v Paling Minimal dan Selektif
Setiap penderita nyeri, dari yang akut, nyeri kanker sampai yang kronis, boleh saja datang ke klinik itu. Namun, yang datang kemari biasanya penderita nyeri kronis," jelas dr. Aminuddin. Mereka rata-rata telah merasakan nyeri lebih dari 3 bulan. Kalau nyeri akut, misalnya akibat sakit gigi, orang tidak perlu datang ke sini. Biasanya dengan datang ke dokter gigi, nyerinya sudah beres.
Sejak dibuka resmi, kebanyakan pasien yang datang menderita nyeri pada tulang belakang hagian bawah, tulang leher, tulang punggung. Ada pula pasien bedah tulang, gangguan metabolisme, rematik, dan nyeri kanker. Lebih dari 80% dari mereka dapat ditangani dengan baik. Selebihnya mereka tidak melaporkan perkembangannya.
Tindakan untuk mengatasi penderitaan pasien dilakukan dengan mencari pangkal penyebabnya. Bila nyeri disebabkan oleh adanya penyakit tertentu, cara yang terbaik untuk menanganinya adalah dengan menghilangkan penyakit itu. Misalnya, jika akibat sinusitis, pasien akan dikirim ke dokter spesialis THT. Atau, kalau nyeri menyerang persendian anggota gerak, pasien dikirim ke bagian bedah tulang. Kalau penyakit sudah disembuhkan, tapi nyerinya masih saja dirasakan, si pasien kembali ditolong mengatasi rasa nyerinya.
Prinsipnya, dokter pada klinik ini berusaha membantu pasien sesuai disiplin. ilmu yang dikuasai. Bila berkaitan dengan penyakit lain, pasien dirujuk ke dokter spesialis yang ada dirumah sakit itu juga. Misalnya ada pasien nyeri jantung, ia akan diobati penyakit jantungnya. Kalau nyerinya kronis, padahal jantungnya sudah baik, dia boleh berkunjung lagi.
Tindakan yang diambil pun diusahakan seminimal mungkin. Bila pengobatannya cukup dengan teknik hipnosis, biofeedback, relaksasi, atau manajemen stres (untuk nyeri akibat faktor kejiwaan), terapi itulah yang diberikan kepada pasien. Kalau nyeri bisa disembuhkan dengan obat, obatlah yang digunakan. Bisa dengan obat tunggal, bisa pula dengan kombinasi beberapa obat. Penggunaan obat ini biasanya cuma sekadar menghilangkan atau mengurangi nyeri, dan sering diberikan untuk jangka waktu lama. Sementara bila saraf perasanya memang mesti dimatikan, tindakan itulah yang diambil. Begitu pula bila harus disembuhkan dengan cara pembedahan, para dokter klinik siap melakukan tindakan itu.
Penanganan nyeri dengan mematikan saraf akan dilakukan dengan sangat selektif. Artinya, cuma saraf yang berkaitan dengan nyeri itu yang dimatikan. Kalau diputuskan semua sarafnya, orangnya jadi boal (mati rasa), tidak punya rasa panas, dingin, rasa sentuh. Itu cara kuno. Yang dilakukan sekarang lain lagi, hanya dengan pain fiber. Kalau misalnya ada panas, pasien tetap merasakannya. Tapi nyeri tidak dirasakannya.
v Dibantu alat canggih
Klinik nyeri itu didukung peralatan canggih. Di antaranya Radio Frequency Thermo Coagulation N-50 (RFTC N-50) yang berfungsi menghilangkan nyeri tanpa tindakan operasi. ZD computerized sfereotacfic yang berfungsi membantu RFTC N-50 membidik saraf pada pusat nyeri di otak yang hendak dimatikan. Dikatakan, kedua alat buatan Jerman yang baru pertama ada di Indonesia itu cukup aman dan akurat. Tapi di negara-negara maju, alat tadi sudah digunakan sejak satu dekade yang lampau.
Sebelum menggunakan alat RFTC N-50, dokter terlebih dahulu menentukan lokasi saraf penyebab nyeri. Melalui kulit, dimasukkan semacam jarum ke arah saraf yang hendak dimatikan. Supaya tidak mengganggu saraf lain, alat ini dioperasikan berdasarkan impedansi (semacam tahanan listrik), suhu, dan waktu yang efektif hanya untuk menonaktifkan saraf yang dibidik.
Untuk mencapai jaringan saraf, alat disetel sesuai dengan impedansi saraf tersebut. Jadi, kalau tidak mengenai jaringan saraf yang dituju, alat ini tidak mau bekerja. Jaringan saraf umpamanya, memiliki impedansi di bawah 400 ohm. Impedansi jaringan cairan otak 800 - 1.000 ohm.
Lantaran suhu maksimal saraf yang berbeda-beda, RFTC N-50 juga dilengkapi sensor suhu. Kalau alat sudah diset pada temperatur maksimal untuk saraf perasa, saraf penggerak tidak akan terganggu, sebab kalau temperaturnya lewat, maka alat akan mati. Lagi pula, saraf perasa mudah dinonaktifkan pada suhu yang lebih rendah ketimbang untuk saraf penggerak. Dengan demikian tidak perlu khawatir saraf penggerak ikut terkena. Waktunya pun bisa diatur supaya saraf yang dinonaktifkan tidak gosong.
ZD computerized stereofactic biasanya diperlukan bila rasa nyeri dihilangkan dengan menonaktifkan pusat nyeri di otak. Ada beberapa titik inti saraf di otak yang merupakan kumpulan "kabel" rangsang nyeri yang menuju ke otak. ZD computerized stereotacfic berfungsi menentukan titik yang dituju. Dengan program komputer khusus, letak titik tadi bisa diketahui dengan tepat. Di titik itulah dilakukan perusakan saraf dengan menggunakan RFTC N-50. Sebelumnya mesti dibuatkan lubang kecil tempat lewatnya "jarum" RFTC N-50. Dengan penggunaan alat canggih ini, pasien tidak memerlukan perawatan lama di rumah sakit.
Jumat, 27 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar