Saya Menderita Basedow
Sekarang memang sudah sembuh, tetapi mungkin pengaiaman saya bisa bermanfaat bagi penderita lain. Salah satu gejala penyakit basedow ialah mata yang menonjol. Bekas operasi di leher saya untung tidak kentara.
Saat itu saya baru menginjak usia 23 tahun,” kata Afifah, “Tiba-tiba haid saya menjadi tidak teratur dan jauh kurang dari biasanya. Dokter menduga saya menderita kurang darah. Tiga bulan kemudian saya mulai merasa kedua lutut saya begitu lemah, sehingga saya harus berpegangan sambil merayap bila menaiki tangga di rumah. Padahal sejak kecil saya biasa menaiki tangga itu sambil berlari melompati dua anak tangga sekaligus. Saya pikir, Ah, ini cuma akibat kurang berolahraga saja. Tapi bagaimana hendak berolahraga, kalau berjalan saja adakalanya terjatuh tanpa terasa, imbuh Afifah lebih lanjut.
v Jago makan
Afifah mengatakan lagi: Saya juga tak habis pikir mengapa saya yang biasanya penidur menjadi sukar tidur dan selalu berkeringat, malas merapikan kamar dan amat sulit berkonsentrasi. Saya sulit mengendalikan gerak tangan saya pada saat menulis, sehingga tulisan saya menjadi jauh lebih buruk dari biasanya dan sering melanggar garis. Karena selalu ingin terburu-buru, saya sering menjatuhkan dan memecahkan barang. Saya sempat 'mengganyang' sekaleng besar biskuit dalam tiga hari saja, karena tak tahan duduk diam dalam 5 menit sekali pun. Saya juga mesti pergi ke ahli perawatan kulit untuk mengatasi jerawat yang menjamur pada wajah saya.
Sungguh mengherankan bahwa saya tetap 'tenang-tenang', saja ketika iseng-iseng saya menghitung detak jantung saya: 120 per menit! Kakak saya melihat kelainan yang tampak pada saya: kurus dan mata menonjol. Ia langsung menduga saya menderita basedow (hyperthyroidisme). Saya dibawanya memeriksakan diri ke seorang dokter ahli penyakit dalam. Dugaannya benar. Saya langsung diopname. Di rumah sakit, 'makanan utama' saya adalah PTU (Prophylthiouracil) berbentuk puyer, diminum setiap enam jam. Selain pahit sekali, gara-gara PTU setiap pukul 04.00 tidur saya terganggu, karena harus minum puyer tadi.
Seperti pada umumnya penderita basedow, nafsu makan saya besar sekali. Saya tidak perlu berpantang apa pun. Basedow menyebabkan segalanya di dalam tubuh saya berlangsung dan bekerja secara 'kilat khusus', termasuk metabolisme, sehingga betapa banyaknya pun saya makan, saya tidak perlu khawatir gemuk. Malah tubuh saya semakin kurus, karena makanan yang sempat terserap oleh tubuh tidak seberapa, hanya 'numpang lewat' saja. Setelah dua minggu di rumah sakit, saya diizinkan pulang. Dengan bekal sekantung penuh bungkusan puyer tadi saya kembali ke bangku kuliah. Dokter yang menangani saya belum dapat memastikan apakah saya perlu dioperasi atau tidak, karena harus mengamati perkembangan saya selanjutnya. Namun, saya senang mendengar ketika dokter berkata, "Kalau mungkin, kamu tidak perlu dioperasi."
Demikianlah saya terus minum PTU dengan dosis yang semakin berkurang dan tidak perlu dalam bentuk puyer lagi. Saya juga terbiasa mengecek detak jantung saya dan memang jumlah denyut nadinya terus menurun sampai normal kembali. Tetapi secara berkala saya harus memeriksakan darah di lab untuk tes T3 dan T4.
v Lekas Marah
Sebutan lain untuk hyperthyroidisme adalah basedow atau Graves' disease. Gejala penderita yang satu tidak persis sama dengan yang lain. Namun, gejala-gejala umumnya adalah: mudah berkeringat, lemas, gugup, lekas marah, cemas, tidak bisa diam, tidak bisa tidur, lapar terus tapi berat badan turun, sembelit atau malah diare, tremor (tangan gemetar), haid tidak teratur, tekanan darah naik, bola mata menonjol, kegiatan usus meningkat, rambut mudah putus dan rontok, ada kalanya leher membesar (94,19%). Wanita penderita hypertbyroidisme pada umumnya sulit bamil, sering keguguran atau cenderung melahirkan prematur.
Wanita hamil kadang-kadang mengalami gejala menyerupai hypertyroidisme ringan, namun tanpa diobati bisa pulih sendiri. Seorang penderita psikosomatis sering pula mempunyai gejala mirip dengan hyperthyroidisme ini, seperti banyak berkeringat, jantung berdebar-debar, cemas dan sebagainya, sehingga sering diduga menderita hyperthyroidisme.
Penyebab hypertbyroidisme adalah karena kadar T3 dan T4 meningkat. T3 dan T4 adalah hormon yang diproduksi oleh kelenjar gondok. Akibat semuanya ini pertukaran zat dalam tubuh meningkat jauh di atas normal. Pengatur metabolisme tubuh menjadi terlalu aktif.Untuk memastikan seseorang menderita hyperthyroidisme, yang pertama-tama dilakukan oleh dokter biasanya pemeriksaan labaratorium untuk mengukur kadar T3 dan T4. Pemeriksaan lain ialah dengan scanning thyroid, untuk melihat bentuk kelenjar gondok. Alat ini hanya ada di Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Cara lain dengan USG (ultra sonography).
Jumat, 27 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar