ini tidak berat dan menontonnya tidak membuat kening berkerut. Penontonnya bisa sangat terhibur, sedangkan anak-anak dapat menikmatinya dengan asyik.
v Film Pendidikan
Film yang juga bagus bagi anak adalah film-film yang memang diposisikan sebagai educational film (film pendidikan). Yang masuk kategori ini misailnya serial Percy the Park Keeper (Percy si Penjaga Taman) atau serial Little Bear (Beruang Kecil). Keduanya adalah film animasi berupa kisah fabel (kisah kehidupan binatang). Keunggulan film ini, selain ceritanya membawa nilai-nilai positif bagi anak, juga mampu mengasah rasa estetika anak. Film-film ini menampilkan gambar-gambar indah yang amat halus dan berpotensi menggugah imajinasi anak. Apalagi, dari film-film semacam itu anak dapat pula belajar bahasa Inggris. Film-film demikian umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang berbicara bahasa Inggris dengan artikulasi yang jelas dan bahasa sederhana.
Film pendidikan lainnya adalah serial Rahasia Hidup di antara Kita. Film ini sudah diindonesiakan dan didistribusikan secara baik. Hampir setiap toko VCD besar menjualnya. Film berbentuk animasi ini juga mengangkat kehidupan hewan. Para hewan berkisah tentang macam-macam hal menyangkut alam, flora-fauna, dan kehidupan. Lalu, berbagai hal itu akan dijelaskan secara ilmiah dengan bahasa sederhana oleh seorang profesor berbentuk kura-kura.
Inti serial ini adalah: sains itu menyenangkan. Menontonnya akan membuat anak-anak menimba ilmu sekaligus terhibur. Tingkah hewan-hewan tokoh film inii lucu dan kadang konyol. Anak-anak bisa terbahak melihat kekonyolan mereka.
v Film Klasik dan Musik
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Kalau Anda ingin mengenalkan film-film bermutu pada anak Anda, apa boleh buat, Anda harus punya waktu, dana, dan kemauan untuk mencari sendiri film-film tersebut di toko-toko yang menjual VCD. Anda tak bisa mengandalkan tempat-tempat penyewaan VCD, karena kebanyakan film yang bagus bagi anak tak tersedia di sana.
Film-film bermutu itu harus dicari. Saya tulis dengan huruf miring di sini, karena memang film-film demikian membutuhkan usaha ekstra untuk ditemukan. Yang saya maksudkan film bermutu adalah film-film yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sehat bagi anak. Itu adalah jenis film yang membawa nilai-nilai positif, mengajarkan sesuatu, dan mengembangkan imajinasi anak. Film-film demikian juga sangat berpotensi mengisi kehidupan batin anak. Ia bisa jadi menciptakan perenungan.
Film-film bagus tak banyak tersedia di rental-rental VCD yang menjamur. Di sana umumnya hanya tersedia film-film populer semacam petualangan Mickey Mouse, Donald Duck, atau Popeye, kisah-kisah superhero seperti Powers Rangers atau Star Rangers, dan film-film animasi Jepang seperti Dora Emon, Crayon Shinchan, dan Let & Go dan sebagainya.
v Bukan Mainstream
Anak-anak kita umumnya sangat terbiasa dengan film-film produksi Amerika. Padahal, banyak film bagus yang bukan datang dari Amerika. Misalnya saja, film Iran. Dua contoh film Iran bagi anak-anak adalah Children of Heaven dan Color of Paradise. Film yang disebut pertama cukup populer ketika diputar di bioskop-bioskop Indonesia. Film kedua sayangnya belum pernah diputar di bioskop. Kedua film ini dibuat oleh sutradara yang sama, Majid Majidi. Kelebihan sutradara ini adalah kernampuannya mengangkat tema sederhana menjadi indah dan bermakna. Keduanya juga mengangkat sebuah realitas kehidupan yang tak terasa mengada-ada. Children of Heaven adalah film yang masuk nominasi Oscar. Adapun Color of Paradise tercatat menang pada beberapa festival internasional.
Satu manfaat lain yang akan diperoleh anak saat menonton film Iran adalah kesempatan baginya untuk mengamati sebuah budaya lain. Film-film Iran, karena mengangkat realita, juga mengangkat budaya setempat yang pastilah menank bagi anak. Anak akan mempelajan budaya baru yang berbeda dengan mainstream budaya yang sering dilihatnya melalui media film, yakni budaya Barat (Amerika) dan Jepang.
Namun, di tengah film Jepang yang menyerbu anak, ada sebuah film yang patut mendapat perhatian. Spirited Away judulnya. Ini memang sebuah film animasi, tetapi sungguh sebuah film kartun Jepang yang lain daripada yang lain. Film ini banyak dipuji dan memenangkan penghargaan pada beberapa festival film internasional. Film animasi ini sangat halus dan indah. Pembuatnya adalah Hayao Miyazaki, sutradara film dan komikus terkenal lepang. Ia dikenal selalu membuat film yang membawa pesan moral bagi penontonnya. Film ini menggugah permenungan. Orang dewasa pun berpikir menontonnya. Tetapi, pada saat yang sama, film ini tidak berat dan menontonnya tidak membuat kening berkerut. Penontonnya bisa sangat terhibur, sedangkan anak-anak dapat menikmatinya dengan asyik.
v Film Pendidikan
Film yang juga bagus bagi anak adalah film-film yang memang diposisikan sebagai educational film (film pendidikan). Yang masuk kategori ini misailnya serial Percy the Park Keeper (Percy si Penjaga Taman) atau serial Little Bear (Beruang Kecil). Keduanya adalah film animasi berupa kisah fabel (kisah kehidupan binatang). Keunggulan film ini, selain ceritanya membawa nilai-nilai positif bagi anak, juga mampu mengasah rasa estetika anak. Film-film ini menampilkan gambar-gambar indah yang amat halus dan berpotensi menggugah imajinasi anak. Apalagi, dari film-film semacam itu anak dapat pula belajar bahasa Inggris. Film-film demikian umumnya menampilkan tokoh-tokoh yang berbicara bahasa Inggris dengan artikulasi yang jelas dan bahasa sederhana.
Film pendidikan lainnya adalah serial Rahasia Hidup di antara Kita. Film ini sudah diindonesiakan dan didistribusikan secara baik. Hampir setiap toko VCD besar menjualnya. Film berbentuk animasi ini juga mengangkat kehidupan hewan. Para hewan berkisah tentang macam-macam hal menyangkut alam, flora-fauna, dan kehidupan. Lalu, berbagai hal itu akan dijelaskan secara ilmiah dengan bahasa sederhana oleh seorang profesor berbentuk kura-kura.
Inti serial ini adalah: sains itu menyenangkan. Menontonnya akan membuat anak-anak menimba ilmu sekaligus terhibur. Tingkah hewan-hewan tokoh film inii lucu dan kadang konyol. Anak-anak bisa terbahak melihat kekonyolan mereka.
v Film Klasik dan Musik
Sebuah jenis film lain yang juga sangat baik untuk meningkatkan kemampuan apresiasi anak terhadap film adalah film-fifm klasik anak. Misalnya saja The Wizardof Oz. Film tahun 1950-an ini sangat terkenal dan pada masanya termasuk film yang sangat maju dalam hal penggunaan special effect. Tetapi tentu saja, dibandingkan masa sekarang, film ini terasa kuno. Tetapi jangan dikira anak-anak tak bisa menikmatinya. Mayoritas anakjustru tampak sangat terhibur menontonnya!
Wizardof Oz bercerita tentang gadis kecil Dorothy dan mimpinya. Film ini menjadi seru karena ada tukang sihir jahat yang dilawan oleh Dorothy dan sahabat-sahabatnya. Film ini menawarkan nilai-nilai persahabatan, keteguhan hati, keberanian, dan-tentu saja kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Film lainnya adalah Mary Poppins. Film ini dibuat tahun 1960-an. Mary Poppins adalah nama pengasuh anak yang unik. Berbeda dengan kebanyakan pengasuh anak lainnya, dia ini orangnya asyik. Ia sangat memahami anak-anak. Ia juga digambarkan memiliki kemampuan ajaib. Mary Poppins adalah film musikal. Film demikian, selain menghibur dan mengajarkan nilai-nilai positif, juga mengasah rasa musik anak.
Film anak musikal lainnya adalah Annie dan Oliver. Keduanya adalah film modern. Kebetulan, keduanya mengangkat tema yang sama, yakni kehidupan anak yatim piatu yang hidupnya merana tetapi berakhir dengan bahagia.
Film-film bagus yang saya paparkan di atas akan menjadi lebih bermakna untuk anak jika pada saat menontonnya anak didampingi oleh orang dewasa. Pendampingan dibutuhkan untuk menuntun anak memahami isi cerita. Ini makin dibutuhkan jika anak-anak masih kecil dan belum dapat membaca teks terjemahan. Pada film Iran bahkan teks terjemahannya berbahasa Inggris, sehingga pendampingan bagi kebanyakan anak adalah suatu kebutuhan penting.
Pendampingan juga diperlukan karena memberikan kesempatan bagi orang dewasa untuk mendiskusikan sesuatu topik yang bagus dengan anak. Misalnya saja, dari Color of Paradise, kita dapat berdiskusi dengan anak tentang orang cacat, dari Annie dan Oliver tentang anak yatim piatu, dan dari The Wizard of One tentang tukang sihir dan mimpi.
Mendampingi film-film bagus dengan anak juga memberikan manfaat lain. Pendampingan akan memberikan kesempatan untuk mendekatkan secara emosional hubungan orang tua-anak. Selain itu, film bermutu membuat anak bisa terhibur, juga puas di hati orang tua.
Dampak Negatif Menonton TV
Dampak Negatif Menonton TV
Satu yang bisa dilakukan orang tua untuk meminimalisasi efek buruk tayangan TV adalah dengan melakukan pembatasan TV. Sebagaimana diet makan, pada diet TV juga diatur jumlah dan jenis tayangan yang boleh dikonsumsi keluarga. Aturan ini perlu ditegaskan orang tua secara konsisten. Misalnya, orang tua menetapkan waktu setengah jam sehari untuk nonton TV. Maka, jangan tergoda untuk membiarkan anak melewati batas waktu menonton ini.
Lantas, bagi anak yang sudah berusia 7 tahun, bisa diajak berdiskusi soal dampak buruk bila banyak menonton TV. Apa yang terjadi pada otot matanya, tulang punggungnya, otaknya, waktu bermain, belajarnya, dan seterusnya. Sementara, bila usia anak di bawah tujuh tahun, orang tua dapat mengalihkan kegiatan anak ke arah kegiatan yang lebih positif, seperti memberikan mainan atau mengajak anak melakukan aktivitas asyi.k lainnya.
Tentu saja orang tua perlu berkorban untuk sedikit jadi "repot" dalam mengeksplorasi berbagai cara dan kegiatan yang menarik. Namun, banyak cara bisa dilakukan orang tua, mencari lewat buku, browsing di internet, sharing dengan orang tua lain atau memilih ikut pelatihan.
Lewat yayasan yang dipimpinnya, Kita dan Buah Hati, Elly menawarkan pelatihan bermain bermakna. Pelatihan tersebut mengarahkan orang tua untuk menganalis cara kerja otak anak. Ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan, seperti bermain dengan barang bekas, dengan aft, batu, daun den sebagainya. Atau, dengan mengajarkan anak berbagai ketrampilan, seperti menyulam, menjahit, merangkai bunga, atau kegiatan olahraga. Dengan aneka kegiatan tersebut, anak-anak bisa memiliki alternatif lain selain nonton TV.
Selain membatasi waktu nonton, orang tua juga perlu mengetahui jenis tayangan yang ada. Untuk membantu orang tua dalam melakukan kategori tayangan anak kini sudah ada media watch khusus yang mengamati soal tayangan bagi anak, seperti yang diterbitken KIDIA. Dengan berlangganan media KIDIA ini misalnya, orang tua dapat menilai apakah satu tayangan masuk kategori amen, hati-hati ataukah berbahaya.
Aturan dalam diet TV tentu harus selalu dievaluasi den sosialisasikan ulang kepada seluruh anggota keluarga. Jangan cepat putusasa dan ingat bahwa kata kuncinya terletak pada konsistensi. Di atas semua itu, ingatlah bahwa diet TV bukan hanya berlaku kepada anak, tapi juga berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Jadi, bakal susah omong soal diet TV bagi anak bila orang tua sendiri nyandu nonton gosip den telenovela.
Paling ringan adalah bagaimana anak-anak terkondisikan bersahaja dalam menonton TV, tidak terlalu lama, juga tidak terlalu sedikit. Tidak terlalu sering, juga tidak terlalu jarang. Ini yang mungkin dapat kita sepakati bersama. Hal ini jika saja menonton TV sudah ada kesepakatan kemubahannya.
Kemudian Kitab (Al-Qur’an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (QS. Fathir: 32)
Satu yang bisa dilakukan orang tua untuk meminimalisasi efek buruk tayangan TV adalah dengan melakukan pembatasan TV. Sebagaimana diet makan, pada diet TV juga diatur jumlah dan jenis tayangan yang boleh dikonsumsi keluarga. Aturan ini perlu ditegaskan orang tua secara konsisten. Misalnya, orang tua menetapkan waktu setengah jam sehari untuk nonton TV. Maka, jangan tergoda untuk membiarkan anak melewati batas waktu menonton ini.
Lantas, bagi anak yang sudah berusia 7 tahun, bisa diajak berdiskusi soal dampak buruk bila banyak menonton TV. Apa yang terjadi pada otot matanya, tulang punggungnya, otaknya, waktu bermain, belajarnya, dan seterusnya. Sementara, bila usia anak di bawah tujuh tahun, orang tua dapat mengalihkan kegiatan anak ke arah kegiatan yang lebih positif, seperti memberikan mainan atau mengajak anak melakukan aktivitas asyi.k lainnya.
Tentu saja orang tua perlu berkorban untuk sedikit jadi "repot" dalam mengeksplorasi berbagai cara dan kegiatan yang menarik. Namun, banyak cara bisa dilakukan orang tua, mencari lewat buku, browsing di internet, sharing dengan orang tua lain atau memilih ikut pelatihan.
Lewat yayasan yang dipimpinnya, Kita dan Buah Hati, Elly menawarkan pelatihan bermain bermakna. Pelatihan tersebut mengarahkan orang tua untuk menganalis cara kerja otak anak. Ada berbagai macam kegiatan yang bisa dilakukan, seperti bermain dengan barang bekas, dengan aft, batu, daun den sebagainya. Atau, dengan mengajarkan anak berbagai ketrampilan, seperti menyulam, menjahit, merangkai bunga, atau kegiatan olahraga. Dengan aneka kegiatan tersebut, anak-anak bisa memiliki alternatif lain selain nonton TV.
Selain membatasi waktu nonton, orang tua juga perlu mengetahui jenis tayangan yang ada. Untuk membantu orang tua dalam melakukan kategori tayangan anak kini sudah ada media watch khusus yang mengamati soal tayangan bagi anak, seperti yang diterbitken KIDIA. Dengan berlangganan media KIDIA ini misalnya, orang tua dapat menilai apakah satu tayangan masuk kategori amen, hati-hati ataukah berbahaya.
Aturan dalam diet TV tentu harus selalu dievaluasi den sosialisasikan ulang kepada seluruh anggota keluarga. Jangan cepat putusasa dan ingat bahwa kata kuncinya terletak pada konsistensi. Di atas semua itu, ingatlah bahwa diet TV bukan hanya berlaku kepada anak, tapi juga berlaku untuk seluruh anggota keluarga. Jadi, bakal susah omong soal diet TV bagi anak bila orang tua sendiri nyandu nonton gosip den telenovela.
Paling ringan adalah bagaimana anak-anak terkondisikan bersahaja dalam menonton TV, tidak terlalu lama, juga tidak terlalu sedikit. Tidak terlalu sering, juga tidak terlalu jarang. Ini yang mungkin dapat kita sepakati bersama. Hal ini jika saja menonton TV sudah ada kesepakatan kemubahannya.
Kemudian Kitab (Al-Qur’an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar (QS. Fathir: 32)
Puasa dan Diet Nonton TV
Puasa dan Diet Nonton TV
Tak cuma asupan makanan yang perlu ditata agar kesehatan tubuh jadi prima. Asupan TV yang mernenuhi pikiran dan hati keluarga pun perlu ditata agar serapannya tidak mubazir dan merusak kesehatan mental ruhani.
Heru, seorang karyawan swasta, punya 'kejutan' untuk keluarga di akhir pekan. Dengan diam-diam ia merancang rencana liburan dua hari ke Puncak, Bogor, yang tentu sangat menyenangkan. Tapi Arman jadi terkejut ketika mendapat penolakan spontan dari anak-anak. Ironisnya, alasan Fikri (8) dan Zidan (6) terdengar "sepele" sekali. "Nggak mau, nanti aku nggak bisa nonton..." Terang saja Arman jadi kecewa sekaligus gemas dibuatnya. Arman lantas tersadarkan bahwa selama ini ia dan istrinya terlampau membebaskan anak-anak menikmati TV. Mereka lantas mulai berpikir, "Ah, bagaimana cara mengatasinya ya?"
v Tayangan Buruk Berakibat Buruk
Elly Risman, Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dari berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dari tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, "Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk," tegas Elly.
Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak-anak belum bisa membedakan antara akting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orang tua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orang tua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV.
v Fisik dan Mental Jadi Terganggu
Secara fisik, terlalu banyak menonton TV juga akan mengganggu gerakan otot mata anak. Mata terbiasa melihat lurus dan tidak bergerak-gerak seperti saat membaca buku. 'Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan membaca karena gangguan otot matanya," tutur psikolog yang sangat konsisten memperjuangkan UU anti pornografi dan pornoaksi ini.
Selain mengganggu otot mata, menonton juga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu karena anak cenderung pasif, tidak banyak bergerak. Karena itu, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV punya kecenderungan mengalami kegemukan (obesitas).
Dari sisi kejiwaan, tayangan yang ditonton anak bisa mendorong anak menjadi konsumtif. Lihat saja betapa laku kerasnya produk teletubbies, pokemon, spongebob, dan produk pendukung lain seiring dengan tingginya rating tayangan tersebut. Anak yang senang pada satu tayangan, jadi tertarik memiliki produk tokoh tayangan atau bahkan segala produk yang diiklankan oleh tokoh favorit mereka.
Belum lagi kalau bicara saat tindak kekerasan yang banyak diumbar di berbagai tayangan anak. Kekerasan yang diumbar ini, seperti memukul, menjambak, menghantam, atau mencekik tak selalu dilakukan si tokoh jahat, namun juga oleh tokoh 'baik'. Tak heran bila berbagai penelitian lain lantas menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak menonton TV cenderung lebih agresif dibandingkan dengan anak-anak yang jarang menonton TV. Ini belum termasuk banyaknya kalimat-kalimat negatif seperti makian dan ejekan yang dilontarkan tokoh TV.
Menurut Elly, dampak buruk terpapar tayangan TV ini memang tidak terlihat segera pada diri anak. Efeknya bisa jadi baru terlihat belasan tahun mendatang. Kekerapan menonton adegan kekerasan dalam TV akan menimbulkan dampak kumulatif, yaitu, anak-anak menjadi tidak tanggap terhadap kenyataan dan konsekuensi kekerasan. Bahkan, mungkin lebih cenderung menganggap kekerasan merupakan solusi dari persoalan kehidupan sehari-hari.
Efek buruk lainnya, ujar Elly lagi, adalah efek "candu". Bila sudah nyandu, anak akan menganggap tidak ada kegiatan lain yang lebih asyik dibandingkan menonton TV. Lebih parah lagi, bila efek nyandu ini mengakibatkan anak jadi males bersosialisasi dengan orang lain. Padahal, yang paling penting dikembangkan pada anak-anak adalah kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Sedangkan menonton TV adalah proses non-interaktif meskipun orang lain berada di dekatnya," tutur Elly.
Tentu saja, masih ada manfaat menonton televisi bagi anak. Efek baik ini, antara lain, anak bisa mendapatkan tambahan wawasan dengan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan den teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, den perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya. Selain itu, anak juga dapat menambah kosakata terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Sayangnya jumlah program seperti itu masih sangat sedikit. Sedikit contoh adalah tayangan rutin Sessame Street atau Blue Clues. Dengan demikian menurut ukuran maslahat dan mafsadat, ternyata TV lebih banyak membawa mafsadat. Jika kita tarik konklusi seperti itu, adakah nonton TV bisa dipersamakan dengan khamr atau judi yang juga mengandung manfaat, namun lebih besar mafsadatnya sehingga Allah mengharamkan?. Dengan demikian, perkara haram itu belum tentu tidak mengandung manfaat sama sekali, namun menurut Syeikh Ibnu Abdis Salam, selaku pendukung kuat madzhab Syafi’i di Mesir yang wafat tahun 660 H. Beliau mengatakan bahwa kendati pun khamr mengandung manfaat, namun tetap diharamkan Allah, sebab terbukti mafsadatnya lebih mendominasi. Periksa firman.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS. Al-Baqarah: 219).
Tentunya masih memerlukan penelitian yang panjang untuk memutuskan hukum haram memelototi layar kaca, sebagaimana masalah rokok yang kini diharamkan bagi anak-anak dan remaja. Ironisnya, belum berani merembet kepada orang dewasa. Ada apa di balik itu?
Tak cuma asupan makanan yang perlu ditata agar kesehatan tubuh jadi prima. Asupan TV yang mernenuhi pikiran dan hati keluarga pun perlu ditata agar serapannya tidak mubazir dan merusak kesehatan mental ruhani.
Heru, seorang karyawan swasta, punya 'kejutan' untuk keluarga di akhir pekan. Dengan diam-diam ia merancang rencana liburan dua hari ke Puncak, Bogor, yang tentu sangat menyenangkan. Tapi Arman jadi terkejut ketika mendapat penolakan spontan dari anak-anak. Ironisnya, alasan Fikri (8) dan Zidan (6) terdengar "sepele" sekali. "Nggak mau, nanti aku nggak bisa nonton..." Terang saja Arman jadi kecewa sekaligus gemas dibuatnya. Arman lantas tersadarkan bahwa selama ini ia dan istrinya terlampau membebaskan anak-anak menikmati TV. Mereka lantas mulai berpikir, "Ah, bagaimana cara mengatasinya ya?"
v Tayangan Buruk Berakibat Buruk
Elly Risman, Psi, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati, menegaskan bahwa dari berbagai tayangan TV, sajian yang dominan terhidang adalah tayangan yang tidak mendidik. Tayangan buruk ini, ungkap Elly, berhubungan erat dengan keberpihakan stasiun TV yang menurutnya lebih mementingkan raupan rupiah ketimbang kepentingan masa depan masyarakat, khususnya anak. Parahnya lagi respon masyarakat dan upaya melindungi anak-anak dari tayangan TV yang tidak mendidik ini amat minim. Akibatnya, banyak anak yang melahap acara TV tanpa batas dan aturan yang jelas. Kalau sudah begini, "Cepat atau lambat, menonton TV tanpa aturan dan batasan akan berakibat buruk," tegas Elly.
Dampak buruk akan semakin parah bila anak sudah terbiasa nonton sejak usia prasekolah atau di bawah lima tahun. Sebab pada masa itu, anak-anak belum bisa membedakan antara akting atau tipuan kamera dengan kenyataan. Bagi mereka, apa yang dilihatnya di layar kaca sama saja dengan kenyataan. Padahal, banyak orang tua mudah saja menjadikan TV teman bermain anak sejak kecil saat orang tua terutama ibu sedang sibuk bekerja. Alasan mereka, anak jadi anteng kalau dibiarkan nonton TV.
v Fisik dan Mental Jadi Terganggu
Secara fisik, terlalu banyak menonton TV juga akan mengganggu gerakan otot mata anak. Mata terbiasa melihat lurus dan tidak bergerak-gerak seperti saat membaca buku. 'Akibatnya, anak akan mengalami kesulitan membaca karena gangguan otot matanya," tutur psikolog yang sangat konsisten memperjuangkan UU anti pornografi dan pornoaksi ini.
Selain mengganggu otot mata, menonton juga mengakibatkan metabolisme tubuh terganggu karena anak cenderung pasif, tidak banyak bergerak. Karena itu, anak-anak yang banyak menghabiskan waktu dengan menonton TV punya kecenderungan mengalami kegemukan (obesitas).
Dari sisi kejiwaan, tayangan yang ditonton anak bisa mendorong anak menjadi konsumtif. Lihat saja betapa laku kerasnya produk teletubbies, pokemon, spongebob, dan produk pendukung lain seiring dengan tingginya rating tayangan tersebut. Anak yang senang pada satu tayangan, jadi tertarik memiliki produk tokoh tayangan atau bahkan segala produk yang diiklankan oleh tokoh favorit mereka.
Belum lagi kalau bicara saat tindak kekerasan yang banyak diumbar di berbagai tayangan anak. Kekerasan yang diumbar ini, seperti memukul, menjambak, menghantam, atau mencekik tak selalu dilakukan si tokoh jahat, namun juga oleh tokoh 'baik'. Tak heran bila berbagai penelitian lain lantas menunjukkan bahwa anak-anak yang banyak menonton TV cenderung lebih agresif dibandingkan dengan anak-anak yang jarang menonton TV. Ini belum termasuk banyaknya kalimat-kalimat negatif seperti makian dan ejekan yang dilontarkan tokoh TV.
Menurut Elly, dampak buruk terpapar tayangan TV ini memang tidak terlihat segera pada diri anak. Efeknya bisa jadi baru terlihat belasan tahun mendatang. Kekerapan menonton adegan kekerasan dalam TV akan menimbulkan dampak kumulatif, yaitu, anak-anak menjadi tidak tanggap terhadap kenyataan dan konsekuensi kekerasan. Bahkan, mungkin lebih cenderung menganggap kekerasan merupakan solusi dari persoalan kehidupan sehari-hari.
Efek buruk lainnya, ujar Elly lagi, adalah efek "candu". Bila sudah nyandu, anak akan menganggap tidak ada kegiatan lain yang lebih asyik dibandingkan menonton TV. Lebih parah lagi, bila efek nyandu ini mengakibatkan anak jadi males bersosialisasi dengan orang lain. Padahal, yang paling penting dikembangkan pada anak-anak adalah kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman atau orang lain. Sedangkan menonton TV adalah proses non-interaktif meskipun orang lain berada di dekatnya," tutur Elly.
Tentu saja, masih ada manfaat menonton televisi bagi anak. Efek baik ini, antara lain, anak bisa mendapatkan tambahan wawasan dengan mengetahui perkembangan ilmu pengetahuan den teknologi, perkembangan peristiwa yang terjadi di dunia, den perkembangan permasalahan yang ada di luar lingkungannya. Selain itu, anak juga dapat menambah kosakata terutama kata-kata yang tidak terlalu sering digunakan sehari-hari. Sayangnya jumlah program seperti itu masih sangat sedikit. Sedikit contoh adalah tayangan rutin Sessame Street atau Blue Clues. Dengan demikian menurut ukuran maslahat dan mafsadat, ternyata TV lebih banyak membawa mafsadat. Jika kita tarik konklusi seperti itu, adakah nonton TV bisa dipersamakan dengan khamr atau judi yang juga mengandung manfaat, namun lebih besar mafsadatnya sehingga Allah mengharamkan?. Dengan demikian, perkara haram itu belum tentu tidak mengandung manfaat sama sekali, namun menurut Syeikh Ibnu Abdis Salam, selaku pendukung kuat madzhab Syafi’i di Mesir yang wafat tahun 660 H. Beliau mengatakan bahwa kendati pun khamr mengandung manfaat, namun tetap diharamkan Allah, sebab terbukti mafsadatnya lebih mendominasi. Periksa firman.
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (QS. Al-Baqarah: 219).
Tentunya masih memerlukan penelitian yang panjang untuk memutuskan hukum haram memelototi layar kaca, sebagaimana masalah rokok yang kini diharamkan bagi anak-anak dan remaja. Ironisnya, belum berani merembet kepada orang dewasa. Ada apa di balik itu?
Menonton TV Sampai Malam
Menonton TV Sampai Malam
Berapa jam dalam sehari anak Anda menonton TV? Sampai seberapa malam anak Anda menonton TV? Jawabannya tentu akan memprihatinkan. Untuk pertanyaan pertama, banyak yang menjawab lebih dari 2 jam per hari. Sementara untuk pertanyaan kedua, orang tua cukup banyak yang menjawab, ‘Menonton sampai anak mau tidur.’
Dikatakan memprihatinkan, karena itu bukan perilaku menonton TV yang direkomendasikan para ahli. Pakar menyarankan waktu menonton TV anak tidak lebih dari 2 jam per hari. Dan para ahli juga menyebutkan bahwa TV bukanlah media yang baik sebagai pengantar tidur anak, apalagi anak-anak sebaiknya tidak menonton TV sampai malam.
Masalahnya, banyak orang tua yang berpendapat bahwa TV adalah media penghibur bagi anak-anak dan menonton TV adalah kegiatan yang disukai anak. Apalagi, menurut orang tua, yang ditonton anak adalah acara anak.
Memang, acara anak di TV cukup berlimpah. Dalam sehari, hampir sepuluh persen dari total jam tayang siaran TV adalah acara anak. Acara anak itu cukup beragam, dari mulai film kartun (ini yang terbanyak), sinetron anak, hingga acara pengetahuan dan budaya. Acara-acara tersebut sudah mengudara sejak lepas Subuh dan terus menerus susul-menyusul hingga larut malam. Ini jelas aktivitas yang amat menyita waktu dengan sedikit manfaat, bahkan bencananya lebih besar.. Belum lagi kerugian orang tua nanti ketika menghadap Allah. Mestinya, anak prabaligh itu bila beramal, pihak orang tua yang akan mendapat keuntungan di sisi Allah. Namun ketika banyak waktu yang tersita untuk memelototi layar kaca, orang tua di sisi Allah tidak kebagian apa-apa. Lepas dari siksa pun sudah untung. Sebab, walau pun bagaimana, pihak ayah yang paling banyak bertanggungjawab atas keselamatan keluarganya, baik ketika di dunia atau pun di akhirat.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At-Tahrim: 6).
Persoalannya, apa yang disebut "acara anak' tidak selalu aman atau sehat bagi anak. Ada yang mengandung muatan kekerasan yang kental, misalnya "Detective Conan", "Duel Masters 2" atau "School Detective G" di Indosiar atau "Tom & Jerry" di TPI). Ada yang mengandung muatan problematika orang dewasa seperti percintaan, intrik, dan dendam (misalnya telenovela "Suenos Y Caramelos" di Trans 7). Ada yang cukup banyak dimuati dengan bahasa kasar dan pelecehan terhadap orang lain (misalnya "Si Entong" di TPI). TV betul-betul sebuah fenomena yang paling efektik mengubah sikap hidup seorang anak. Bahkan seorang ulama pun kalah efektifnya dibanding si layar kaca ini. Seorang anak bisa merespon secara langsung ucapan beserta prakteknya sampai detail. Anak bisa menonton acara dari runtang-runtung kayak truk gandeng, raba-raba sampai ciuman hingga buka-bukaan sampai adegan sensor. Akan berlainan dengan seorang kyai yang berceramah. Paling-paling hanya bermodal suara doang yang disertai dengan gaya yang monoton, tetap berdiri atau duduk di panggung, yang kemungkinan hanya ditambah dengan menuding-nuding. Sedangkan hadirin harus berpayah-payah datang ke tempat lokasi, itu kalau cuacanya sedang mendukung, tidak banjir dan sebagainya. Berlainan dengan TV yang cukup duduk manis di rumah dengan santai, tidak perlu pakai kerudung atau baju koko sebagai identitas seorang Muslim yang saat itu ‘menyesuaikan diri’ dengan kondisi ritual.
Ironisnya, pihak industri TV sendiri menilai bahwa anak adalah kalangan yang potensial sebagai khalayak penonton. Itulah sebabnya, dari tahun ke tahun porsi siaran anak di TV selalu meningkat. Itu artinya, anak-anak memang dilirik sebagai "pasar" penonton yang penting.
Beberapa tahun terakhir ini hadir stasiun TV khusus anak, yakni Spacetoon. Dengan motto "Spacetoon Saluran Masa Depan", stasiun TV ini menargetkan penonton anak-anak dan bersiaran di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Rencananya, siaran stasiun TV ini juga akan menjangkau kota-kota besar lainnya. Spacetoon bersiaran setiap hari mulai pukul 6 hingga pukul 10 malam. Sepanjang itu yang disiarkan adalah acara anak.
Jadi, dengan adanya stasiun ini, anak-anak (terutama yang di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya) sepanjang hari mendapatkan acara anak. Karena stasiun-stasiun TV lain juga menampilkan acara anak, maka anak-anak dihadapkan pada banyak pilihan acara anak. Ditambah lagi jika keluarga berlangganan TV kabel, acara anak makin berlimpah karena sejumlah acara anak juga tersaji melalui TV kabel ini. Jadi, acara anak memang berlimpah ruah, dari pagi sampai malam.
Terlepas dari isinya, banyaknya acara anak ini dapat membuat orang tua (apalagi anak-anak!) untuk terdorong mengkonsumsi acara anak. Dasarnya sederhana, karena memang acara tersebut sudah tersaji di banyak saluran TV Makin banyak sajian itu, makin besar penonton terdorong untuk menikmatinya. Begitu pun acara anak. Wajar saja jika orang tua terseret mengikuti acara anak-anak, memang ketika itu sedang ‘menyesuaikan diri’ dengan kondisi mereka. Sebagaimana Rasulullah juga terseret menyesuaikan diri dengan bahasa seorang cucunya ketika diketahui bahwa sang cucu menelan biji kurma zakat. Padahal zakat diharamkan bagi kerabat Rasulullah, yakni Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
Bahwa Ibnu Ziyad mendengar Abu Hurairah berkata: Pada sebuah kesempatan, Hasan bin Ali (cucu Rasulullah) mengambil sebuah kurma dari kurma zakat. Kemudian ia memasukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah pun mengatakan, kikh, kikh (muntahkan).
(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Darimi. Dalam Kutubut Tis’ah hadits no. 1778).
Dalam peristiwa itu jelas bahwa Rasulullah mampu untuk mengatakan, ‘muntahkan!’ Namun karena yang diajak bicara itu seorang anak yang masih kecil, beliau lantas beralih ke komunikasi yang bisa dipahami oleh sang anak agar nyambung. Negatifnya, jika perihal seperti ini berjalan secara intensif, penalaran sehat orang tua akan tersita dan menyusut karena tersedot harus menyesuaikan dengan pikiran anak. Seringkali bicaranya menjadi cedel.
Melimpahruahnya acara anak di layar kaca akan membuat anak berpendapat bahwa pilihan acara TV baginya cukup banyak dan karena itu ia berhak menikmatinya. Orang tua pun tidak sensitif lagi untuk menilai isinya, semata-mata karena itu toh acara untuk anak. Padahal, kegiatan menonton TV sejak kecil sangat besar mempengaruhi kebiasaan mengkonsumsi TV hingga besar. Anak yang dibiasakan menonton TV dalam porsi besar sejak usia kecil cenderung akan menganggap menonton TV adalah kegiatan baku yang harus dijalankannya. Jadi, jika sejak kecil ia sudah menjadi pemirsa berat TV, maka ia pun kan terus berpotensi menjadi pemirsa berat.
Jika kebiasaan banyak menonton TV ini berlanjut terus hingga ia besar dan dewasa, alangkah banyak waktu mubazir yang terbuang, karena sesungguhnya kegiatan menonton TV dapat diganti dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat (misalnya membaca buku, mendengar dongeng, bermain, memasak, dan macam-macam lagi).
Saya mengkhawatirkan, dengan banjirnya acara anak, anak-anak makin terdorong untuk makin banyak mengkonsumsi TV Tambahan lagi, orang tua yang kurang punya kepekaan akan menilai bahwa aacara anak baik-baik saja". Orang tua semacam ini akan membiarkan saja anaknya menonton tanpa mengontrol waktu menonton anak.
Dengan demikian, kalau kita kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, akan makin banyak anak yang menonton TV lebih dari dua jam sehari dan makin malam anak menonton acara anak, karena acara anak tersedia sampai malam, tersaji sampai menjelang anak tidur.
Sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan pada Anda. Berapa jam dalam sehari anak Anda menonton TV? Sampai seberapa malam anak Anda menonton TV? Pengaruhnya jelas sangat memprihatinkan pada perkembangan jiwa anak. Rasulullah bersabda:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr: 1 – 3).
Berapa jam dalam sehari anak Anda menonton TV? Sampai seberapa malam anak Anda menonton TV? Jawabannya tentu akan memprihatinkan. Untuk pertanyaan pertama, banyak yang menjawab lebih dari 2 jam per hari. Sementara untuk pertanyaan kedua, orang tua cukup banyak yang menjawab, ‘Menonton sampai anak mau tidur.’
Dikatakan memprihatinkan, karena itu bukan perilaku menonton TV yang direkomendasikan para ahli. Pakar menyarankan waktu menonton TV anak tidak lebih dari 2 jam per hari. Dan para ahli juga menyebutkan bahwa TV bukanlah media yang baik sebagai pengantar tidur anak, apalagi anak-anak sebaiknya tidak menonton TV sampai malam.
Masalahnya, banyak orang tua yang berpendapat bahwa TV adalah media penghibur bagi anak-anak dan menonton TV adalah kegiatan yang disukai anak. Apalagi, menurut orang tua, yang ditonton anak adalah acara anak.
Memang, acara anak di TV cukup berlimpah. Dalam sehari, hampir sepuluh persen dari total jam tayang siaran TV adalah acara anak. Acara anak itu cukup beragam, dari mulai film kartun (ini yang terbanyak), sinetron anak, hingga acara pengetahuan dan budaya. Acara-acara tersebut sudah mengudara sejak lepas Subuh dan terus menerus susul-menyusul hingga larut malam. Ini jelas aktivitas yang amat menyita waktu dengan sedikit manfaat, bahkan bencananya lebih besar.. Belum lagi kerugian orang tua nanti ketika menghadap Allah. Mestinya, anak prabaligh itu bila beramal, pihak orang tua yang akan mendapat keuntungan di sisi Allah. Namun ketika banyak waktu yang tersita untuk memelototi layar kaca, orang tua di sisi Allah tidak kebagian apa-apa. Lepas dari siksa pun sudah untung. Sebab, walau pun bagaimana, pihak ayah yang paling banyak bertanggungjawab atas keselamatan keluarganya, baik ketika di dunia atau pun di akhirat.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At-Tahrim: 6).
Persoalannya, apa yang disebut "acara anak' tidak selalu aman atau sehat bagi anak. Ada yang mengandung muatan kekerasan yang kental, misalnya "Detective Conan", "Duel Masters 2" atau "School Detective G" di Indosiar atau "Tom & Jerry" di TPI). Ada yang mengandung muatan problematika orang dewasa seperti percintaan, intrik, dan dendam (misalnya telenovela "Suenos Y Caramelos" di Trans 7). Ada yang cukup banyak dimuati dengan bahasa kasar dan pelecehan terhadap orang lain (misalnya "Si Entong" di TPI). TV betul-betul sebuah fenomena yang paling efektik mengubah sikap hidup seorang anak. Bahkan seorang ulama pun kalah efektifnya dibanding si layar kaca ini. Seorang anak bisa merespon secara langsung ucapan beserta prakteknya sampai detail. Anak bisa menonton acara dari runtang-runtung kayak truk gandeng, raba-raba sampai ciuman hingga buka-bukaan sampai adegan sensor. Akan berlainan dengan seorang kyai yang berceramah. Paling-paling hanya bermodal suara doang yang disertai dengan gaya yang monoton, tetap berdiri atau duduk di panggung, yang kemungkinan hanya ditambah dengan menuding-nuding. Sedangkan hadirin harus berpayah-payah datang ke tempat lokasi, itu kalau cuacanya sedang mendukung, tidak banjir dan sebagainya. Berlainan dengan TV yang cukup duduk manis di rumah dengan santai, tidak perlu pakai kerudung atau baju koko sebagai identitas seorang Muslim yang saat itu ‘menyesuaikan diri’ dengan kondisi ritual.
Ironisnya, pihak industri TV sendiri menilai bahwa anak adalah kalangan yang potensial sebagai khalayak penonton. Itulah sebabnya, dari tahun ke tahun porsi siaran anak di TV selalu meningkat. Itu artinya, anak-anak memang dilirik sebagai "pasar" penonton yang penting.
Beberapa tahun terakhir ini hadir stasiun TV khusus anak, yakni Spacetoon. Dengan motto "Spacetoon Saluran Masa Depan", stasiun TV ini menargetkan penonton anak-anak dan bersiaran di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya. Rencananya, siaran stasiun TV ini juga akan menjangkau kota-kota besar lainnya. Spacetoon bersiaran setiap hari mulai pukul 6 hingga pukul 10 malam. Sepanjang itu yang disiarkan adalah acara anak.
Jadi, dengan adanya stasiun ini, anak-anak (terutama yang di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya) sepanjang hari mendapatkan acara anak. Karena stasiun-stasiun TV lain juga menampilkan acara anak, maka anak-anak dihadapkan pada banyak pilihan acara anak. Ditambah lagi jika keluarga berlangganan TV kabel, acara anak makin berlimpah karena sejumlah acara anak juga tersaji melalui TV kabel ini. Jadi, acara anak memang berlimpah ruah, dari pagi sampai malam.
Terlepas dari isinya, banyaknya acara anak ini dapat membuat orang tua (apalagi anak-anak!) untuk terdorong mengkonsumsi acara anak. Dasarnya sederhana, karena memang acara tersebut sudah tersaji di banyak saluran TV Makin banyak sajian itu, makin besar penonton terdorong untuk menikmatinya. Begitu pun acara anak. Wajar saja jika orang tua terseret mengikuti acara anak-anak, memang ketika itu sedang ‘menyesuaikan diri’ dengan kondisi mereka. Sebagaimana Rasulullah juga terseret menyesuaikan diri dengan bahasa seorang cucunya ketika diketahui bahwa sang cucu menelan biji kurma zakat. Padahal zakat diharamkan bagi kerabat Rasulullah, yakni Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
Bahwa Ibnu Ziyad mendengar Abu Hurairah berkata: Pada sebuah kesempatan, Hasan bin Ali (cucu Rasulullah) mengambil sebuah kurma dari kurma zakat. Kemudian ia memasukkan ke dalam mulutnya. Maka Rasulullah pun mengatakan, kikh, kikh (muntahkan).
(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Darimi. Dalam Kutubut Tis’ah hadits no. 1778).
Dalam peristiwa itu jelas bahwa Rasulullah mampu untuk mengatakan, ‘muntahkan!’ Namun karena yang diajak bicara itu seorang anak yang masih kecil, beliau lantas beralih ke komunikasi yang bisa dipahami oleh sang anak agar nyambung. Negatifnya, jika perihal seperti ini berjalan secara intensif, penalaran sehat orang tua akan tersita dan menyusut karena tersedot harus menyesuaikan dengan pikiran anak. Seringkali bicaranya menjadi cedel.
Melimpahruahnya acara anak di layar kaca akan membuat anak berpendapat bahwa pilihan acara TV baginya cukup banyak dan karena itu ia berhak menikmatinya. Orang tua pun tidak sensitif lagi untuk menilai isinya, semata-mata karena itu toh acara untuk anak. Padahal, kegiatan menonton TV sejak kecil sangat besar mempengaruhi kebiasaan mengkonsumsi TV hingga besar. Anak yang dibiasakan menonton TV dalam porsi besar sejak usia kecil cenderung akan menganggap menonton TV adalah kegiatan baku yang harus dijalankannya. Jadi, jika sejak kecil ia sudah menjadi pemirsa berat TV, maka ia pun kan terus berpotensi menjadi pemirsa berat.
Jika kebiasaan banyak menonton TV ini berlanjut terus hingga ia besar dan dewasa, alangkah banyak waktu mubazir yang terbuang, karena sesungguhnya kegiatan menonton TV dapat diganti dengan kegiatan-kegiatan lain yang lebih bermanfaat (misalnya membaca buku, mendengar dongeng, bermain, memasak, dan macam-macam lagi).
Saya mengkhawatirkan, dengan banjirnya acara anak, anak-anak makin terdorong untuk makin banyak mengkonsumsi TV Tambahan lagi, orang tua yang kurang punya kepekaan akan menilai bahwa aacara anak baik-baik saja". Orang tua semacam ini akan membiarkan saja anaknya menonton tanpa mengontrol waktu menonton anak.
Dengan demikian, kalau kita kembali ke pertanyaan di awal tulisan ini, akan makin banyak anak yang menonton TV lebih dari dua jam sehari dan makin malam anak menonton acara anak, karena acara anak tersedia sampai malam, tersaji sampai menjelang anak tidur.
Sekarang, saya ingin mengajukan pertanyaan pada Anda. Berapa jam dalam sehari anak Anda menonton TV? Sampai seberapa malam anak Anda menonton TV? Pengaruhnya jelas sangat memprihatinkan pada perkembangan jiwa anak. Rasulullah bersabda:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS. Al-Ashr: 1 – 3).
Langganan:
Postingan (Atom)
