Jumat, 27 November 2009

Terapi Nyeri

Melibatkan multidisiplin
Klinik nyeri dibuka untuk meno­long orang yang menderita nyeri berkepanjangan. Klinik ma­cam ini memang belum popu­ler di kalangan pasien. Sebah, baru muncul belakangan, jauh setelah klinik bersalin, klinik mata, klinik THT dan sebagainya diadakan di berbagai rumah sakit. jumlahnya pun beluni banyak. Apalagi yang sifatnya ter­padu dengan melibatkan ber­bagai spesialisasi lainnya seperti pada Klinik Nyeri RS Jakarta.
Klinik nyeri di­adakan karena memang semakin dibutuhkan ma­syarakat. Hasil penelitian Davis, Botterell, dan Munro menunjuk­kan, nyeri dide­rita oleh 30% pen­duduk, baik di negara maju maupun berkem­bang, di kota be­sar maupun pe­desaan. "Rumah sakit kami, yang baru selesai dan dilengkapi de­ngan klinik nyeri ini, memang dibangun dengan memperhatikan kebutuhan dan keinginan masyarakat," ujar dr. H. Cholid, SKM., direktur RS Jakarta.
Karena semua nyeri ber­hubungan dengan saraf, "ga­wang" klinik yang dibuka pada 2 Agustus 1995 lalu ini dijaga oleh dokter saraf dan bedah saraf. Ruang tempat menerima pasien berada di lantai I gedung rumah sakit di kawasan JL Jend. Sudir­man, Jakarta, Kabarnya, berapa klinik nyeri lain sudah dibuka. "Tapi yang memiliki 'label' multidisiplin baru di sini," jelas dr. Aminuddin, salah satu. dokter ahli bedah saraf di sana. Menurutnya, klinik nyeri ini melibatkan
Itu hampir seturuh disiplin yang ada di dunia kedokteran.
Be­berapa dokter spesialis yang bakal terlibat dalam penanganan pasien di antaranya dokter saraf, bedah saraf, ortopedi, penyakit dalam, kar­diologi/jantung, rehabilitasi medik, jiwa, THT, kandungan, dan sebagainya. "Hampir seluruh spesiali­sasi yang berhubungan de­ngan nyeri dilibatkan," tam­bah dr. Ali Shahab, dokter bedah saraf lainnya. Di sinilah nyeri ditelusuri penyebabnya dan ditangani sampai tuntas. Begitu pasien datang, langsung dikorek informasi tentang lamanya menderita, lamanya pengobatan yang telah dilakukan, dokter yang pernah menangani, pemerik­saan yang telah dilakukan, dan pengobatannya. Bila te­lah dilakukan pemeriksaan laboratoris maupun radiologis, hasilnya dianalisis dan dipel­ajari semuanya, sampai bisa menyimpulkan penyebab­nya. Juga, menentukan cara penyembuhan paling tepat. Kalau nyerinya saja yang dihilangkan tanpa mengetahui penyebabnya, penyakit yang menyebabkan nyeri itu akan terus merongrong tanpa di­sadari. Ini akan berakibat fa­tal atau bahkan menjadikan cacat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar