Jumat, 27 November 2009

Variasi Rasa Nyeri

v Paling Minimal dan Selektif
Setiap penderita nyeri, dari yang akut, nyeri kanker sam­pai yang kronis, boleh saja datang ke klinik itu. Namun, yang datang kemari biasanya penderita nyeri kronis," jelas dr. Aminuddin. Mereka rata-rata telah merasakan nyeri lebih dari 3 bulan. Ka­lau nyeri akut, misalnya aki­bat sakit gigi, orang tidak perlu datang ke sini. Biasa­nya dengan datang ke dokter gigi, nyerinya sudah beres.
Sejak dibuka resmi, keba­nyakan pasien yang datang menderita nyeri pada tulang belakang hagian bawah, tu­lang leher, tulang punggung. Ada pula pasien bedah tu­lang, gangguan metabolisme, rematik, dan nyeri kanker. Lebih dari 80% dari mereka dapat ditangani dengan baik. Selebihnya mereka ti­dak melaporkan perkembang­annya.
Tindakan untuk mengatasi penderitaan pasien dilakukan dengan mencari pangkal penyebabnya. Bila nyeri disebabkan oleh adanya penyakit tertentu, cara yang terbaik untuk menanganinya adalah dengan menghilangkan pe­nyakit itu. Misalnya, jika aki­bat sinusitis, pasien akan di­kirim ke dokter spesialis THT. Atau, kalau nyeri menyerang persendian anggota gerak, pasien dikirim ke bagian be­dah tulang. Kalau penyakit sudah disembuhkan, tapi nye­rinya masih saja dirasakan, si pasien kembali ditolong mengatasi rasa nyerinya.
Prinsipnya, dokter pada klinik ini berusaha membantu pa­sien sesuai disi­plin. ilmu yang dikuasai. Bila ber­kaitan dengan penyakit lain, pa­sien dirujuk ke dokter spesialis yang ada dirumah sakit itu juga. Misalnya ada pasien nyeri jantung, ia akan di­obati penyakit jantungnya. Ka­lau nyerinya kronis, padahal jantungnya su­dah baik, dia bo­leh berkunjung lagi.
Tindakan yang diambil pun diusahakan semi­nimal mungkin. Bila pengobat­annya cukup de­ngan teknik hip­nosis, biofeedback, relaksasi, atau manajemen stres (untuk nyeri akibat faktor kejiwaan), terapi itulah yang diberikan kepada pasien. Kalau nyeri bisa disembuhkan dengan obat, obatlah yang diguna­kan. Bisa dengan obat tung­gal, bisa pula dengan kombinasi beberapa obat. Peng­gunaan obat ini biasanya cu­ma sekadar menghilangkan atau mengurangi nyeri, dan sering diberikan untuk jangka waktu lama. Sementara bila saraf pera­sanya memang mesti dimatikan, tindakan itulah yang di­ambil. Begitu pula bila harus disembuhkan dengan cara pembedahan, para dokter kli­nik siap melakukan tindakan itu.
Penanganan nyeri dengan mematikan saraf akan dilaku­kan dengan sa­ngat selektif. Artinya, cuma saraf yang ber­kaitan dengan nyeri itu yang dimatikan. Ka­lau diputus­kan semua sa­rafnya, orangnya jadi boal (mati rasa), tidak pu­nya rasa panas, dingin, rasa sentuh. Itu cara kuno. Yang dila­kukan sekarang lain lagi, hanya dengan pain fiber. Ka­lau misalnya ada panas, pa­sien tetap mera­sakannya. Tapi nyeri tidak di­rasakannya.

v Dibantu alat canggih
Klinik nyeri itu didukung peralatan cang­gih. Di antaranya Radio Frequency Thermo Coagulation N-50 (RFTC N-50) yang berfungsi menghilangkan nyeri tanpa tindakan operasi. ZD computerized sfereotacfic yang berfungsi membantu RFTC N-50 membidik saraf pada pusat nyeri di otak yang hendak dimatikan. Dikatakan, kedua alat buatan Jerman yang baru pertama ada di Indonesia itu cukup aman dan akurat. Tapi di negara-negara maju, alat tadi sudah digunakan sejak satu dekade yang lampau.
Sebelum menggunakan alat RFTC N-50, dokter terlebih dahulu menentukan lokasi saraf penyebab nyeri. Melalui kulit, dimasukkan semacam jarum ke arah saraf yang hendak dimati­kan. Supaya ti­dak mengganggu saraf lain, alat ini dioperasikan berdasarkan im­pedansi (semacam tahanan lis­trik), suhu, dan waktu yang efektif hanya untuk menonaktifkan saraf yang dibidik.
Untuk mencapai jaringan saraf, alat disetel sesuai de­ngan impedansi saraf tersebut. Jadi, kalau tidak mengenai jaringan saraf yang dituju, alat ini tidak mau beker­ja. Ja­ringan saraf umpamanya, memiliki impedansi di bawah 400 ohm. Impedansi jaringan cairan otak 800 - 1.000 ohm.
Lantaran suhu maksimal saraf yang berbeda-beda, RFTC N-50 juga dilengkapi sensor suhu. Kalau alat sudah diset pada temperatur maksimal untuk saraf perasa, saraf penggerak tidak akan terganggu, sebab kalau temperaturnya lewat, maka alat akan mati. Lagi pula, saraf perasa mudah dinonaktifkan pada suhu yang lebih rendah ketimbang untuk saraf penggerak. Dengan demikian tidak perlu khawatir saraf penggerak ikut terkena. Waktunya pun bisa diatur supaya saraf yang dinonaktifkan tidak gosong.
ZD computerized stereofactic biasanya diperlukan bila rasa nyeri dihilangkan de­ngan menonaktifkan pusat nyeri di otak. Ada beberapa titik inti saraf di otak yang merupakan kumpulan "kabel" rangsang nyeri yang menuju ke otak. ZD computerized stereotacfic ber­fungsi menentukan titik yang dituju. Dengan program komputer khusus, letak titik tadi bisa diketahui dengan tepat. Di titik itulah dilakukan perusakan saraf dengan meng­gunakan RFTC N-50. Sebelumnya mesti dibuatkan lubang kecil tempat lewatnya "jarum" RFTC N-50. Dengan penggunaan alat canggih ini, pasien tidak memerlukan perawatan lama di rumah sakit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar