v Kurangi Nyeri Kanker
Yang mirip dengan terapi seni di Hongkong itu pun ada di Jakarta. Dinamai psychosocial education, terapi tersebut merupakan bagian dari kegiatan Instalasi Rehab Medis RS Kanker Dharmais. "Pasien pengidap kanker mengalami penderitaan total yang meliputi fisik, psikis, sosial. Jadi bukan hanya penyakitnya, kami pun mencoba menolong mengatasi penderitaan psikisnya," ujar Siti Annisa Nuhanni, D.S.R.M., kepala bagian Instalasi Rehab Medik RS Kanker Dharrnais.
Dengan cara kerja multidisiplin, yang melibatkan mulai dari para dokter, fisioterapis atau terapis yang lain, pekerja sosial, dan rohaniwan, psychososial education menyelenggarakan bermacam acara seperti kegiatan rohani, menyanyi, bermain angklung, melukis dan berpantun.
Pemikiran penyelenggaraan kegiatan tersebut muncul setelah saya membaca bahwa bentuk kegiatan semacam itu akan memudahkan para pasien kanker untuk mengeluarkan keluhannya secara iisan, yang czkhirnya mernbantu melepaskan kesakitan yang ia rasakan," papar Nuhanni.
Ia tidak menyangkal, pada saat pertama kali memegang pastel, para pasien hanya diam karena bingung apa yang akan dilukis. Namun, menurut pengamatan dokter yang juga berdinas di RSCM tersebut, lukisan pasien-pasien itu mampu mewakili suara hati mereka.
Nuhanni masih ingat, ketika ada seorang pasien wanita hanya menggambar sebuah kursi coklat. Setelah'dipancing-pancing, ternyata itu kursi kesayangan yang selalu didudukinya setelah melakukan berbagai tugas rumah tangga. "Jadi sesungguhnya ia sedih, karena ia tidak ada di rumah. Rindu pada keluarga. Tapi, ia hanya mengatakan `Kasihan, kursi ibu sendian di rumah," Nuhanni menirukan pasiennya. Dari sanalah para anggota tim psychosocial education bisa melakukan pendekatan atau menjadi wadah bagi para pasien untuk menuangkan berbagai masalah emosi lainnya.
Selain dimanfaatkan oleh para dokter untuk; menjelaskan berbagai tindakan pengobatan yang kadang-kadang kurang menyenangkan, kegiatan yang diadakan tiap Selasa, pukul:10.00 - 11:00 WIB itu juga dijadikan wahana untuk saling berbagi pengalaman.
"Nanti kalau sudah selesai juga akan tumbuh lagi. Nah, sementara masih gundul, bisa saja pakai rambut palsu atau kopiah," kata Nuhanni menirukan pesan salah satu mantan pasien, saat menguatkan para pasien lain yang sedang menjalani kemoterapi untuk tidak malu, karena berkepala gundul.
Kamis, 26 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar