Tampilkan postingan dengan label Dakwah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 November 2009

Dakwah Keluarga, Prioritas Utama

Dakwah Keluarga, Prioritas Utama

Keluarga adalah obyek dakwah yang harus serius mendapat perhatian seorang muslimah. Bila untuk proyek-proyek dakwah lainnya perlu penyusunan proposal hingga detil langkah implementasinya, mengapa tidak dalam keluarga?
S ebagai unit sosial yang paling kecil, keluarga sarat menentukan wama dan corak anggota keluarganya. Ia merupakan wadah pertama pembentukan sumber daya manusia dan keluargalah lahir generasi penerus yang akan meneruskan dakwah Islam sebagaimana cita-cita orangtuanya.
v Proyek Laboratorium Peradaban
Husain Muhammad Yusuf daiam bukunya Ahdaf AI-Usrah Fil Islam menjelaskan, keluarga adalah batu pertama dalam membangun negara. Menurutnya, sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya.
v Penghargaan Islam Pada Soal-soal Keluarga

Islam amat respek dan begitu tinggi memeperhatikan persoalan keluarga. Betapa tidak, keluarga adalah unit yang sangat mendasar di antara unit-unit pembangunan alam semesta. Diantara fungsi besar dalam keluarga adalah edukatif (tarbiyah). Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. Apabila salah dalam pendidikan awalnya, maka peluang akan terjadinya berbagai penyimpangan pada diri
anak tentu semakin tinggi. Karena itulah pada dasarnya Islam telah menjadikan tarbiyah sebagai atensi yang dominan dalam kehidupan. Abdul A’la Al-Maududi, seorang Ulama asal Mesir mengartikan kata tarbiyah sebagai mendidik dan memberikan perhatian."
Setidaknya ada empat unsur penting dalam pendidikan. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah obyek didik. Kedua, mengembangkan bakat dan potensi obyek didik sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Ketiga, mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempumaan. Keempat, seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap.

Keempat unsur tersebut menunjukkan penting nya peran pendidikan dalam keluarga. Karena keluarga akan membentuk karakter kepada anggotanya dan mewamai masya katnya. Singkatnya keluarga merupakan laboratorium peradaban. Dan bagi muslimah, yang secara umum merupakan penanggungjawab utama dan pertama dalam kehidupan keluarga, menyiapkan keseriusan dan kepurnaan program pengembangan dakwah keluarga tentu merupakan prioritas utama.
Pendidikan dalam keluarga dimulai sejak dini dan berawal dari rumah. Meminjam istilah Bobbi De Porter dan Mike Hemacki, dalam teori Quantum Learning, pembelajaran masa kecil di rumah adalah saat-saat yang amat menyenangkan. Porter dan Hemacki mencontohkannya ketika anak usia satu tahun belajar berjalan. Kendati dengan tertatih-tatih dan berkali-kaii jatuh, toh anak pada akhimya mampu berjalan, tanpa merasa ada kegagalan. Suatu hal yang amat berbeda dengan pembelajaran orang dewasa.
Fungsi tarbiyah dalam keluarga pun menjadi sedemikian vital untuk mempersiapkan masa depan umat. Seluruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan tarbiyah untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi potensi, pengembangan kepribadian, peningkatan diri menuju batas-batas kebaikan dalam ukuran kemanusiaan. Bila demikian pentingnya urgensi keluarga sebagai laboratorium peradaban, mengapa proyek ini belum kita jalankan, yakni proyek dakwah keluarga?
Abdullah Nasih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, menyebutkan 7 macam pendidikan integratif dalam keluarga. Seluruhnya harus dilaksanakan secara sistemik dalam keluarga untuk mentarbiyah anggota keluarga menjadi hamba Allah yang taat, yang mampu mengemban amanah dakwah ini. Ketujuh pendidikan tersebut adalah pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan islam, pendidikan sosial dan pendidikan seksual.
Sementara Hibbah Ar-Rauf, dalam bukunya Wanita Politik: Pandangan Islam, menambahkannya dengan pendidikan politik dalam keluarga.
Pendidikan iman merupakan pondasi yang kokoh bagi semua bagian pendidikan. Pendidikan akan menjadi bingkai kehidupan manusia yang memiliki landasan kokoh berupa iman. Budaya masyarakat yang tidak terbingkai dengan poin-poin tersebut menyebabkan degradasi, maka penguatan moralitas melalui ndidikan keluarga menjadi semakin signifikan manfaatannya.

Pendidikan psikis membentuk berbagai karakter rpositif kejiwaan, seperti keberanian, kejujuran, mandirian, kelembutan, sikap opimistik, dan serusnya. Karakter ini akan menjadi daya dorong anusia melakukan hat-hal terbaik bagi urusan dunia dan akhiratnya.
Pendidikan fisik tak kalah pentingnya. Dalam luargalah proses tumbuh kembang seorang anak terpantau. Gaya hidup sehat dapat dibangun lam keluarga, seperti mengkonsumsi makanan yang halal dan thayib, dan kebiasaan berolahraga, proses ini sangat penting dalann menyiapkan kuatan fisik agar tubuh menjadi sehat.
Pendidlikan intelektual harus dilakukan dalam lkeluarga sejak dini. Karena peradaban masa pan umat akan tergantung kepada kapasitas intelektual generasi muda. Anggota keluarga harus memiliki kecerdasan yang memadai karena mreka akan bersaing dalam era giobalisasi. Hal harus dimulai dengan membangun kebiasaan lajar yang menyenangkan.
Peran sosial bermaksud menumbuhkan kepribadian sosial anggota keluarganya agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan menebarkan kontribusi positif bagi upaya perbaikan masyarakat. Dalam hal ini, menumbuhkan keterkaitan hati anak-anak dengan masjid adalah salah satu aspek yang perlu ditanamkan sejak dini. Peran sosial tersebut kini terancam virus individualistik yang merasuki sebagian besar masyakarakat. Virus tersebut menyebabkan tumpulnya perasaan seseorang terhadap berbagai persoalan yang membelit masyarakat di sekitamya dan menimbulkan prinsip hidup "lu-1u, Gue-Gue."
Pendidikan seksual diperlukan untuk membangun kesadaran anggota keluarga terhadap peran dan tanggungjawabnya berdasarkan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Selain pengajaran tentang kesadaran peran tersebut juga perlu ditekankan tentang pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar dalam permasalahan kesehatan reproduksi. Bukan hanya kepada anak perempuan, namun juga kepada anak laki-laki.
Sedangkan pendidikan politik dalam keluarga diperlukan untuk membangun kesadaran dan membangun kemampuan anggota keluarga dalam menyikapi berbagai persoalan politik yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat.
v Keluarga Prioritas Proyek Dakwah

Sebagaimana proyek dakwah lainnya yang membutuhkan perencanaan hingga evaluasi yang rapi, proyek dakwah dalam keluarga pun demikian. Beberapa langkah berikut adalah upaya yang dapat dilakulkan seorang muslimah dalam menyusun proyek dalam keluarganya.
1. Alokasikaniah waktu bersama suami untuk membangun rencana strategis keluarga, yang dibagi dalam tujuh proyelk da'wah keluarga, untulk jangka waktu lima tahun.
2. Buatlah turunan dari rencana tersebut untuk program tahunannya. Jangan lupa untuk menunjuk penanggungjawab setiap program. Sosialisasikanlah kepada pihak-pihak terkait, seperti khadimat, keluarga yang tinggal serumah, dan lain-lain.
4. Lakukan evaluasi dan masukan baqi perbaikan pelaksaan program selanjutnya. Mungkin hasil yang Anda dapatkan tidak bisa memenulni semua harapan Anda. Namun, selagi masih memiliki semangat untuk memperbaiki proses dan berdoa penuh harap kepada Allah SWT, tentu jauh lebih baik daripada membiarkan proyek berharga ini terbengkalai begitu saja.

Rabu, 25 November 2009

Metode Pengajaran Rasulullah

Metode Pengajaran Rasulullah


Mari kita simak salah satu metode pengajaran agung, untuk selanjutnya kita gunakan pula dalam membimbing anak-anak kita meretas jalan menuju hidayah dan bimbingan Allah. Disebutkan dalam suatu hadits:
Dari Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhu: “Pada suatu hari aku pernah berboncengan di belakang Nabi (di atas kendaraan), beliau berkata kepadaku: “Wahai anak, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat: Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu. Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah, kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu. Pena telah diangkat dan telah kering lembaran-lembaran.
(HR. Tirmidzi - hasan, shahih).
Inilah salah satu wasiat Rasulullah Saw yang mewarnai kalbu Ibnu Abbas, menghunjam dan mengakar, serta membuahkan keimanan yang mantap kepada Allah. Kita juga melihat bagaimana metode dakwah Rasulullah Saw. Pertama kali yang ditanamkan adalah tauhid, bagaimana seharusnya manusia memposisikan dirinya di hadapan Allah. Manusia seharusnya mencurahkan segala hidup dan kehidupannya untuk menghamba hanya kepada Allah. Tidaklah Rasulullah Saw mendahulukan ajaran yang lain sebelum masalah tauhid diajarkan.
Kalau manusia ingin selalu berada dalam penjagaan Allah, maka dia harus ‘menjaga’ Allah. “Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu” kalimat ini dijelaskan oleh seorang Ulama’ bernama Ibnu Daqiqiel ‘Ied: “Jadilah engkau orang yang taat kepada Tuhanmu, mengerjakan perintah-perintah-Nya, dan berhenti dari (mengerjakan) larangan-larangan-Nya.” Demikian keterangan yang kami kutip dari Syarah al-Arba’in hadiitsan an-nawawiyah.
Kita jaga batasan-batasan Allah dan tidak melampauinya. Batasan-batasan itu adalah syariat Allah, penentuan hukum halal dan haram dari Allah, yang memang hanya Allah sajalah yang berhak menetapkan hukum tersebut, sebagaimana dalam ayat: Artinya:
“Penetapan hukum hanyalah hak Allah” (QS.Yusuf: 40 )
dengan taat dan tunduk kepada undang-undang Allah, kita akan disebut hamba Allah, bukan hamba nafsu, hamba syetan atau hampa teknologi. Inilah yang dinamakan tidak melampaui batasan Allah, di mana Allah telah mencerca orang-orang yang melampaui batasan-Nya melaui sebuah firman:
Dan barangsiapa yang melampaui batasan-batasan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim (QS. Al-Baqarah:229).
Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menguraikan keterangan ayat itu sebagai berikut:
Batasan itu terbagi dua, yaitu: batasan perintah agar dikerjakan dan batasan larangan agar ditinggalkan. Rasulullah Saw dalam hadits ini memberikan sinyalemen bahwa barangsiapa yang senantiasa menjaga batasan-batasan Allah itu maka dia akan senantiasa dalam penjagaan Allah, selaku Yang Paling baik baik penjagaannya
“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong” (QS. Al-Anfaal:40).
Syaikh Abdirrahman bin Naashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan: Allah yang memelihara hamba-hamba-Nya yang Mukmin,dan menyampaikan pada mereka (segala) kebaikan dan kemashlahatan, serta memudahkan bagi mereka manfaat-manfaat kehidupan dunia dan akhirat alam baka. Dan Allah yang menolong dan melindungi dari makar orang-orang durjana, dan permusuhan secara terang-terangan dari orang-orang yang jelek perangai dan agamanya
(Kitab Taisiril Kariimir Rahman fi Tafsiiri Kalaamil Mannaan).
Makna perkataan Rasul “Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu” Syaikh Abdirrahman bin Muhammad bin Qasim al- Hanbaly an-Najdi dalam kitabnya Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, menjelaskan makna hadits tersebut: “Jagalah batasan-batasan Allah dan perintah-perintah-Nya, niscaya Ia akan menjagamu di manapun kamu berada”.
“Jika engkau memohon, memohonlah kepada Allah, jika engkau meminta pertolongan, minta tolonglah kepada Allah” Ini adalah sebagai perwujudan pengakuan kita yang selalu kita ulang-ulang dalam shalat, yani ucapan Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’iin
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu lkami meminta pertolongan”(QS. Al-Fatihah: 5).
Kalimat yang sering kita ulang-ulang dalam munajat kita dengan Penguasa seluruh dunia ini, akankah benar-benar membekas dan mewarnai kehidupan kita? Sudahkah kita benar-benar menjiwai makna pernyataan ini sehingga terminal keluhan dan pelarian kita yang terakhir adalah Dia Yang Berkuasa atas segala sesuatu? Demikianlah yang seharusnya. Di saat kita berada pada titik kulminasi yang menjadi limit terakhir kekuatan makhluk, yang terbukti pada posisi itu tidak mampu mengatasinya, maka hendaklah kita segera pulang ke tempat asal dan tempat kita kembali.
Sungguh indah rasanya jika teladan pengajaran dari Rasulullah Saw ini benar-benar kita tindaklanjuti sebagai upaya pembekalan bagi anak-anak kita. Mewarnai kalbu mereka yang masih putih seputih kertas tanpa ada goresan sedikitpun sebelumnya. Sehingga di saat mereka beranjak dewasa, kita akan menuai hasilnya. Siapa yang tak akan bangga melihat anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang tangguh, beriman dan berilmu pengetahuan yang mantap serta siap menghambakan dirinya untuk Allah semata dan siap berjuang untuk menegakkan kalimat-Nya.
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al-Furqan: 74).

Kiat Menyimpan Rahasia

Kiat Menyimpan Rahasia
Berinteraksi dengan keluarga, baik antara anak arau orang tua, ataupun dengan saudara-saudara yang lain, memang diperlukan pengertian antara hak dan kewajiban masing-masing. Ini jika dikehendaki demi menggapai ridha Allah. Bukan hanya sekedar kumpul dalam suka dan mengobrol bersama. Diantara kewajiban anggota keluarga adalah:
· Hendaklah saling menjaga dan menyimpan berbagai rahasia anggota keluarga Anda, dimaksudkan agar ia tetap terhormat di hadapan orang lain, bukan terlecehkan sehingga kehidupannya tidak berarti.
Sebuah rahasia kalau dibuka jelas akan mencemarkan nama baik. Belum lagi jika yang dibuka itu rahasia negara kepada musuh, hal ini jelas membahayakan stabilitas.
· Jika pihak lain berbuat baik kepada keluarga Anda atau kepada orang lain, hendaklah Anda ikut senang dan selalu mengingat kebajikannya. Sebaliknya bila pihak lain berbuat yang tidak disukai, hendaklah Anda dengan lapang hati memaafkan kesalahannya. Sebab jika Anda terlalu menyeleksi kebaikan pihak lain, Anda akhirnya akan kesulitan mencari sahabat. Seorang manusia itu mesti ada sisi baiknya, juga ada sisi jeleknya, namun bila Anda pertimbangkan bahwa sisi baiknya lebih dominan, anggaplah kawan Anda telah memiliki nilai plus. Seorang mukmin selamanya akan selalu teringat sisi baik sang kawan. Namun orang munafik akan selalu terinmgat sisui buruk sahabat. Karena itulah Rasulullah Saw., mengatakan:
Mohonlah perlindungan kepada Allah dari tetangga yang jelek yang ketika mereka tahu sebuah kebaikan, mereka akan menutup-nutupinya. Namun kertika melihat kejelekan, mereka segera menampakkannya.
(Bukhari dalam al-Tarikh dari Abu Hurairah. Juga diriwayatkabn Nasa’i dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id dengan sanad shahih).
· Bila kawan anggota keluarga Anda melakukan kemaksiatan, dalam kondisi seperti itu Anda tidak diperbolehkan berdiam diri. Selamatkan akhirat keluarga Anda dengan menasihati agar dia menghentikan kedurhakaannya, kendati pun ia akan membenci Anda, sebab yang demikian itu termasuk berbuat baik (amar makruf ) dan nahi munkar yang menjadi tugas Anda, sehingga Anda tidak bisa dituduh berbuat jahat terhadap kawan.
· Anda jangan sampai menyebutkan berbagai sisi jelek keluarga Anda, hal itu termasuk menggunjing (ghibah) yang dilarang agama. Dalam sisi ini hendaklah Anda menyadari, bahwa anggota keluarga Anda katakanlah, ia belum mampu untuk menekan sikap jelek yang Anda benci, sebagaimana pada diri Anda sendiri juga ada kelemahan yang tidak mampu Anda perbaiki. Oleh sebab itu perlakukan keluarga Anda sebagaimana Anda memperlakukan diri Anda sendiri. Itulah sebuah sikap adil namanya.
· Sebagaimana Anda dituntut untuk diam dari berbagai kejelekan sifat keluarga Anda, begitu pula hati Anda. Jagalah perasaan Anda dari bersikap buruk sangka, yang pada dasarnya buruk sangka itu menggunjing dengan hati. Hal ini juga dilarang. Namun bila kejelekan keluarga Anda itu telah terkuak dengan nyata, Anda pun tidak akan mampu untuk menyembunyikan atau menutupinya. Juga akan lebih baik Anda menyimpan saja terhadap kejelekan yang dilakukan seorang anggota keluarga karena tersalah atau lupa.
Pada dasarnya berburuk sangka itu ada dua macam:
Pertama, yang telah berdasar dengan berbagai tendensi yang validitasnya sudah tidak diragukan lagi. Dalam sisi ini mesti menimbulkan buruk sangka secara pasti sehingga seseorang tidak akan mampu untuk menghindarinya.
Kedua, yang timbul tersebab keyakinan yang jelek, sehingga sahabat Anda menjadi korban sikap negatif Anda. Hal ini dilarang agama, sesuai hadits Rasulullah Saw.:
Sesungguhnya Allah mengharamkan seorang mukmin pada mukmin yang lain atas darahnya, hartanya, kehormatannya dan disangka dengan prasangka yang buruk.
(HR. Muslim dari Abu Hurairah).

Kiat mengatasi Lupa

Kiat mengatasi Lupa
Selain itu, seringkali kita terserang lupa. Dari kita ada yang amat parah sehingga ballpoin yang ditaruhkan di kuping, acapkali mencarinya sampai mengubek-ubek seluruh ruangan. Anak dan isteri turut diuring-uring dan lain sebainya. Untuk mengatasinya, cobalah tips sebagai berikut.
Asah otak dengan membaca bacaan yang bermanfaat, seperti Al-Quran, buku, artikel dan sebagainya agar otak tidak aus. Banyaklah membaca buku, menulis atau kegiatan lainnya yang dapat mengasah otak kita agar tetap aktif
Tulis hal-hal yang akan dikerjakan di buku khusus dan berilah tanda pada bagian-bagian yang sudah dikerjakan.
Simpanlah segala sesuatu dalam wadah yang berbeda-beda dan sudah diberi label.
Biasakan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya semula setelah digunakan.
Sering-seringlah merapikan tempat aktivitas keseharian, seperti rumah, tempat kerja (kantor), ruang keluarga, ruang tamu dan lain lain, sehingga kita akan menemukan barang-barang yang kita lupa menyimpannya.
Jauhi diri dari maksiat, karena maksiat menghalangi masuknya ilmu sehingga kita mudah lupa dengan ilmu kita.
Catat selalu hal-hal penting atau sesuatu yang akan kita lakukan. Lalu tempel catatan itu di tempat-tempat yang sering kita Ialui atau tempat di mana kita sering berada, seperti di dapur bisa ditempel di lemari es.
Saat teringat sesuatu, segeralah kerjakan, jangan ditunda-tunda sehingga lupa lagi.
Mintalah pada teman atau orang terdekat untuk mengingatkan kita.
Jangan sering-sering bilang lupa, walau sebenarnya tak lupa. Akhirnya bisa jadi lupa beneran.
Berdoalah di awal hari agar dihindarkan dari sifat lupa yang tidak beralasan.
Segera membuat catatan di buku kecil dan disimpan dalam laci yang tidak mudah dijangkau anak-anak.
Tulislah di atas kertas berwarna dan ditempelkan pada pintu kulkas.
Jika ada janji buatlah agenda di handphone dan pasang alarmnya.
Segera kerjakan apa yang menjadi rencana hari ini, jangan ditunda-tunda.
Memberitahukan suami atau keluarga dekat agar mereka mengingatkan kembali yang akan kita lakukan.
Membuat mading (majalah dinding) di dalam kamar sehingga kita dapat menempelkan undangan, pengumuman sekolah, jadwal imunisasi bayi dan lain-lain.
Buat tali untuk barang yang mudah hilang atau terlupakan seperti, handpone, kaca mata dan lain-lain.
.Jika mempunyai anak kecil, buatkanlah mereka kotak mainan sesuai jenisnya, misalnya robot-robotan, kendaraan, binatang dan lain-lain agar mudah mencarinya.
Saat kita berada di tempat baru dan bertemu dengan orang yang belum kita kenal, perhatikan ciri khas yang ada pada mereka. Dengan nengingat yang khas, insya Allah kita tidak nudah lupa.
Jika kita punya janji, catat dan tempel di cermin, karena cermin adalah benda yang sering kita lihat agar sewaktu-waktu kita selalu teringat.
Bunyikan alarm untuk mengingatkan kapan kita harus menepati janji.
Sebelum pergi belanja, catat semua keperluan yang akan dibeli agar kita tidak lupa atau malah salah beli.
Kecuali dengan menyebut: "Insya-Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini" (QS. Al-Kahfi: 24).

Kiat Menjaga Hapalan

Kiat Menjaga Hapalan

Untuk menjaga dan menghapal kalam Allah memerlukan keistiqomahan dan kehati-hatian dalam setiap ucapan dan tingkah laku mengingat bahwa Al-Qur'an amat mudah terlepas dari ingatan. Untuk itu masih ada lagi berbagai tip agar hapalan menjadi kuat.
· Persiapkan diri seprima mungkin baik kesehatan fisik maupun ruhiyah dalam setiap memperbanyak hapalan.
Untuk memantapkan kelancaran hapalan lakukan muraja'ah (pengulangan) minimal tiga waktu dalam sehari (sebelum atau sesudah Subuh, sesudah shalat Ashar, dan sesudah shalat Maghrib).
Untuk mengatasi kejenuhan dalam muraja’ah hidangkan makanan kecil dan minuman untuk penyemangat.
Hindari maksiat atau dosa sekecil apapun dalam berucap dan bertingkah laku.
· Perbanyak mendekatkan diri kepada Allah untuk meminta bimbingan dan penjagaan-Nya dalam menjaga kalam-Nya.
· Selain dibaca dalam shalat jadikan sebagai wirid (rutinanitas) untuk membaca Al-Qur'an beberapa surat setiap selesai shalat sunah atau wajib.
· Selesai shalat berikutnya baca beberapa surat yang lain. Begitu seterusnya sampai akhirnya khatam Al-Qur'an.
Setelah khatam ulangi kembali wirid seperti di atas.
Dalam setiap kesempatan ajaklah lidah untuk selalu membaca Al-Qur'an.
· Di dalam rumah usahakan selalu terdengar lantunan ayat-ayat suci melalui tape recorder atau media lain.
· Dalam sehari semalam paling sedikit satu kali membuka Al-Qur'an dan membacanya.
Selain dibaca pahami juga makna yang terkandung dalam ayat tersebut.
· Yakinkan dalam hati bahwa pahala yang dijanjikan Allah memang pasti. Dengan demikian Insya Allah kita akan istiqamah untuk membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Pilih tempat yang sunyi dan bersih. Utamakan tempat untuk shalat.
Buat waktu-waktu khusus untuk mengingat kembali
hapalan Anda. Misalnya ba'da Maghrib, sebelum Subuh, dan setiap shalat.
· Selalu dibaca atau dihapal meski di luar waktu khusus. Misalnya ketika memasak, berolahraga, menjahit, dan di setiap waktu luang Anda.
· Tulis ayat yang akan Anda hapal hari ini di buku kecil sehingga mudah dibawa ke manapun Anda pergi.
Jika akan bepergian jauh bawalah selalu Al-Qur'an saku untuk dibaca di perjalanan.
· Jadikan kegiatan membaca dan menghapal Al-Qur'an sebagai rutinitas dan kebutuhan hidup.
· Adakan tes hapalan Qur'an tiap bulan sekali atau tiap bulan Ramadhan dengan dipandu ustadz, teman atau keluarga supaya kesalahan hapalan Anda bisa langsung diketahui, dikoreksi, dan dibenarkan.
· Untuk menambah semangat mintalah hadiah pada orang tua jika hasil tes Anda memuaskan. Perlu diingat hadiah tidak hanya berupa materi. Bisa dengan doa kedua orang tua agar kita menjadi anak yang shaleh. Semoga Allah SWT menguatkan hapalan Quran Anda sehingga lebih baik
dan bermanfaat. Amien.
Untuk hapalan juz' amma bacalah setiap shalat lima waktu secara bergiliran. Sehingga dalam sehari kita telah menjaga hapalan Al-Qur'an sebanyak sepuluh surat.
Usahakan mempunyai waktu khusus untuk tadarus Al-Qur'an setiap harinya supaya lidah kita lancar dan tidak kaku dalam membaca Al-Qur'an.
Mengajarkan hapalan Al-Qur'an kepada anak-anak (pengajian, TKA, TPA). Hitung-hitung sambil menyelam minum air karena mengajar sambil menghapal dan mengamalkan ilmu.
Mempunyai kaset murottal yang setiap saat bisa kita putar dan kita ikuti bacaannya.
Jika ada surat atau ayat yang susah dijaga hapalannya tulislah dan tempelkan di dinding kamar tepat di depan posisi kita tidur. Sehingga sebelum terlelap kita bisa selalu membacanya.

Kiat Praktis Menghafal Al-Quran

Kiat Praktis Menghafal Al-Quran
Sebagian anak ada yang cepat mendapat banyak ketika menghapalkan Al-Qur’an, namun cepat pula hilangnya. Hapalannya tidak wantek. Namun ada pula yang sulit untuk menghapal, tetapi ketika sudah hapal, sulit akan terlepas. Bahkan ada pula yang cepat menghapal, juga awt hapalannya. Ada pula yang apes, yaknmi sulit menghapal, juga sulit ketahanan hapalannya. Di bawah ini beberapa kiat agar hapalan Al-Qur’an bisa cepat, awet dan kuat serta bertahan lama.
· Sebelum mulai, hendaklah seorang anak disuruh mengambil air wudhu.
· Berdoa agar diberi kemudahan dan kelancaran oleh Allah serta agar bisa mengamalkannya.
· Sebelum menghafal, terlebih dahulu bacalah ayat yang akan dihafalkan dan pahami terjemahannya.
· Mulailah menghafal dengan cara membaca ayat tersebut secara berulang-ulang hingga hafal dan lancar.
· Lanjutkan ke ayat berikutnya dengan cara yang sama, begitu seterusnya.
· Ulangi kembali hafalan mulai pertama sampai terakhir
· Agar hafalan tidak mudah hilang dari ingatan, sering-seringlah dilafalkan atau dibaca ketika shalat.
· Jangan lupa untuk menjaga tajwid dan makhrajnya.
· Sebaiknya perdalam bahasa Arab. Bila kita menguasai bahasa Arab maka proses menghafal akan lebih mudah karena kita paham artinya.
· Dengarkan rekaman kaset tilawah di sore atau sesudah Maghrib atau menjelang tidur malam. Lakukan rutin setiap hari. Mulai dengan surat pendek. Setiap juz diulang terus sampai hafal, baru lanjutkan juz berikutnya.
· Bila di lingkungan tempat tinggal ada pengajian yasinan, hendaklah anak Anda ikut, karena di situ bisa hafal surat Yasin.
· Berdiskusi dengan teman atau adik-adik tentang satu hal yang langsung kita kaitkan dengan ayat atau surat yang kita hafalkan, sehingga jadi lebih membekas. Apalagi bila bisa langsung menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
· Sehari-hari usahakan sebisa mungkin bicara dalam bahasa Al-Quran.
Memang untuk menjadi seorang hafidz atau hafidzah yang teguh dan kuat hapalannya gampang-gampang sulit. Membaca Al-Qur'an itu sendiri merupakan ibadah. Rasulullah menganjurkan agar kita banyak-banyak membaca Al-Qur'an karena ia akan menerangi hati dan menyejukkan jiwa.
Pembekalan Jiwa Remaja
Selain konsep diri yang positif, anak juga perlu dibekali sembilan aspek yang harus dikembangkan secara bersamaan. Kesembilan aspek itu mulai dari faktor kesehatan, tauhid, ibadah, ahlak, hubungan sosial, emosi, kecerdasan, ketrampilan hidup, sampai masalah seksual.
Remaja harus diberi batasan yang jelas. Mereka harus dibekali rambu-rambu yang jelas, mana perbuatan dosa, mana yang tidak. Kehidupan hari-hari itu harus memiliki batasan yang jelas dan tegas. Selain itu, mereka juga memerlukan penjelasan yang masuk akal dari batasan yang diberikan.
Dalam kaitannya dengan masalah seksual, Ely meminta orang tua untuk lebih memperhatikan anaknya. "Dari hasil penelitian di beberapa propinsi menunjukkan orang tua tidak tahu kapan anak laki-lakinya pertama kali mimpi basah. Mereka kira-kira kalau suaranya sudah berubah. Bagaimana kalau anak di kamarnya membaca hal-hal yang merangsang, terus dia klimaks, dia tidak tahu yang mana madzi yang mana mani. Tidak tahu yang mana yang harus mandi yang mana yang wudhu. Terus ibunya memanggilnya menyuruh sholat Dhuzur, dia shalat tanpa mandi. Padahal, hasil penelitian saya anak kelas 4 SD sekarang 20% sudah mengalami menstruasi dan mimpi basah," papar Ely.
Dengan pembekalan yang memadai, anak akan siap menghadapi lingkungan di luar dirinya. Tetapi tentu saja, tetap dibutuhkan pengawasan dari orang tua. Remaja tidak bisa dilepas sepenuhnya. Yang mesti diingat, dalam melakukan pengawasan, hendaknya orang tua menghindari intimidasi. "Jangan bertindak sebagai sebagaimana CIA, FBI. Kalaupun melakukan itu, jangan sampai anak tahu." Remaja tetap harus diperlakukan dengan respek. Mereka tetap harus dhargai hak dan privasinya. Remaja sudah memasuki tahap 7 yang ketiga dari periode pentahapan pendidikan anak versi Ali bin Abi Thalib, yaitu menjadikan mereka sebagai teman.
Dari Ummu Salamah Rda mengatakan: Ummu Sulaim datang menemui Rasulullah Saw seraya mengatakan: Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak pernah malu menerangkan kebenaran. Adakah seoeranmg wanita wajib mandi tatkala mimpi basah?. Rasulullah pun menjawab: ya, jika ia melihat air (mani di pakaian dalamnya). Lantas Ummu Sulain menutupi wajahnya (karena malu). Ia melanjutkan pertanyaannya kembali: Adakah seorang wanita mimpi basah?. Beliau mengatakan: Ya. Semoga engkau bertudung kesejahteraan. Tersebab apa, seorang anak bisa menyerupai ibunya?
(HR. Bukhari dalam Kutubut Tis’ah, hadits no. 127).

Perihal yang Seringkali Dilakukan oleh Orang tua

Perihal yang Seringkali Dilakukan oleh Orang tua
Orang tua seringkali cenderung memerintah, menyalahkan, meremehkan bahkan membanding-bandingkan ketika anak bercerita. Gaya seperti ini, alih-alih melancarkan komunikasi, malah membuat komunikasi menjadi buruk. Hasil dari kornunikasi seperti ini, anak tidak memiliki konsep diri yang positif. Akibatnya, menurut Ely yang seringkali menjadi narasumber berbagai pelatihan ini, Anak tidak pernah menganggap dirinya cukup berharga. Konsep diri yang negatif ini sangat beresiko. "Mengapa? Anak kalau konsep dirinya negatif, dia enggak akan menganggap dirinya berharga, jual badannya gampang, buat pacarnya yang mengancam akan memutuskan saja, dia bisa jual badan;' tandas Ely.
Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, hendaklah orang tua memperhatikan beberapa hal. Pertama, lihat umurnya. Umur anak menentukan cara orang tua berkomunikasi dengan anaknya. Apa yang dapat mereka pahami pada usia itu, bagaimana cara berbicara dengan mereka agar pesan dapat ditangkap dengan baik? Kedua, situasinya harus menyenangkan, mengobrol, jangan menggurui. Pergunakan telinga lebih banyak daripada mulut. Bicarakan topik yang disukai anak. Apabila topik pembicaraannya berat, sampaikan dengan jujur kepada anak bahwa sebenarnya orang tua merasa berat untuk menyampaikan pesannya.
Persoalannya adalah, seringkali orang tua tidak mempunyai waktu untuk berkornunikasi dengan anaknya, atau mempunyai waktu tetapi tidak memiliki perhatian atau keberanian untuk berbicara dengan anak-anaknya. Pembicaraan tentang seks misalnya, seringkah masih dianggap tabu oleh sehagian orang tua. Padahal, menurut hasil penelitian beberapa perguruan tinggi di Amerika, anak-anak pra remaja yang diajak berbicara oleh orang tuanya tentang seks, akan memiliki pilihan seks yang lebih sehat. Dia bisa melindungi dirinya, bisa mengatakan 'Tidak' dan menunda kegiatan seksualnya.
Rasulullah bersabda: Zina menyebabkan melarat.
(HR. Baihaqi dari Ibnu Umar – hasan, Jami’us Shaghir, hal. 168).
Dari Anas bin Malik Ra mengatakan: Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya termasuk anda-tanda datangnya Kiamat adalah ilmu agam yang tampak menghilang, kebodohan (terhadap agama) menjadi innten, menjamurnya khamr dan semakin menggilanya tindakan zina.
(HR. Bukhari dalam Kutubut Tis’ah, hadits no. 78).
Ironisnya, tindakan yang melanggar syari’at itu semakin hari diperhalus dengan istilah-istilah yang tampaknya mengarah pada legalisasi. Dulu, wanita pezina disebut WTS (wanita tuna susila) enggak punya kedsusilaan dan adab. Kini diperhalus lagi menjadi PSK (pekerja seks komersial). Germo pun diperhalus dengan istilah mucikari, biar banyak yang enggak ngerti. Padahal semuanya masuk dalam lingkaran bisnis lendir yang terkutuk.
Islam masih menekankan nilai-nilai moral, bukan seperti Yahudi yang sudah tidajk mengenal lagi berbagai larangan yang termaktub dalam kitab mereka. Hal inilah yang menyebabkan Yahudi mengusai bisnis haram dalam berbagai aspek, baik perjudian, pelacuran, riba dan kejahatan internasional. Hal ini didukung oleh pendeta dan ulama mereka yang tidak pernah memberikan arahan untuk menghentikan perbuatan haram tersebut. Dengan demikian, diam mereka dianggap mengamini kerusakan moral publik.
Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?. Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu (QS. Al-Maidah: 63).
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu (QS. Al-Maidah: 79).

Komunikasi bagi Remaja

Komunikasi bagi Remaja
Untuk membekali remaja dengan baik, yang perlu diperbaiki adalah aspek psikososial, terutama disiplin dan komunikasi. Apa yang salah dengan komunikasi kita? Menurut Ely Risman, setidaknya ada dua kesalahan dalam komunikasi yang sering dilakukan oleh orang tua. Pertama, orang tua terlalu sibuk. Akibatnya, orang tua seringkali berbicara secara terburu-buru karena ingin cepat selesai. Misalnya, Ely mencontohkan, "Kamu sudah mandi belum? Ayo cepat mandi! Sudah mengerjakan PR belum? Orang tua menginginkan supaya anak menyelesaikan segala sesuatunya dengan cepat sehingga isi pembicaraannya kebanyakan perintah. Kita tidak duduk bersama-sama anak dan berpikir tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu dengan baik. Dalam kondisi terburu-buru seperti ini, jangankan untuk mendengarkan perasaan anak, mendengarkan perkataan secara lengkap saja tidak sempat dilakukan. Apalagi sampai membaca bahasa tubuh anak. Sebaliknya, anak juga tidak bisa mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh ibunya. Anak tidak mampu mengingat semuanya karena disampaikan dengan terburu-buru.
Kedua, kebutuhan dan keinginan orang tua berbeda dengan kebutuhan dan keinginan anak. Sebelum menyampaikan kepada anak, sebaiknya orang tua bertanya terlebih dahulu kepada dirinya, ini kebutuhan siapa, kebutuhan orang tua atau kebutuhan anak? Menginginkan anak menjadi pintar atau menjadi soleh, misalnya adalah kebutuhan orang tua, bukan menjadi kebutuhan anak. Oleh karena itu, orang tua harus menyampaikan kepada anak dengan baik agar anak juga merasa bahwa apa yang disampaikan oleh orang tua adalah kebutuhannya juga.Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS. An-Nahl: 125).

Remaja yang Moralnya Error

Remaja yang Moralnya Error
Memberikan bekal merupakan kewajiban orang tua yang mau tidak mau harus dilakukan. Namun, tidak semua orang tua mampu melakukannya dengan baik karena memang tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Menurut Ely Risman, Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, orang tua seringkali tidak mempunyai ilmu dan tidak mempunyai bekal yang cukup untuk menjadi orang tua. "Akibatnya, kita mendidik anak coba-coba. Kita baca, kemudian kita mengacu pada bagaimana orang tua kita dulu mendidik kita. Tetapi ternyata tidak cukup. Jadi banyak kekeliruan-kekeliruan yang kita lakukan dalam pengasuhan anak. Hal ini harus disadari bersama." Ini yang menyebabkan anak kekurangan informasi mengenai pengetahuan yang menyangkut perkembangan fisik dan jiwanya. Yang lebih membahayakan, jika anak menggali sendiri informasi yang tidak mendidik, baik dari kawan, dari majalah atau dari tayangan lucah. Sungguh pendidikan agama yang cukup, mutlak diperlukan agar anak betul-betul menjadi asset yang bisa membahagiakan dirinya untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat, juga mengantarkan kedua orang tuanya untuk menggapai ridha Allah. Bukankah Rasulullah telah bersabda:
Jika seorang hamba itu berbuat zina, maka imannya keluar darinya. Iman itu di atas kepala bagaikan asap. Jika ia menghentikan (bertaubat), maka iman itupun kembali kepadanya.
(HR. Abu Daud dan Hakim dari Abu Hurairah – shahih, Jami’us Shaghir, hal. 25).

Kondisi Seseorang Ketika di Akhirat

Kondisi Seseorang Ketika di Akhirat

Dari keterangan berbagai hadits, Al-Ghazali menyimpulkan bahwa setiap orang akan dibangkitkan dalam kondisi persis seperti ketika ia mati (mengenai bahagia atau pun celakanya di akhirat nanti). Dan kondisi kematian seseorang adalah persis sebagaimana ketika ia masih hidup. Artinya di akhirat seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan isi hatinya ketika ia hidup di dunia, bukan dari sosok tubuhnya. Dari sifat-sifat hati inilah mereka akan divisualisasikan (diwujudkan) dengan berbagai gambar konkrit. Sehingga jika saja seseorang ketika hidupnya banyak memakai sifat anjing, maka nanti di akhirat ia akan dibangkitkan berupa anjing pula. Jadi kondisi di akhirat nanti akan berbalik penuh, dimana anggauta zahir yang tampak di dunia ini akan menjadi batin. Dan apa yang batin dan bersemayam di hati ini ketika hidup di dunia, maka nanti akan tampak sejelas-sejelasnya. Namun yang paling menentukan adalah apa yang dinamakan khatimah, yakni sebuah akhir kehidupan dimana seseorang mendapat predikat bahagia (husn) atau pun celaka (suu’).Sebagai misal, jika saja seseorang dalam mengarungi kehidupan dunia ini pada paroh umur awalnya selalu menjalankan kebajikan dan berbagai amal ibadah. Namun ketika menjelang maut atau pada paroh akhir hayatnya ternyata ia bergelimang dengan berbagai dosa dan kemaksiatan, maka catatan yang menjadi acuan sebagai orang bahagia atau celaka di akhirat nanti adalah amal ketika ia dijemput maut, yakni ketika ia menutup kehidupannya. Begitu pula kebalikannya.

Selasa, 24 November 2009

Keluarga, Prioritas Proyek Dakwah

Keluarga, Prioritas Proyek Dakwah
Sebagaimana proyek dakwah lainnya yang membutuhkan perencanaan hingga evaluasi yang rapi, proyek dakwah dalam keluarga pun demikian. Beberapa langkah berikut adalah upaya yang dapat dilakukan seorang muslimah dalam menyusun proyek dalam keluarganya, di antaranya:
1. Alokasikanlah waktu bersama suami untuk membangun rencana strategis keluarga, yang dibagi dalam tujuh proyek dakwah keluarga, untuk jangka waktu lima tahun.
2. Buatlah turunan dari rencana tersebut untuk program tahunannya. Jangan lupa untuk menunjuk penanggungjawab setiap program. Sosialisasikanlah kepada pihak-pihak terkait, seperti khadimat, keluarga yang tinggal serumah, dan lain-lain.
3. Lakukan evaluasi dan masukan bagi perbaikan pelaksaan program selanjutnya.
Mungkin hasil yang Anda dapatkan tidak bisa memenulni semua harapan Anda. Namun, selagi masih memiliki semangat untuk memperbaiki proses dan berdoa penuh harap kepada Allah SWT. tentu jauh lebih baik daripada membiarkan proyek berharga ini terbengkalai begitu saja.
Yang lebih utama lagi, perhatikan shalat keluarga Anda, sebab dari situ moralitas keluarga akan menjadi bagus.
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al -Qur'an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al-Ankabut: 45).
Selain itu, shalat telah ditetapkan Allah sebagai alat untuk mensukseskan segala aktivitas positif keluarga Anda, terutama Allah akan segera memberi pertolongan terhadap apa yang Anda butuhkan. Periksa firman:
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (QS. Al-Baqarah: 45).
Pada pada lazimnya, yang paling berat adalah shalat Subuh, selaku ibadah yang amat besar pahalanya, apalagi bila dilaksanakan dengan berjamaah, baik di masjid-masjid atau pun di rumah beserta keluarga, sehingga amat memerlukan perhatian khusus
Al-Ghazali dalam Ihya’nya menerangkan bahwa di zaman sahabat, masjid-masjid penuh dengan hadirin yang menunaikan shalat Subuh, sehingga ketika Umar bin Khathab terbunuh oleh Abu Lu’luah, jamaah yang berada di belakang tidak mengerti peristiwa itu, saking banyaknya jamaah. Setelah Umar ditusuk, imam shalat langsung diambil alih oleh Abdurrahman bin Auf. Padahal pada biasanya, yang dibaca Umar ketika Shubuh adalah surah Yusuf. Hadirin hanya terbengong ketika surah yang dibaca beralih menjadi pendek, dan salat Subuh menjadi lebih cepat.
Itulah gambaran kurun sahabat ketika menjalankan shalat Subuh, memang pantas Islam berjaya di kurun itu, sehingga Rasulullah bersabda:
Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian mereka yang di belakanghnya, kemudian mereka yang di belakangnya. Kemudian setelah mereka datanglah kaum yang berusaha gemuk, mereka menyukai gemuk. Juga senang menjadi saksi sebelum mereka diminta.
(HR. Tirmidzi dan Hakim dari Imran bin Hushain –shahih, Jamius Shagir, hal. 148).
Kita kembali ke pokok permasalahan. Untuk itu kiranya sangat perlu menjelaskan berbagai tips untuk Membangunkan Anak agar melaksanakan Shalat Subuh dengan senang, bahkan bisa berjamaah dan di pagi buta. Buka setelah matahari terbit atau bahkan meninggalkan shalat.

Pendidikan Keluarga Dimulai Sejak Dini

Pendidikan Keluarga Dimulai Sejak Dini
dan berawal dari rumah. Meminjam istilah Bobbi De Porter dan Mike Hemacki, dalam teori Quantum Learning, pembelajaran masa kecil di rumah adalah saat-saat yang amat menyenangkan. Porter dan Hemacki mencontohkannya ketika anak usia satu tahun beiajar berjalan. Kendati dengan tertatih-tatih dan berkali-kali jatuh, toh anak pada Akhirnya mampu berjalan, tanpa merasa ada kegagalan. Suatu hal yang amat berbeda dengan pembelajaran orang dewasa.
Fungsi tarbiyah dalam keluarga pun menjadi sedemikian vital untuk mempersiapkan masa depan umat. Seiuruh anggota keluarga harus mendapatkan sentuhan tarbiyah untuk menghantarkan mereka menuju optimalisasi potensi, pengembangan kepribadian, peningkatan diri menuju batas-batas kebaikan dan maslahat dalam ukuran kemanusiaan. Bila demikian pentingnya urgensi keluarga sebagai laboratorium peradaban, mengapa proyek ini belum kita jalankan?
v Proyek Dakwah Keluarga
Abdullah Nasih Ulwan, dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam, menyebutkan 7 macam pendidikan integratif dalam keluarga. Tujuh macam pendidikan tersebut harus terarah secara sistemik dalam keluarga untuk mentarbiyah anggota keluarga menjadi hamba Allah yang taat, yang mampu mengemban amanah dakwah ini. Ketujuh pendidikan tersebut adalah pendidikan iman, pendidikan moral, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan islam, pendidikan sosial dan pendidikan seksual.
Sementara itu Hibbah Ar-Rauf, dalam bukunya Wanita Politik: Pandangan Islam, menambahkannya dengan pendidikan politik dalam keluarga, akan mengantarkan iman menjadi kokoh. Sebab pendidikan iman merupakan pondasi yang pokok bagi semua bagian pendidikan. Pendidikan iman akan menjadi bingkai kehidupan manusia, sebab memiliki landasan kokoh berupa iman. Seringkali budaya masyarakat menyebabkan degradasi akhlak al-karimah sehingga penguatan moralitas melalui pendidikan keluarga menjadi semakin signifikan manfaatannya.
Pendidikan psikis membentuk berbagai karakter positif kejiwaan, seperti keberanian, kejujuran, mandirian, kelembutan, sikap opinnistilk, dan serusnya. Karakter ini akan menjadi daya dorong anusia melakukan hat-hal terbaik bagi urusan dunia dan akhiratnya.
Pendidikan fisik tak kalah pentingnya. Dalam keluarga proses tumbuh kembang seorang anak bisa terpantau. Gaya hidup sehat dapat dibangun dalam keluarga, seperti mengkonsumsi makanan yang halal dan thayib, dan kebiasaan berolahraga. Proses ini sangat penting dalann menyiapkan kuatan fisik agar tubuh menjadi sehat dan kuat.
Pendidlikan intelektual harus dilakukan dalam keluarga sejak dini. Karena peradaban masa depan umat akan tergantung kepada kapasitas telektual generasi muda. Anggota keluarga harus memiliki kecerdasan yang memadai karena mereka akan bersaing dalam era giobalisasi. Hal ini harus dimulai dengan membangun kebiasaan belajar yang menyenangkan.
Peran sosial bermaksud menumbuhkan kepedulian sosial anggota keluarganya agar mereka memiliki kemampuan bersosialisasi dan menebarkan kontribusi positif bagi upaya perbaikan masyarakat. Dalam hal ini, menumbuhkan keterkaitan hati anak-anak dengan masjid adalah salah satu aspek yang perlu ditanamkan sejak dini. Peran sosial tersebut kini terancam virus individualistik yang merasuki sebagian besar masyakarakat. Virus tersebut menyebabkan tumpuinya perasaan seseorang terhadap berbagai persoalan yang membelit masyarakat di sekitarnya dan menimbulkan prinsip hidup individualis."
Pendidikan seksual diperlukan untuk membangun kesadaran anggota keluarga terhadap peran dan tanggungjawabnya berdasarkan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Selain pengajaran tentang kesadaran peran tersebut juga perlu ditekankan tentang pengetahuan, sikap dan perilaku yang benar dalam permasalahan kesehatan reproduksi. Bukan hanya kepada anak perempuan, namun juga kepada anak laki-laki. Sedangkan pendidikan politik dalam keluarga diperlukan untulk membangun kesadaran dan membangun kemampuan anggota keluarga dalam menyikapi berbagai persoalan politik yang erat kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat.

Selamatkan Keluarga dengan Dakwah

Selamatkan Keluarga dengan Dakwah


Keluarga adalah obyek dakwah yang harus serius mendapat perhatian seorang muslimah. Bila untuk proyek-proyek dakwah lainnya perlu penyusunan proposal hingga detil langkah implementasinya, mengapa tidak dalam keluarga?
Sebagai unit sosial yang paling kecil, keluarga sangat menentukan wama dan corak anggota keluarganya. Ia merupakan wadah pertama pembentukan sumber daya manusia. Dari keluargalah lahir generasi penerus yang akan meneruskan dakwah Islam sebagaimana cita-cita orang tuanya.

v Proyek Laboratorium Peradaban
Husain Muhammad Yusuf daam bukunya Ahdaf AI-Usrah Fil Islam menjelaskan, keluarga adalah batu pertama dalam membangun negara. Menurutnya, sejauh mana keluarga dalam suatu negara memiliki kekuatan dan ditegakkan pada landasan nilai, maka sejauh itu pula negara tersebut memiliki kemuliaan dan gambaran moralitas dalam masyarakatnya.

v Perhatian Islam pada Keluarga
Islam sangat menghargai keluarga sejahtera, bahkan dengan penghargaan yang begitu tinggi. Betapa tidak, keluarga adalah unit yang sangat mendasar di antara unit-unit pembangunan alam semesta. Di antara fungsi besar daiam keluarga adalah edukatif (tarbiyah). Dari keluarga inilah segala sesuatu tentang pendidikan bermula. Apabila salah dalam pendidikan awalnya, maka peluang akan terjadinya berbagai penyimpangan pada diri anak tentu semakin tinggi. Karena itulah pada dasamya Islam telah menjadikan tarbiyah sebagai atensi yang dominan dalam kehidupan. Abdul A’la Al-Maududi, seorang Ulama asal Mesir, mengartikan kata tarbiyah sebagai 'mendidik dan memberikan perhatian".
Setidaknya ada empat unsur penting dalam pendidikan. Pertama, menjaga dan memelihara fitrah obyek didik. Kedua, mengembangkan bakat dan potensi obyek didik sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Ketiga, mengarahkan potensi dan bakat tersebut agar mencapai kebaikan dan kesempumaan. Keempat, seluruh proses tersebut dilakukan secara bertahap.
Keempat unsur tersebut menunjukkan penting nya peran pendidikan dalam keluarga. Karena keluarga akan membentuk karakter anggotanya dan mewamai masyarakatnya. Singkatnya keluarga merupakan laboratorium peradaban. Dan bagi muslimah, yang secara umum merupakan penanggungjawab utama dan pertama dalam kehidupan keluarga, menyiapkan keseriusan dan kepurnaan program pengembangan dakwah keluarga tentu merupakan prioritas utama.