Dari pati ke lem kanji
Tetapi bagaimana mercka mengubah pati singkong menjadi gula fruktosa?
Kalau dipikir-pikir, prosesnya tidak serumit proses pembuatan gula pasir dan tebu. Tetapi juga tidak begitu sederhana sebagamana digampang-gampangkan olch para penganjurnya. Ubi kayu yang sudah dicuci bersili, dirajang dan digiling dengan mesin, sambil diguyur air, agar dapat diambil sari patinya. Pabrik yang harus mengolah singkong berton-ton sehari, tidak sempat mengupas singkong kulit ubi itu satu per satu. Lagi , air yang mengandung pati itu toli bisa melayang sendiri di bagian atas nanti, dan dapat dialirkan ke bak lain, sementara kulit, ampas Jan kotoran mengendap dengan sendirlya di bagian bawah bak penampung hasil rajangan.
Air berpati ini setelah berkumpul cukup banyak perlu diencerkan lagi, sampai diperolch larutan yang kepekatan tepungnya tetap inantap, sekitar 35%. Larutan seencer inilah yang kemudian dicarnpur dengan asam chlorida encer dulu agar suasananya asarn (pH antara 6,0 dan 6,5), schingga mudah diionisasikan. jadi lebili cepat buyar berantakan. Kemudian dibubulikan enzim alphaaiti),lase (diperdagangkan sebagal Termarnyl) sambil dipanaskan. "alam suasana asarn panas inilah, zat pati yang ada diubah menjadi dextrin sermia, hanya dalam bebcrlpa jam saja.
Dextrin ialah zat pati juga, tetapi berbentuk lain, yang sebenarnya sudah lamajuga kita kenal sebagai lem kanji. Di Amerika, dextrin jagung waxy corn, Zea tnays eratina, digunakan secara besar -besaran untuk merekat Prangko, meterai tempel dan surat udara.
Bagaimana cara kerja enzim itu dalam proses bongkar-membongkar molekul zat pati menjadi moIckul dextrin itu? Umat manusia baru mengetahui seluk beluk enzim, ketika para kimiawan pada tahun 1800 mempelajari reaksi kimia akibat scsuatu zat yang dlhasilkan olch ragi Saccharomyces. Lalu mereka menggunakan istilah Yunam, enzyme, (yang berarti ragi), bagi zat itu. Ragi (Saccharomyces) yang menghasilkan ragi (,enzim)!
Pada penelitian itu ditarik kesimpulan, bahwa cairan yang diperas dari ragi bir Saccharomyces carlsbergensis berlaku seperti anak kuncl pembuka proses, terbuat dari rangkaian atom yang terus menerus bergerak.
Untuk memahami kesimpulan ini, marilah membayangkan bahwa sebutir sel ragi dapat kita gilas sampai gepeng, dengan penggilas adonan kue. Andaikata kita mampu menggilas sampai beberapa juta kali, niscaya butiran sel ragi yang semula sebesar titik. pada huruf 1 ini sudah pipih seperti kain plastik panjang lebar, yang meliputi seluruh Lapangan Banteng. Sekarang barulah tampak bahwa ragi itu tersusun dari atom dan elektron ribuan juta billiun banyaknya. Semuanya tidak diam seperti besi tua, tetapi bergerak terus-mencrus, selama hayat dikandung badan. Tiap elektron saling balapan mengelilingi proton pada masilig-masing atom. Atom yang membentuk molckul berputar-putar seperti pcluru lager roda gila. Gigi roda yang satu pas betul masuk ke-gigi roda yang lain.
Namun enzim itu belum juga berhasil dibuat secara sintetik. Ia masih terpaksa dibuat dengan Jalan membiakkan bakteri (Bacillus) dan kapang (Aspergillus), kemudian mernisahkan enzim buatannya masing-masing dari sisa isi tempat pembiakan. Alpha-amilase, untuk memecah arnylum menjadi dekstrin, dihasilkan dari biakan murni Bacillus subtilis, dan sudah lama diperdagangkan di Amerika sebagai Buclamase dan Fortizyme. Di kalangan kedokteran, ia dipakai sebagai digestan, pendobrak kemacetan pencernaart makanan dalam usus halus, karena produksi amylase buatan pancreas sendiri kurang. (Perut terasa sebah). Sayang, enzim ini tidak tahan suhu tinggi, sehingga untuk tugas dalam. pabrik gula singkong kurang mernuaskan. Kita kemudian beralih memakai Tertnamyl (alpha-amylase juga, yang tahan suhu tinggi), hasil biakan murni Bacillus licheniformis. Amylo-glucosidase, untuk memecah dekstrin lebih lanjut.menjadi glukosa, dihasilkan dari biakan murni Aspergillus niger. SeJenis kapang, yang biasa timbul pada buah~buahan, sayuran dan bahan makanan yang membusuk.
Sweetzyme (isomerase yang mendorong isomed glukosa menjadi fruktosa) dihasilkan dari biakan murni Bacillus coagulat's. Pembuatan enzim untuk industri gula singkong ini dikembangkan olch Novo industri, Bagsvaerd, Denmark. Tetapi dalam waktu singkat telah ditiru oleh negara lain, yang merasa perlu mencari gula pengganti bagi gula tebunya. Mudah-mudahan Indonesia kita dapat mendirikan pabrik enzim. Sendiri juga, dalam waktu yang tidak usah terlalu lama.
Enzim arnylase pun, mula-mula bergabung dengan molckul besar zat pati yang akan dibongkar itu, seperti anak kunci bergabung dengan kunci pintu rumah hantu, dengan jalan masuk ke dalam lubang kunci. Kemudian, karena kunci itu diputar dan gigi-giginya pas betul dengan gigi-gigi induk kunci pada pintu, maka pintu itu bisa dibuka. Tetapi kunci arnylase tidak perlu kita putar. la bisa berputar sendiri, kemudian memecah ikatan molekul besar zat pati yang telah dimasukinya. Sesudah molekul zat pati pecah dan molekul pecahannya berantakan, kunci amylase itu lepas lagi sendiri meninggalkan lubang dari molelcul pertama tadi. Ia pindah ke molekul zat pati lain yang belum berantakan. Begitu seterusnya, ia. Keluar-masuk lubang kunci berulang-ulang, puluhan juta kali.
Karena enzim kadang-kadang disebut juga ferment, maka proses yang.digerakkan oleh anak kunci bergigi itu tidak lazim disebut enzimasi, melainkan fermentasi.
Dari lem ke gula Dextrin hasil fermentasi kemudian dipompa ke dalam tangki penggulaan untuk diragikan lebib lanjut menjadi gula glukosa. Sekarang proses dilanj'utkan olch enzim atnylo-glukosidase, dengan dibubuhl asam chlorida (agar pH cairan turun menjadi 4,5), kemudian dipanaskan pula. Dalam waktu. 2 hari, hasilnya dapat dipungut, berupa sirop gula glukosa. Tetapi sudah tentu masili kotor. Karena itu semuanya dipompa ke tempat penyaringan, berisi karbon (arang) aktif, yang daya penyerapan kotorannya kuat sekali. Bagi Indonesia kita, karbon aktif ini juga barang impor. Tetapi sudah lama juga diangan-angankan untuk tidak mengimpor karbon aktif semacam itu lagi, kalau kita berhasil membuatnya sendiri darl tempurung kelapa yang dibuang percuma berlimpah-limpah sebagai limbah.
Tampilkan postingan dengan label penget. umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penget. umum. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 November 2009
Gula Fruktosa Dari Singkong 2
v Masih berkerabat
.Tetapi omong-omong, kita ini sudah ceplas-ceplos berbicara tentang fruktosa, sakarosa, dan amylum, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah itu. Amylum atau zat pati seperti yang terkandung dalam nasi putih, kalau cukup lama kita kunyah, makin lama makin terasa manis, karena pengaruh enzim ptyalin dari air liur. Mengapa?
Diteorikanlah oleh para kimiawan organik bahwa amylum itu tersusun dari berjuta-juta molekul monosakarida yang merangkai menjadi rantai panjang polisakarida. Polisakarida amylum ibarat satu keluarga besar terdiri dari ayah-ibu, anak-anak dan cucu-cucu yang sedang reuni, bergandengan, tangan berlapis-lapis sedang 'foto-bersama'. Kalau kemudian diurak-urak lagi (diurai olch kerja enzim) sampai bercerai-berai, maka pecahan polisakarida amylum itu dapat ditemukan kembali sebagai kumpulan molekul yang lebih kecil. Bisa berupa disakarida maltosa (kalau yang mencerai-beraikan itu enzim ptyalin dalam mulut kita), bisa juga monosakarida glukosa. (kalau yang menggempur itu enzim amylase).
Berkat gagasan Jacobus van 't Hoff (pemenang hadiah Nobel untuk Kimia tahun 1901) dan Le Bel tentang struktur molecul stereometris, yang dituangkan dalam buku mereka La chimie dans l’espace, tahun 1875 dulu, kita kini mewarisi gambaran bagainiana struktur molekul monosakarida. itu, yang disempurnakan oleh Haworth dari Inggris tahun 1927. Ia berupa rantai 6 atom Karbon yang melinglcar dalam ruang, bersama 6 atom Oksigen, yang di sana sini menggandeng 12 atom Hidrogen.
Dalam praktek, monosakarida yang sedang kita bicarakan. ini sudah lama kita kenal sebagai glukosa, yang dirumuskan dalam buku pelajaran kimia SMTA sebagai C6H1206. Sejenis gula sederhana, yang manisnya tidak seberapa. Glukosa terdapat antara lain dalam darah kita. Kalau kebanyakan, kita malah dikatakan sakit gula sampai dicium semut. . Molekul glukosa ini kadang-kadang juga bertingkah. Ia berubah susunan menjadi molekul fruktosa, sehingga sifatnya pun berbeda. Padahal atom-atom yang menyusunnya tetap sama, berupa Karbon, Hidrogen dan Oksigen. Peristiwanya boleh diibaratkan sebagai pergantian kelamin anak laki-laki menjadi gadis. Masih manusia juga. Hanya susunannya yang berbeda. Perubahan struktur molekul dari glokosa menjadi fruktosa, tanpa kehilangan atau ketambahan apa-apa ini, yang di kalangan kimiawan dikenal sebagal stereoisomeri, malah kebetulan bagi umat manusia. Soalnya, fruktosa itu terasa lebih manis daripada glukosa. Fruktosa sebenarnyajuga sudah lama kita kenal dan temuka secara alami dengan rumus C6H1206 juga, dalam sari buah, sayuran manis, dan madu lebah.
Kalau glukosa dan fruktosa menggabung menjadi satu molekul disakarida (ibarat dua muda-mudi yang berumah tangga. menempuh hidup baru), maka yang diperoleh bukan disakarida maltosa seperti yang kita rasakan setelah mengunyah nasi putih), melainkan semacam gula lain yang dikenal sebagai sakarosa seperti yang dihasilkan dari tebu dan bit gula. Ketika orang menemukan teknik pembuatan gula sakarosa untuk pertama kalinya dulu, umat manusia seluruh dunia bergembira, karena bisa membeli gula pasir yang lebih manis dan lebih praktis, daripada gula glukosa (dari sari buah) dan fruktosa (dari madu). Tetapi kini, gula sakarosa sudah, tidak murah lagi, dan kita mau kembali ke zaman pemakaian fruktosa lagi.
Lebih alamiah
Jepang sudah sejak tahun 1970 menghasilkan gula fruktosal meskipun bukan dari singkong, tetapi jagung. Di Indonesia, setelah studi yang mendebarkan, Departemen Pertanian baru belakangan ini (tahun 1982) memelopori pendirian pabrik gula singkong di jawa Timur dan Sumatra Selatan dengan harapan. bisa sekah merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Yaltu mengatasi kekurangan gula (dari tebu), menolong para petani singkong (untuk memasarkan hasil karyanya ke alamat yang lebih mantap), dan sekalian juga menyaingi pabrik biang gula Sodiumsiklamat.
Lucunya, fruktosa kalau sudah berbentuk larutan, sukar mengkristal. la tidak membentuk endapan jelek seperti gula tebu dalam sari buah sirsak botolan bila dimasukkan ke lemari es. Karena itu, fruktosa juga lebih disukai sebagai pemanis yang tetap menarik bagusnya, bagi industri jelly (selai) dan sari buah botolan. Rasa gula fruktosa itu juga lebih alamiah seperti manisnya buah segar asli, sampai ia diberi nama fruktosa, yang lebih kurang berarti 'gula buah-buahan'. Ha! Bukankah ini cocok seperti pucuk dicinta ulam tiba bagi industri minuman botolan air jeruk buatan, sari anggur sintetik, dan lain-lain sari buah ester, yang sebenarnya tidak diambil dari buah, melainkan dari lemari obat-obatan?
.Tetapi omong-omong, kita ini sudah ceplas-ceplos berbicara tentang fruktosa, sakarosa, dan amylum, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah itu. Amylum atau zat pati seperti yang terkandung dalam nasi putih, kalau cukup lama kita kunyah, makin lama makin terasa manis, karena pengaruh enzim ptyalin dari air liur. Mengapa?
Diteorikanlah oleh para kimiawan organik bahwa amylum itu tersusun dari berjuta-juta molekul monosakarida yang merangkai menjadi rantai panjang polisakarida. Polisakarida amylum ibarat satu keluarga besar terdiri dari ayah-ibu, anak-anak dan cucu-cucu yang sedang reuni, bergandengan, tangan berlapis-lapis sedang 'foto-bersama'. Kalau kemudian diurak-urak lagi (diurai olch kerja enzim) sampai bercerai-berai, maka pecahan polisakarida amylum itu dapat ditemukan kembali sebagai kumpulan molekul yang lebih kecil. Bisa berupa disakarida maltosa (kalau yang mencerai-beraikan itu enzim ptyalin dalam mulut kita), bisa juga monosakarida glukosa. (kalau yang menggempur itu enzim amylase).
Berkat gagasan Jacobus van 't Hoff (pemenang hadiah Nobel untuk Kimia tahun 1901) dan Le Bel tentang struktur molecul stereometris, yang dituangkan dalam buku mereka La chimie dans l’espace, tahun 1875 dulu, kita kini mewarisi gambaran bagainiana struktur molekul monosakarida. itu, yang disempurnakan oleh Haworth dari Inggris tahun 1927. Ia berupa rantai 6 atom Karbon yang melinglcar dalam ruang, bersama 6 atom Oksigen, yang di sana sini menggandeng 12 atom Hidrogen.
Dalam praktek, monosakarida yang sedang kita bicarakan. ini sudah lama kita kenal sebagai glukosa, yang dirumuskan dalam buku pelajaran kimia SMTA sebagai C6H1206. Sejenis gula sederhana, yang manisnya tidak seberapa. Glukosa terdapat antara lain dalam darah kita. Kalau kebanyakan, kita malah dikatakan sakit gula sampai dicium semut. . Molekul glukosa ini kadang-kadang juga bertingkah. Ia berubah susunan menjadi molekul fruktosa, sehingga sifatnya pun berbeda. Padahal atom-atom yang menyusunnya tetap sama, berupa Karbon, Hidrogen dan Oksigen. Peristiwanya boleh diibaratkan sebagai pergantian kelamin anak laki-laki menjadi gadis. Masih manusia juga. Hanya susunannya yang berbeda. Perubahan struktur molekul dari glokosa menjadi fruktosa, tanpa kehilangan atau ketambahan apa-apa ini, yang di kalangan kimiawan dikenal sebagal stereoisomeri, malah kebetulan bagi umat manusia. Soalnya, fruktosa itu terasa lebih manis daripada glukosa. Fruktosa sebenarnyajuga sudah lama kita kenal dan temuka secara alami dengan rumus C6H1206 juga, dalam sari buah, sayuran manis, dan madu lebah.
Kalau glukosa dan fruktosa menggabung menjadi satu molekul disakarida (ibarat dua muda-mudi yang berumah tangga. menempuh hidup baru), maka yang diperoleh bukan disakarida maltosa seperti yang kita rasakan setelah mengunyah nasi putih), melainkan semacam gula lain yang dikenal sebagai sakarosa seperti yang dihasilkan dari tebu dan bit gula. Ketika orang menemukan teknik pembuatan gula sakarosa untuk pertama kalinya dulu, umat manusia seluruh dunia bergembira, karena bisa membeli gula pasir yang lebih manis dan lebih praktis, daripada gula glukosa (dari sari buah) dan fruktosa (dari madu). Tetapi kini, gula sakarosa sudah, tidak murah lagi, dan kita mau kembali ke zaman pemakaian fruktosa lagi.
Lebih alamiah
Jepang sudah sejak tahun 1970 menghasilkan gula fruktosal meskipun bukan dari singkong, tetapi jagung. Di Indonesia, setelah studi yang mendebarkan, Departemen Pertanian baru belakangan ini (tahun 1982) memelopori pendirian pabrik gula singkong di jawa Timur dan Sumatra Selatan dengan harapan. bisa sekah merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Yaltu mengatasi kekurangan gula (dari tebu), menolong para petani singkong (untuk memasarkan hasil karyanya ke alamat yang lebih mantap), dan sekalian juga menyaingi pabrik biang gula Sodiumsiklamat.
Lucunya, fruktosa kalau sudah berbentuk larutan, sukar mengkristal. la tidak membentuk endapan jelek seperti gula tebu dalam sari buah sirsak botolan bila dimasukkan ke lemari es. Karena itu, fruktosa juga lebih disukai sebagai pemanis yang tetap menarik bagusnya, bagi industri jelly (selai) dan sari buah botolan. Rasa gula fruktosa itu juga lebih alamiah seperti manisnya buah segar asli, sampai ia diberi nama fruktosa, yang lebih kurang berarti 'gula buah-buahan'. Ha! Bukankah ini cocok seperti pucuk dicinta ulam tiba bagi industri minuman botolan air jeruk buatan, sari anggur sintetik, dan lain-lain sari buah ester, yang sebenarnya tidak diambil dari buah, melainkan dari lemari obat-obatan?
Gula Fruktosa Dari Singkong 1
Gula Fruktosa Dari Singkong
AGAKNYA pabrik bang gula Sodium siklamat di Indonesia kita dikasihi olch Tuhan. Sebab, meskipun sudah di-SOS-kan bahaya penggunaan siklamat itu dalam INTISARI Oktober 1982 yang Ialu, namun masyarakat kita tenang-tenang saja memakainya terus, dalam industri makanan dan minuman. Kita tidak ribut tentang gula siklamat, tetapi ramai membicarakan gula singkong.
Belum sampai jajaran pabrik gula singkong seperti yang dibangun di Gondanglegi, Malang, itu diberi kesempatan giling, menghasilkan gula uktosa, (yang lebih aman daripada Sodiumsiklamat), di antara para pembicara sudah ada yang khawatir kalau-kalau pabrik semacam itu akan sulit mendapat izin pengolah, yang, terpaksa diimipor terus-menerus. Apa tidak akan jadi mahal gulanya, nanti?
Perlu langkah gerak cepat, untuk mendirikan pabrik ini, di bumi Indonesia kita sendiri, Mengapa fruktosa Tetapi mengapa kita beralih dari pabrik tebu ke Pabrik singkong? Harga gula pasir dari tela (yang Rp 520,00 sekilo di gudang BULOG itu), terus terang terlalu mahal untuk dipakai sebagai pemanis minuman, yang harus bisa lagi dengan harga miring hasilnya bukan karena pabrik tidak mampu, namun karena produksi gula pasir tahunan tidak seimbang dengan kebutuhan yang terus-menerus membcngkak, sejalan dengan laju pertambahan penduduk yang meledak! Dari negara eksportir gula pasir terkemuka, sebelum Perang Dunia II dulu, (kepadatan penduduk barn 40 juta jiwa), Indonesia kini (kepadatan penduduk 150 juta lebih), sudah berubah menjadi importir gula terkermuka, di
Jadi pendek kata, perlu gula jenis lain, tetapi jangan siklamat! Tidak hanya di Indonesia saja kebutuban gula nasional merepotkan orang. Sebab, gula sakarosa yang biasa mereka makan, (diambil dari tebu Saccharum officinarum dari bit gula Beta vulgaris firma altissima), hanya musiman adanya. Di luar musim, pabrik mereka menganggur. Itu jelas menambah biaya eksploatasi mubazir, yang (enak saja) dibebankan pada para konsumen. Sudah lama Juga mercka mencari akal, bagaimana memperolch pemanis dari sumber lain sebagai pengganti gula sakarosa. Maka, ditemukanlah kemudian teknik pembuatan gulaa fruktosa dari amylum.
AGAKNYA pabrik bang gula Sodium siklamat di Indonesia kita dikasihi olch Tuhan. Sebab, meskipun sudah di-SOS-kan bahaya penggunaan siklamat itu dalam INTISARI Oktober 1982 yang Ialu, namun masyarakat kita tenang-tenang saja memakainya terus, dalam industri makanan dan minuman. Kita tidak ribut tentang gula siklamat, tetapi ramai membicarakan gula singkong.
Belum sampai jajaran pabrik gula singkong seperti yang dibangun di Gondanglegi, Malang, itu diberi kesempatan giling, menghasilkan gula uktosa, (yang lebih aman daripada Sodiumsiklamat), di antara para pembicara sudah ada yang khawatir kalau-kalau pabrik semacam itu akan sulit mendapat izin pengolah, yang, terpaksa diimipor terus-menerus. Apa tidak akan jadi mahal gulanya, nanti?
Perlu langkah gerak cepat, untuk mendirikan pabrik ini, di bumi Indonesia kita sendiri, Mengapa fruktosa Tetapi mengapa kita beralih dari pabrik tebu ke Pabrik singkong? Harga gula pasir dari tela (yang Rp 520,00 sekilo di gudang BULOG itu), terus terang terlalu mahal untuk dipakai sebagai pemanis minuman, yang harus bisa lagi dengan harga miring hasilnya bukan karena pabrik tidak mampu, namun karena produksi gula pasir tahunan tidak seimbang dengan kebutuhan yang terus-menerus membcngkak, sejalan dengan laju pertambahan penduduk yang meledak! Dari negara eksportir gula pasir terkemuka, sebelum Perang Dunia II dulu, (kepadatan penduduk barn 40 juta jiwa), Indonesia kini (kepadatan penduduk 150 juta lebih), sudah berubah menjadi importir gula terkermuka, di
Jadi pendek kata, perlu gula jenis lain, tetapi jangan siklamat! Tidak hanya di Indonesia saja kebutuban gula nasional merepotkan orang. Sebab, gula sakarosa yang biasa mereka makan, (diambil dari tebu Saccharum officinarum dari bit gula Beta vulgaris firma altissima), hanya musiman adanya. Di luar musim, pabrik mereka menganggur. Itu jelas menambah biaya eksploatasi mubazir, yang (enak saja) dibebankan pada para konsumen. Sudah lama Juga mercka mencari akal, bagaimana memperolch pemanis dari sumber lain sebagai pengganti gula sakarosa. Maka, ditemukanlah kemudian teknik pembuatan gulaa fruktosa dari amylum.
Sabtu, 28 November 2009
Heboh Klon Manusia 2
v Lebih cepat tetapi lebih mahal
Banyak pihak ingin mengklon tanaman dengan menerapkan cara baru ini, antara lain beberapa pengusaha tanaman hias di Ragunan dan Rawabelong, Jakarta. Biayanya lumayan mahal, karena melibatkan kemahiran sejumlah pakar, peralatan laboratorium, dan bahan kimia yang semuanya lebih mahal daripada sumber daya manusia, alat, dan bahan yang dikerahkan pada pembibitan cara biasa.
Di kalangan peranggrekan, keinginan untuk menghasilkan bibit masal yang seragam dalam waktu singkat ini luar biasa. Sebab, masyarakat kalau sedang ramai-ramainya minta suplai bunga kodian secara serempak ketika "sedang musim selalu menciptakan permintaan gila-gilaan yang meledak dalam waktu pendek. Kalau tidak dapat dipenuhi, alangkah konyolnya peluang pasar ini disia-siakan. Dari sepotong daun, tunas pucuk, tunas samping, ujung akar atau ujung tangkai bunga (pokoknya di dekat titik tumbuh tanaman), para penangkar dapat memperoleh jaringan sel meristem (jaringan yang mampu membentuk sel baru) yang setelah dicuci bersih sampai bebas bakteri dan cendawan, ditumbuhkan dalam labu Erlenmeyer berisi media tanam cair campuran zat kimia tertentu yang diberi hormon perangsang tumbuh. Untuk mempercepat peresapan zat makanan kimia ke dalam sel, meristem dalam labu Erlenmeyer itu digoyang-goyangkan dengan mesin pengocok, sambil disinari cahaya yang cukup. Maka dalam tempo 3 - 6 bulan terbentuklah PLBS (protocorm like bodies) atau, sosok tanaman seperti umbi. Setelah dipindahtanamkan secara bertahap ke media lain berupa agar yang lebih padat untuk berpegangan calon akar, pIbs tumbuh menjadi plantlet (tanaman cilik) yang selanjutnya dipindahtanamkan ke dalampot berisi media biasa sampai dewasa. Hasilnya tidak hanya belasan atau puluhan batang bibit, tetapi ribuan dalam waktu yang tidak usah terlalu lama. Pembibitan pisang untuk melayani perkebunan nasional independen, menyebabkan adanya pertanyaan yang sulit dijawab. Kalau kita menemukan seseorang sudah telanjur mengklon anak, apa yang dapat kita lakukan? Memaksa ibu yang sudah mengandung itu untuk menggugurkan kandungan? Ataukah diam saja?
Kalau. sudah telanjur lahir sebagai anak manis, apakah kita tega menangkapnya ketika ia bermain-main tanpa dosa di taman kanak-kanak, dan mengeksekusinya sebagai anak tidak sah berdasarkan undang-undang pelarangan lahir sebagai klon? Pertanyaan yang emosional seperti itu dijawab dengan enteng oleh mereka yang tidak setuju pengklonan manusia. Sebelum mengklon anak, sebaiknya mengadopsi anak saja yang jelas identitasnya sebagai warga negara yang sah. Contoh kedua ialah James Stuart dari Amerika juga yang bukan pakar, bukan politikus, bukan birokrat, tapi, warga negara biasa yang bebas berpikir. Ia mengemukakan kasus rekaan sepasang suami-istri yang sudah berusia senja, tetapi tidak dikaruniai anak lagi. Anak pertama tapi terakhir yang mereka besarkan menderita kanker darah, dan meninggal dunia pada usia muda. Mereka ingin mengklon anak dari ayah kandungnya sendiri. Sel telur ibunya sendiri dibuahi dengan sel ayahnya sendiri, dan ditumbuhkan dalam cawan petri. Setelah berkembang menjadi embrio disuntiktanamkan ke rahim ibunya sendiri kembali, agar lahir sebagai anak biasa, walaupun sekarang menyandang nama klon. Terhadap pengklonan ini pun, pihak arus kuat mengemukakan jawaban yang enteng juga. Pasutri semacam. itu sebaiknya melakukan pembuahan bayi in vitro (atau lebih terkenal sebagai "bayi tabung") saja yang tidak dilarang oleh undang-undang yang ada. Perbedaan antara pembuahan "ba-yi tabung" dan. pembuatan klon terletak pada prosesnya. Pada pembuahan "bayi tabung" masih dilibatkan sperma ayah kandung dan sel telur ibu kandung. Mereka dipersilakan kawin dan berbiak dalam cawan petri (tidak dalam tabung), kemudian setelah membelah-belah menjadi embrio disuntiktanamkan dalam rahim ibu kandung kembali. Hasilnya ialah bayi manusia normal yang unik, yang tidak ada duanya di dunia ini (kecuali kalau ia dilahirkan kembar), yang tidak melanggar undang-undang kependudukan "yang belum ada.”
Banyak pihak ingin mengklon tanaman dengan menerapkan cara baru ini, antara lain beberapa pengusaha tanaman hias di Ragunan dan Rawabelong, Jakarta. Biayanya lumayan mahal, karena melibatkan kemahiran sejumlah pakar, peralatan laboratorium, dan bahan kimia yang semuanya lebih mahal daripada sumber daya manusia, alat, dan bahan yang dikerahkan pada pembibitan cara biasa.
Di kalangan peranggrekan, keinginan untuk menghasilkan bibit masal yang seragam dalam waktu singkat ini luar biasa. Sebab, masyarakat kalau sedang ramai-ramainya minta suplai bunga kodian secara serempak ketika "sedang musim selalu menciptakan permintaan gila-gilaan yang meledak dalam waktu pendek. Kalau tidak dapat dipenuhi, alangkah konyolnya peluang pasar ini disia-siakan. Dari sepotong daun, tunas pucuk, tunas samping, ujung akar atau ujung tangkai bunga (pokoknya di dekat titik tumbuh tanaman), para penangkar dapat memperoleh jaringan sel meristem (jaringan yang mampu membentuk sel baru) yang setelah dicuci bersih sampai bebas bakteri dan cendawan, ditumbuhkan dalam labu Erlenmeyer berisi media tanam cair campuran zat kimia tertentu yang diberi hormon perangsang tumbuh. Untuk mempercepat peresapan zat makanan kimia ke dalam sel, meristem dalam labu Erlenmeyer itu digoyang-goyangkan dengan mesin pengocok, sambil disinari cahaya yang cukup. Maka dalam tempo 3 - 6 bulan terbentuklah PLBS (protocorm like bodies) atau, sosok tanaman seperti umbi. Setelah dipindahtanamkan secara bertahap ke media lain berupa agar yang lebih padat untuk berpegangan calon akar, pIbs tumbuh menjadi plantlet (tanaman cilik) yang selanjutnya dipindahtanamkan ke dalampot berisi media biasa sampai dewasa. Hasilnya tidak hanya belasan atau puluhan batang bibit, tetapi ribuan dalam waktu yang tidak usah terlalu lama. Pembibitan pisang untuk melayani perkebunan nasional independen, menyebabkan adanya pertanyaan yang sulit dijawab. Kalau kita menemukan seseorang sudah telanjur mengklon anak, apa yang dapat kita lakukan? Memaksa ibu yang sudah mengandung itu untuk menggugurkan kandungan? Ataukah diam saja?
Kalau. sudah telanjur lahir sebagai anak manis, apakah kita tega menangkapnya ketika ia bermain-main tanpa dosa di taman kanak-kanak, dan mengeksekusinya sebagai anak tidak sah berdasarkan undang-undang pelarangan lahir sebagai klon? Pertanyaan yang emosional seperti itu dijawab dengan enteng oleh mereka yang tidak setuju pengklonan manusia. Sebelum mengklon anak, sebaiknya mengadopsi anak saja yang jelas identitasnya sebagai warga negara yang sah. Contoh kedua ialah James Stuart dari Amerika juga yang bukan pakar, bukan politikus, bukan birokrat, tapi, warga negara biasa yang bebas berpikir. Ia mengemukakan kasus rekaan sepasang suami-istri yang sudah berusia senja, tetapi tidak dikaruniai anak lagi. Anak pertama tapi terakhir yang mereka besarkan menderita kanker darah, dan meninggal dunia pada usia muda. Mereka ingin mengklon anak dari ayah kandungnya sendiri. Sel telur ibunya sendiri dibuahi dengan sel ayahnya sendiri, dan ditumbuhkan dalam cawan petri. Setelah berkembang menjadi embrio disuntiktanamkan ke rahim ibunya sendiri kembali, agar lahir sebagai anak biasa, walaupun sekarang menyandang nama klon. Terhadap pengklonan ini pun, pihak arus kuat mengemukakan jawaban yang enteng juga. Pasutri semacam. itu sebaiknya melakukan pembuahan bayi in vitro (atau lebih terkenal sebagai "bayi tabung") saja yang tidak dilarang oleh undang-undang yang ada. Perbedaan antara pembuahan "ba-yi tabung" dan. pembuatan klon terletak pada prosesnya. Pada pembuahan "bayi tabung" masih dilibatkan sperma ayah kandung dan sel telur ibu kandung. Mereka dipersilakan kawin dan berbiak dalam cawan petri (tidak dalam tabung), kemudian setelah membelah-belah menjadi embrio disuntiktanamkan dalam rahim ibu kandung kembali. Hasilnya ialah bayi manusia normal yang unik, yang tidak ada duanya di dunia ini (kecuali kalau ia dilahirkan kembar), yang tidak melanggar undang-undang kependudukan "yang belum ada.”
Heboh Klon Manusia 1
Heboh Klon Manusia
Seribu satu pertanyaan yang menggebrak semacam itu akan muncul kelak, kalau betul-betul ada klon manusia dilahirkan dan hidup terus menjadi manusia klon. Apa lagi kalau ada media massa yang menakut-nakuti pembacanya dengan judul tulisan "Sesudah domba, giliran umat manusia yang diklon." (Padahal belum).
Maret, 1997 masyarakat sedunia heboh tentang keberhasilan pakar rekayasa genetika Skotlandia,. Ian Wilmut mengklon domba. Semula orang acuh tak acuh, tapi setelah ada yang berspekulasi bahwa tak lama lagi tekniknya dapat diterapkan pada manusia, meledaklah heboh Itu. Klon manusia ini bagaimana mengurus akte kelahirannya? kaau tidak bisa mendapat KTP, apakah la akan, di.biarkan menjadi orang malang yang stateless? Apakah ia juga dilindungi hak asasinya sebagaimana manunia?
v Dari tempelan sampai kultur jaringan
Mengapa pengklonan manusia bikin heboh, sedangkan tanaman seperti karet unggul, anggrek cantik, dan pisang enak adem ayem saja? jawabannya bisa bermacam-macam dan kontroversial, sehingga menarik untuk ditulis di koran dan majalah.
Tapi omong-omong, klon itu apa sebenarnya?
Istilah clone (dari klon Yunani) semua berarti ranting tanaman. Akan tetapi di kalangan hortikultura, istilah itu sudah lama dipakai untuk menyatakan tanaman (beserta kelompoknya) yang berasal dari satu pohon induk saja. Pohon ini biasanya pohon unggul hasil mutasi dari pohon kebanyakan. Semua batang individu pohon apel Macintosh misalnya, adalah anggota suatu klon. Juga perkebunan karet ratusan hektar, dan kebun kentang puluhan hektar, ditanami klon unggul, karena perkebunan itu memerlukan bibit ribuan batang secara serentak, dan sedapat mungkin seragam supaya efisien pengelolaannya. Suatu hasil penangkaran, yang tidak mungkin dilayani dengan biji yang makan waktu lama sekali sebelum bisa panen. Selain dapat menghasilkan bibit secara masal, pengklonan juga meneruskan sifat-sifat unggul dari tanaman induk ke anak klon itu. Berbuah banyak dan bermutu misalnya, tahan penyakit dan tahan lama disimpan selama diperjualbelikan, akan diwariskan ke klon keturunan secara utuh, tak berubah sedikit pun.
Pada tahun 30-an dulu, bibit karet diklon dengan menempelkan pucuk ranting pohon induk ke calon batang bawah. Ranting ini bisa ratusan banyaknya, dan untuk ukuran waktu itu, sudah banyak. Bagi kita yang hidup di tahun 90-an, cara itu. sudah ketinggalan kereta, karena kurang banyak menghasilkan klon dalam waktu singkat. Begitu juga pembibitan di perkebunan kentang. Kentang unggul diklon dengan membelah-belah umbi induknya menjadi potongan kecil-kecil, yang diusahakan benar agar tiap potongan mengandung satu tunas. Walaupun sudah lebih cepat bisa dipanen, namun cara ini pun sekarang dianggap kuno, karena masih kurang masal, daripada cara pembiakan derigan kultur jaringan. Cara yang akhir ini diterapkan pada tanaman yang diminta cepat-cepat dijual. Misalnya anggrek untuk diekspor musiman, dan pisang Cavendish untuk memasok perkebunan pisang multinasional ratusan hektar luasnya.
Seribu satu pertanyaan yang menggebrak semacam itu akan muncul kelak, kalau betul-betul ada klon manusia dilahirkan dan hidup terus menjadi manusia klon. Apa lagi kalau ada media massa yang menakut-nakuti pembacanya dengan judul tulisan "Sesudah domba, giliran umat manusia yang diklon." (Padahal belum).
Maret, 1997 masyarakat sedunia heboh tentang keberhasilan pakar rekayasa genetika Skotlandia,. Ian Wilmut mengklon domba. Semula orang acuh tak acuh, tapi setelah ada yang berspekulasi bahwa tak lama lagi tekniknya dapat diterapkan pada manusia, meledaklah heboh Itu. Klon manusia ini bagaimana mengurus akte kelahirannya? kaau tidak bisa mendapat KTP, apakah la akan, di.biarkan menjadi orang malang yang stateless? Apakah ia juga dilindungi hak asasinya sebagaimana manunia?
v Dari tempelan sampai kultur jaringan
Mengapa pengklonan manusia bikin heboh, sedangkan tanaman seperti karet unggul, anggrek cantik, dan pisang enak adem ayem saja? jawabannya bisa bermacam-macam dan kontroversial, sehingga menarik untuk ditulis di koran dan majalah.
Tapi omong-omong, klon itu apa sebenarnya?
Istilah clone (dari klon Yunani) semua berarti ranting tanaman. Akan tetapi di kalangan hortikultura, istilah itu sudah lama dipakai untuk menyatakan tanaman (beserta kelompoknya) yang berasal dari satu pohon induk saja. Pohon ini biasanya pohon unggul hasil mutasi dari pohon kebanyakan. Semua batang individu pohon apel Macintosh misalnya, adalah anggota suatu klon. Juga perkebunan karet ratusan hektar, dan kebun kentang puluhan hektar, ditanami klon unggul, karena perkebunan itu memerlukan bibit ribuan batang secara serentak, dan sedapat mungkin seragam supaya efisien pengelolaannya. Suatu hasil penangkaran, yang tidak mungkin dilayani dengan biji yang makan waktu lama sekali sebelum bisa panen. Selain dapat menghasilkan bibit secara masal, pengklonan juga meneruskan sifat-sifat unggul dari tanaman induk ke anak klon itu. Berbuah banyak dan bermutu misalnya, tahan penyakit dan tahan lama disimpan selama diperjualbelikan, akan diwariskan ke klon keturunan secara utuh, tak berubah sedikit pun.
Pada tahun 30-an dulu, bibit karet diklon dengan menempelkan pucuk ranting pohon induk ke calon batang bawah. Ranting ini bisa ratusan banyaknya, dan untuk ukuran waktu itu, sudah banyak. Bagi kita yang hidup di tahun 90-an, cara itu. sudah ketinggalan kereta, karena kurang banyak menghasilkan klon dalam waktu singkat. Begitu juga pembibitan di perkebunan kentang. Kentang unggul diklon dengan membelah-belah umbi induknya menjadi potongan kecil-kecil, yang diusahakan benar agar tiap potongan mengandung satu tunas. Walaupun sudah lebih cepat bisa dipanen, namun cara ini pun sekarang dianggap kuno, karena masih kurang masal, daripada cara pembiakan derigan kultur jaringan. Cara yang akhir ini diterapkan pada tanaman yang diminta cepat-cepat dijual. Misalnya anggrek untuk diekspor musiman, dan pisang Cavendish untuk memasok perkebunan pisang multinasional ratusan hektar luasnya.
Menghadapi Ancaman Gempa Bumi 3
Pada waktu terjadi gempa bumi
Pada gempa bumi besar, mula Anda mungkin akan merasakan getaran halus selama satu atau dua detik yang akan berubah menjadi guncangan yang sedemikian keras sehingga Anda tidak dapat lagi berdiri tegak. Atau, Anda akan ini'tasakan guncangan pertama yang demikian keras seakan rumah Anda ditabrak sebuah truk. Lalu satu atau dua detik kemudian Anda akan merasakan guncangan-guncangan. Seperti pada keadaan pertama, Anda akan merasa sulit untuk berdiri tegak ataupun bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Jika Anda sedang berada di dalam gedung
Tetaplah tinggal di dalam, jangan berusaha ke luar. Bersikaplah tenang dan jangan panik! Waspadalah terhadap barang-barang yang jatuh. Berusahalah berlindung di bawah meja atau tempat-tempat aman yang jauh dari lemari-lemari tinggi, cermin, jendela kaca sampai getaran berhenti. Sesudah getaran berhenti, amatilah keadaan di sekeliling Anda. Setelah yakin bahwa barang atau bagian bangunan tidak ada lagi yang berjatuhan, berjalanlah ke luar dari bangunan itu dengan tenang dan waspada.
Jika Anda berada di dapur
Segera matikan semua kompor. Anda harus bertindak cepat, kemudian segera berlindung di kolong meja atau berdiri di antara bingkai pintu yang kuat.
Jika Anda berada di luar
Berlindunglah di tempat terbuka yang cukup datar. Jauhi tempat-tempat yang berdekatan dengan dinding bata yang tinggi, tiang, kabel listrik atau pohon-pohon tinggi.
Jika Anda sedang mengemudi
Hentikan mobil Anda segera di pinggir jalan. Jangan berhenti di bawah jembatan penyeberangan atau di bawah kabel listrik. Tetaplah tinggal di mobil Anda sampai gempa .bumi berhenti.
Jika Anda sedang berada di dalam ruangan yang ramai
Jangan terburu-buru lari menuju pintu ke luar karena setiap orang mungkin juga bermaksud sama sehingga terjadi desak-desakan yang membahayakan jiwa. Ajaklah orang-orang di sekitar Anda bersikap tenang. Lakukanlah seperti apa yang telah dijelaskan untuk keadaan bila Anda sedang berada di dalam bangunan.
Jika Anda berada di dalam gedung bertingkat yang tinggi
Berlindunglah di bawah meja, jauhi jendela kaca atau dinding luar bangunan. Tetaplah berada di lantai itu sampai getaran berhenti. Sesudah itu turunlah dengan memakai tangga darurat. Jangan sekali-kali menggunakan lift. Jangan panik kalau listrik mati atau alarm kebakaran berbunyi.
Setelah gempa bumi berhenti jika ada yang mengalami luka
Berikanlah pertolongan. Jangan memindahkan orang yang luka parah kecuali kalau ia berada di tempat yang berbahaya. Kalau udara dingin tutupilah orang yang luka dengan selimut agar mereka merasa hangat.
Jangan meng-gunakan telepon
Dalam kondisi panik itu janganlah Anda menggunakan telepon kecuali bila ada orang yang luka Gunakanlah pengetatahuan P3K yang Anda miliki. Bila hendak berjalan di reruntuhan, jangan lupa memakakai sepatu, dan topi yang keras, misalnya topi anyaman bambu atau topi proyek bila Anda punya atau helm.
Apabila terjadi kebakaran kecil
Cobalah memadamkannya. Jika tak bisa dikendalikan, tinggalkanlah rumah Anda dan beritahukan agar waspada.
Periksa pipa gas, pipa air, kabel listrik di rumah Anda
Jika ada gas atau air, henti-iliran gas atau air di sambungan utamanya. Jika kabel listrik ada yang rusak, matikanlah sambungan listrik tersebut dan jangan nyalakan listrik sebelum diperiksa oleh petugas berwenang.
Bersihkanlah obat-obatan yang ter-tumpah
Minyak dan cairan yang dapat menimbulkan kebakaran.
Periksalah bagian-bagian rumah Anda yang rusak
Buatlah penghalang untuk bagian-bagian lain yang dapat runtuh. Bila ada pintu-pintu yang terjepit, hati-hati kalau membuka, siapa tahu ada bagian-bagian yang runtuh bila pintu dibuka. Jauhkanlah keluarga dari gedung-gedung tinggi yang telah rusak berat akibat gempa
Periksa persediaan makanan dan minuman
Kalau aliran air terputus, hematlah dengan persediaan air yang ada.
Periksa rak dan lemari
Berhati-hatilah sewaktu membuka lemari karena barang-barang di dalam lemari mungkin akan berjatuhan keluar dan melukai kaki.
Hidupkan radio
Barangkali ada laporan mengenai gempa bumi tersebut serta petunjuk dari pihak yang berwenang.
Jika Anda harus memasak
Sebaiknya memakai arang/ kayu atau kompor minyak tanah dan memasaklah di luar rumah. Jangan memakai kendaraan,
Kecuali bila ada seseorang yang luka parah. Jangan pergi meninjau tempat-tempat yang menderita kerusakan parah, karena kita barangkali justru menjadi pengalang bagi kelancaran petugas penolong.
Bersiap-siaplah untuk menghadapi gempa bumi susulan
Gempa bumi susulan biasanya mempunyai kekuatan yang lebih kecil, tetapi kadang ada juga yang cukup besar sehingga dapat memperberat kerusakan yang telah timbul, bahkan dapat merobohkan bangunan-bangunan yang pada gempa pertama sudah berada dalam keadaan rusak berat.
Jauhkanlah diri Anda dari daerah di tepi pantai yang landai, di mana gempa bumi telah terjadi.
Gelombang laut akibat gempa (tsunami atau tidak waves) kadang-kadang dapat terjadi akibat gempa susulan. Di perairan yang tertutup seperti di danau ataupun teluk, gelombang besar (seiches) kadang-kadang juga dapat terjadi. Bila kota tempat tinggal Anda berada di tepi perairan yang luas, sebaiknya mengungsilah ke daerah yang lebih jauh dari daerah ter sebut. Selain itu, hindarilah kawasan yang berada di tepi lereng yang terjal, karena gempa susulan kadangkala dapat menimbulkan tanah longsor, terutama bila daerah tersebut beberapa hari sebelumnya tersiram hujan.
Jika terpaksa mengungsi
Bila gempa bumi sangat parah dan Anda terpaksa mengungsi, jangan lupa meninggalkan pesan untuk keluarga. Tuliskanlah pesan dengan jelas di atas kertas dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau di rumah. Tulislah ke mana Anda mengungsi, kalau ada anggota keluarga yang terpisah, rnereka dapat berkumpul kembali. Jangan lupa bawa persediaan, seperti obat-obatan, lampu senter, radio berbaterai baru, surat-surat penting dan uang, makanan selimut serta beberapa setel pakaian.
Petunjuk tersebut di atas mudah-mudahan dapat memperluas pengetahuan Anda menghadapi gempa bumi. Dengan harapan suatu saat akan berguna sehingga dapat menghindarkan Anda beserta keluarga dari kesulitan-kesulitan yang tidak perlu.
Pada gempa bumi besar, mula Anda mungkin akan merasakan getaran halus selama satu atau dua detik yang akan berubah menjadi guncangan yang sedemikian keras sehingga Anda tidak dapat lagi berdiri tegak. Atau, Anda akan ini'tasakan guncangan pertama yang demikian keras seakan rumah Anda ditabrak sebuah truk. Lalu satu atau dua detik kemudian Anda akan merasakan guncangan-guncangan. Seperti pada keadaan pertama, Anda akan merasa sulit untuk berdiri tegak ataupun bergerak dari satu tempat ke tempat lain.
Jika Anda sedang berada di dalam gedung
Tetaplah tinggal di dalam, jangan berusaha ke luar. Bersikaplah tenang dan jangan panik! Waspadalah terhadap barang-barang yang jatuh. Berusahalah berlindung di bawah meja atau tempat-tempat aman yang jauh dari lemari-lemari tinggi, cermin, jendela kaca sampai getaran berhenti. Sesudah getaran berhenti, amatilah keadaan di sekeliling Anda. Setelah yakin bahwa barang atau bagian bangunan tidak ada lagi yang berjatuhan, berjalanlah ke luar dari bangunan itu dengan tenang dan waspada.
Jika Anda berada di dapur
Segera matikan semua kompor. Anda harus bertindak cepat, kemudian segera berlindung di kolong meja atau berdiri di antara bingkai pintu yang kuat.
Jika Anda berada di luar
Berlindunglah di tempat terbuka yang cukup datar. Jauhi tempat-tempat yang berdekatan dengan dinding bata yang tinggi, tiang, kabel listrik atau pohon-pohon tinggi.
Jika Anda sedang mengemudi
Hentikan mobil Anda segera di pinggir jalan. Jangan berhenti di bawah jembatan penyeberangan atau di bawah kabel listrik. Tetaplah tinggal di mobil Anda sampai gempa .bumi berhenti.
Jika Anda sedang berada di dalam ruangan yang ramai
Jangan terburu-buru lari menuju pintu ke luar karena setiap orang mungkin juga bermaksud sama sehingga terjadi desak-desakan yang membahayakan jiwa. Ajaklah orang-orang di sekitar Anda bersikap tenang. Lakukanlah seperti apa yang telah dijelaskan untuk keadaan bila Anda sedang berada di dalam bangunan.
Jika Anda berada di dalam gedung bertingkat yang tinggi
Berlindunglah di bawah meja, jauhi jendela kaca atau dinding luar bangunan. Tetaplah berada di lantai itu sampai getaran berhenti. Sesudah itu turunlah dengan memakai tangga darurat. Jangan sekali-kali menggunakan lift. Jangan panik kalau listrik mati atau alarm kebakaran berbunyi.
Setelah gempa bumi berhenti jika ada yang mengalami luka
Berikanlah pertolongan. Jangan memindahkan orang yang luka parah kecuali kalau ia berada di tempat yang berbahaya. Kalau udara dingin tutupilah orang yang luka dengan selimut agar mereka merasa hangat.
Jangan meng-gunakan telepon
Dalam kondisi panik itu janganlah Anda menggunakan telepon kecuali bila ada orang yang luka Gunakanlah pengetatahuan P3K yang Anda miliki. Bila hendak berjalan di reruntuhan, jangan lupa memakakai sepatu, dan topi yang keras, misalnya topi anyaman bambu atau topi proyek bila Anda punya atau helm.
Apabila terjadi kebakaran kecil
Cobalah memadamkannya. Jika tak bisa dikendalikan, tinggalkanlah rumah Anda dan beritahukan agar waspada.
Periksa pipa gas, pipa air, kabel listrik di rumah Anda
Jika ada gas atau air, henti-iliran gas atau air di sambungan utamanya. Jika kabel listrik ada yang rusak, matikanlah sambungan listrik tersebut dan jangan nyalakan listrik sebelum diperiksa oleh petugas berwenang.
Bersihkanlah obat-obatan yang ter-tumpah
Minyak dan cairan yang dapat menimbulkan kebakaran.
Periksalah bagian-bagian rumah Anda yang rusak
Buatlah penghalang untuk bagian-bagian lain yang dapat runtuh. Bila ada pintu-pintu yang terjepit, hati-hati kalau membuka, siapa tahu ada bagian-bagian yang runtuh bila pintu dibuka. Jauhkanlah keluarga dari gedung-gedung tinggi yang telah rusak berat akibat gempa
Periksa persediaan makanan dan minuman
Kalau aliran air terputus, hematlah dengan persediaan air yang ada.
Periksa rak dan lemari
Berhati-hatilah sewaktu membuka lemari karena barang-barang di dalam lemari mungkin akan berjatuhan keluar dan melukai kaki.
Hidupkan radio
Barangkali ada laporan mengenai gempa bumi tersebut serta petunjuk dari pihak yang berwenang.
Jika Anda harus memasak
Sebaiknya memakai arang/ kayu atau kompor minyak tanah dan memasaklah di luar rumah. Jangan memakai kendaraan,
Kecuali bila ada seseorang yang luka parah. Jangan pergi meninjau tempat-tempat yang menderita kerusakan parah, karena kita barangkali justru menjadi pengalang bagi kelancaran petugas penolong.
Bersiap-siaplah untuk menghadapi gempa bumi susulan
Gempa bumi susulan biasanya mempunyai kekuatan yang lebih kecil, tetapi kadang ada juga yang cukup besar sehingga dapat memperberat kerusakan yang telah timbul, bahkan dapat merobohkan bangunan-bangunan yang pada gempa pertama sudah berada dalam keadaan rusak berat.
Jauhkanlah diri Anda dari daerah di tepi pantai yang landai, di mana gempa bumi telah terjadi.
Gelombang laut akibat gempa (tsunami atau tidak waves) kadang-kadang dapat terjadi akibat gempa susulan. Di perairan yang tertutup seperti di danau ataupun teluk, gelombang besar (seiches) kadang-kadang juga dapat terjadi. Bila kota tempat tinggal Anda berada di tepi perairan yang luas, sebaiknya mengungsilah ke daerah yang lebih jauh dari daerah ter sebut. Selain itu, hindarilah kawasan yang berada di tepi lereng yang terjal, karena gempa susulan kadangkala dapat menimbulkan tanah longsor, terutama bila daerah tersebut beberapa hari sebelumnya tersiram hujan.
Jika terpaksa mengungsi
Bila gempa bumi sangat parah dan Anda terpaksa mengungsi, jangan lupa meninggalkan pesan untuk keluarga. Tuliskanlah pesan dengan jelas di atas kertas dan letakkan di tempat yang mudah dijangkau di rumah. Tulislah ke mana Anda mengungsi, kalau ada anggota keluarga yang terpisah, rnereka dapat berkumpul kembali. Jangan lupa bawa persediaan, seperti obat-obatan, lampu senter, radio berbaterai baru, surat-surat penting dan uang, makanan selimut serta beberapa setel pakaian.
Petunjuk tersebut di atas mudah-mudahan dapat memperluas pengetahuan Anda menghadapi gempa bumi. Dengan harapan suatu saat akan berguna sehingga dapat menghindarkan Anda beserta keluarga dari kesulitan-kesulitan yang tidak perlu.
Menghadapi Ancaman Gempa Bumi 2
Guncangan tanah jarang sekali menyebabkan kematian ataupun luka. Kecelakaan biasanya justru diakibatkan karena runtuhnya sebagian bangunan, jatuhnya barang atau alat berat, tindakan manusia secara mendadak akibat panik, jatuhnya genteng, dinding bata, plafon, lampu dsb. yang sebenarnya dapat dihindarkan dengan persiapan sekadarnya.
Sebelum terjadi gempa bumi
Pada kawasan yang mempunyai kecenderungan lebih sering diancam gempa, bangunan-bangunan harus direncanakan dan dibuat sesuai dengan Peraturan Perencanaan Bangunan Tahan Gempa yang berlaku. Biasakan membangun dengan disiplin yang tinggi tanpa mengurangi, mengubah bahan ataupun detail yang diisyaratkan perencana (ahli).
Sebaiknya bangunan untuk umum seperti sekolah, tempat ibadah dan sebagainya, yang tua diperkuat kembali, dan bagian-bagian yang rusak atau lapuk diganti. Hal ini berguna untuk menjaga agar bangunan tetap tahan lerhadap gempa bumi yang kuat.
Anda dapat mengadakan diskusi dengan keluarga soal gempa bumi dan bencana alam- lainnya. Ini untuk menambah pengetahuan mengenai sebab-sebab bencana dan penanggulangannya. Janganlah menceritakan hal-hal yang menakutkan ataupun desasdesus tentang bencana yang belum pasti kebenarannya: Itu hanya akan menyebarkan rasa takut saja.
Beritahukanlah setiap anggota keluarga Anda yang sudah cukup dewasa bagaimana mematikan listrik, air, ataupun gas di sambungan utama atau meterannya. Tentukanlah bagaimana dan di mana anggota keluarga Anda akan berkumpul kembali bila terpisah setelah gempa. Carilah dan kenalilah tempat-tempat yang aman di rumah Anda, misalnya di kolong meja yang kuat atau dekat bingkai pintu yang kokoh. Anda dan keluarga juga harus mencoba mengenal dan kalau mungkin mengurangi tempat-tempat di rumah Anda yang mungkin berbahaya sewaktu terjadi gempa, misalnya:
§ Perabotan yang tinggi seperti lemari, rak buku, dan lainnya. dapat roboh bila guncangan cukup keras.
§ Pot bunga yang digantung cukup tinggi.
§ Gambar-gambar dengan bingkai yang berat yang teigantung pada dinding yang berdekatan dengan tempat tidur.
§ Benda-benda berat dan mudah pecah yang diletakkan di atas lemari atau di dalam rak terbuka yang cukup tinggi.
§ Cairan-cairan yang dapat menimbulkan kebakaran seperti minyak tanah, cat minyak, spritus, arak, dan lan-lain.
§ Simpanlah daftar nomor telepon untuk keadaan darurat seperti nomor telepon rumah sakit, kantor pamadam kebakaran, dan sebagainya..
Sebelum terjadi gempa bumi
Pada kawasan yang mempunyai kecenderungan lebih sering diancam gempa, bangunan-bangunan harus direncanakan dan dibuat sesuai dengan Peraturan Perencanaan Bangunan Tahan Gempa yang berlaku. Biasakan membangun dengan disiplin yang tinggi tanpa mengurangi, mengubah bahan ataupun detail yang diisyaratkan perencana (ahli).
Sebaiknya bangunan untuk umum seperti sekolah, tempat ibadah dan sebagainya, yang tua diperkuat kembali, dan bagian-bagian yang rusak atau lapuk diganti. Hal ini berguna untuk menjaga agar bangunan tetap tahan lerhadap gempa bumi yang kuat.
Anda dapat mengadakan diskusi dengan keluarga soal gempa bumi dan bencana alam- lainnya. Ini untuk menambah pengetahuan mengenai sebab-sebab bencana dan penanggulangannya. Janganlah menceritakan hal-hal yang menakutkan ataupun desasdesus tentang bencana yang belum pasti kebenarannya: Itu hanya akan menyebarkan rasa takut saja.
Beritahukanlah setiap anggota keluarga Anda yang sudah cukup dewasa bagaimana mematikan listrik, air, ataupun gas di sambungan utama atau meterannya. Tentukanlah bagaimana dan di mana anggota keluarga Anda akan berkumpul kembali bila terpisah setelah gempa. Carilah dan kenalilah tempat-tempat yang aman di rumah Anda, misalnya di kolong meja yang kuat atau dekat bingkai pintu yang kokoh. Anda dan keluarga juga harus mencoba mengenal dan kalau mungkin mengurangi tempat-tempat di rumah Anda yang mungkin berbahaya sewaktu terjadi gempa, misalnya:
§ Perabotan yang tinggi seperti lemari, rak buku, dan lainnya. dapat roboh bila guncangan cukup keras.
§ Pot bunga yang digantung cukup tinggi.
§ Gambar-gambar dengan bingkai yang berat yang teigantung pada dinding yang berdekatan dengan tempat tidur.
§ Benda-benda berat dan mudah pecah yang diletakkan di atas lemari atau di dalam rak terbuka yang cukup tinggi.
§ Cairan-cairan yang dapat menimbulkan kebakaran seperti minyak tanah, cat minyak, spritus, arak, dan lan-lain.
§ Simpanlah daftar nomor telepon untuk keadaan darurat seperti nomor telepon rumah sakit, kantor pamadam kebakaran, dan sebagainya..
Menghadapi Ancaman Gempa Bumi 1
Menghadapi Ancaman Gempa Bumi
Gempa bumi acapkali melanda Indonesia, ada yang terlalu lemah untuk dapat dirasakan oleh manusia tetapi sering pula terjadi gempa bumi kuat sampai menimbulkan kerusakan dan kerugian besar, serta korban jiwa.
Hidup dalam ancaman gempa memerlukan persiapan serta tindakan sederhana yang dapat mencegah dan membatasi ancaman bahaya yang ditimbulkan. Berikut ini petunjuk sederhana dalam melakukan persiapan-persiapan, agar dapat menyelamatkan diri kalau terjadi bencana gempa bumi.
Yang perlu diketahui adalah persediaan dan alat-alat untuk keadaan darurat, serta pengumuman kepada anggota keluarga Anda apa yang perlu dilakukan selama dan sesudah berlangsungnya bencana gempa bumi. Anda beserta keluarga mungkin harus bertahan hidup tanpa bantuan selama 72 jam setelah bencana. Oleh karena itu cobalah membuat persiapan untuk dapat bertahan selama itu.
Gempa bumi acapkali melanda Indonesia, ada yang terlalu lemah untuk dapat dirasakan oleh manusia tetapi sering pula terjadi gempa bumi kuat sampai menimbulkan kerusakan dan kerugian besar, serta korban jiwa.
Hidup dalam ancaman gempa memerlukan persiapan serta tindakan sederhana yang dapat mencegah dan membatasi ancaman bahaya yang ditimbulkan. Berikut ini petunjuk sederhana dalam melakukan persiapan-persiapan, agar dapat menyelamatkan diri kalau terjadi bencana gempa bumi.
Yang perlu diketahui adalah persediaan dan alat-alat untuk keadaan darurat, serta pengumuman kepada anggota keluarga Anda apa yang perlu dilakukan selama dan sesudah berlangsungnya bencana gempa bumi. Anda beserta keluarga mungkin harus bertahan hidup tanpa bantuan selama 72 jam setelah bencana. Oleh karena itu cobalah membuat persiapan untuk dapat bertahan selama itu.
Kiat Merawat Buku agar Awet 4
v Mikrofim, fumigasi, dan laminasi
Pembuatan mikrofilm, terutama oleh suatu perpustakaan, juga merupakan salah satu usaha untuk merawat bahan pustaka. Pada umumnya perawatan dalam bentuk mikrofilm ini lebih banyak digunakan untuk surat kabar, arsip, atau majalah tertentu, serta buku-buku langka. Untuk menyimpan mikrofilm harus juga diperhatikan suhu dan kelembapan udara dalam ruangan, agar jamur tidak tumbuh pada mikrofilm.
Fumigasi juga sering dilakukan sebagai salah satu cara lain untuk merawat bahan pustaka. Fungsinya untuk membunuh serangga, terutama telur dan larvanya, serta mematikan jamur. Bahan yang umumnya digunakan untuk fumigasi adalah karbon tetraklorida, methyl bromide, thymol kristal, karbon disulfit, dan formaldehida.
Ada 3 cara melakukan fumigasi. Pertama, dilakukan di ruang penyimpanan bahan pustaka. Kedua, membawa buku ke ruang fumigasi, sementara ruang penyimpanan buku disemprot dengan bahan pembunuh serangga biasa. Ketiga, fumigasi dilakukan di dalam. lemari. Cara terakhir dilakukan jika jumlah buku koleksi tidak banyak.
Apabila buku yang dikoleksi sudah telanjur rusak, maka perlu dilakukan beberapa perbaikan dengan teliti, tekun, dan sabar. Misalnya menam bal atau menyambung kerta jika ada bagian buku yang hilang, robek, atau berlubang. Untuk menambal buku buku yang berlubang, biasanya digunakan pulp. Cara membuat pulp, kertas bekas dirobek kecil-kecil, kemudian dilumatkan bersama-sama dengan lem cair: Kertas yang berlubang diletakkan di atas kaca yang telah dibasahi dengan air suling. Bagian yang berlubang tersebut lalu ditambal dengan pulp. Setelah itu ditekan tambalan tersebut menggunakan kertas pengisap untuk kemudian dipres.
Untuk menyambung bahan pustaka, sekarang ini digunakan crompton tissue. Sementara untuk bahan pustaka yang hilang bagiannya, dapat disambung kembali dengan menggunakan kertas yang berserat panjang dan sudah bebas asam serta dilem dengan lem yang juga bebas asam.
Laminasi juga merupakan ; cara untuk melindungi bahan pustaka yang sudah rapuh agar keadaannya tidak menjadi lebih parah. Sebelum dilaminasi, buku yang masih berupa bundel harus dilepas satu per satu dan diberi nomor urut guna memudahkan dalam proses penjilidan kembali. Di samping itu, kertas-kertas tersebut harus terlebih dahulu dibebaskan dari asam. Kertas-kertas itu kemudian dijemur, sebelum akhirnya dipres.
Cara lain yang dapat digunakan untuk memperbaiki buku atau majalah yang rusak adalah melalui penjilidan. Sebelumnya, buku yang rusak harus dibersihkan dulu. Kemudian baru dijahit satu persatu. Apabila keadaan buku sudah terlalu rapuh, gunakanlah. lem yang terbuat dari bahan organik. Pemilihan lem jenis ini untuk menghindari pengaruh kelembapan yang akan membuat lem biasa menjadi zat makanan yang baik bagi serangga. Jika ini terjadi sama saja dengan mengundang serangga yang akan tambah merusak. Kertas dan karton yang digunakan harus bebas dari asam, karena asam dapat menular pada buku lain yang kadar asamnya sudah dihilangkan.
Kolektor buku maupun pustakawan sebaiknya tahu apa yang menjadi penyebab kerusakan buku, sehingga bisa langsung mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terjadinya kerusakan koleksi bahan-bahan pustaka yang dimiliki atau dikelolanya. Tapi jangan lupa, para kolektor buku atau pengelola perpustakaan sebaiknya melengkapinya dengan alat pemadam kebakaran.
Pembuatan mikrofilm, terutama oleh suatu perpustakaan, juga merupakan salah satu usaha untuk merawat bahan pustaka. Pada umumnya perawatan dalam bentuk mikrofilm ini lebih banyak digunakan untuk surat kabar, arsip, atau majalah tertentu, serta buku-buku langka. Untuk menyimpan mikrofilm harus juga diperhatikan suhu dan kelembapan udara dalam ruangan, agar jamur tidak tumbuh pada mikrofilm.
Fumigasi juga sering dilakukan sebagai salah satu cara lain untuk merawat bahan pustaka. Fungsinya untuk membunuh serangga, terutama telur dan larvanya, serta mematikan jamur. Bahan yang umumnya digunakan untuk fumigasi adalah karbon tetraklorida, methyl bromide, thymol kristal, karbon disulfit, dan formaldehida.
Ada 3 cara melakukan fumigasi. Pertama, dilakukan di ruang penyimpanan bahan pustaka. Kedua, membawa buku ke ruang fumigasi, sementara ruang penyimpanan buku disemprot dengan bahan pembunuh serangga biasa. Ketiga, fumigasi dilakukan di dalam. lemari. Cara terakhir dilakukan jika jumlah buku koleksi tidak banyak.
Apabila buku yang dikoleksi sudah telanjur rusak, maka perlu dilakukan beberapa perbaikan dengan teliti, tekun, dan sabar. Misalnya menam bal atau menyambung kerta jika ada bagian buku yang hilang, robek, atau berlubang. Untuk menambal buku buku yang berlubang, biasanya digunakan pulp. Cara membuat pulp, kertas bekas dirobek kecil-kecil, kemudian dilumatkan bersama-sama dengan lem cair: Kertas yang berlubang diletakkan di atas kaca yang telah dibasahi dengan air suling. Bagian yang berlubang tersebut lalu ditambal dengan pulp. Setelah itu ditekan tambalan tersebut menggunakan kertas pengisap untuk kemudian dipres.
Untuk menyambung bahan pustaka, sekarang ini digunakan crompton tissue. Sementara untuk bahan pustaka yang hilang bagiannya, dapat disambung kembali dengan menggunakan kertas yang berserat panjang dan sudah bebas asam serta dilem dengan lem yang juga bebas asam.
Laminasi juga merupakan ; cara untuk melindungi bahan pustaka yang sudah rapuh agar keadaannya tidak menjadi lebih parah. Sebelum dilaminasi, buku yang masih berupa bundel harus dilepas satu per satu dan diberi nomor urut guna memudahkan dalam proses penjilidan kembali. Di samping itu, kertas-kertas tersebut harus terlebih dahulu dibebaskan dari asam. Kertas-kertas itu kemudian dijemur, sebelum akhirnya dipres.
Cara lain yang dapat digunakan untuk memperbaiki buku atau majalah yang rusak adalah melalui penjilidan. Sebelumnya, buku yang rusak harus dibersihkan dulu. Kemudian baru dijahit satu persatu. Apabila keadaan buku sudah terlalu rapuh, gunakanlah. lem yang terbuat dari bahan organik. Pemilihan lem jenis ini untuk menghindari pengaruh kelembapan yang akan membuat lem biasa menjadi zat makanan yang baik bagi serangga. Jika ini terjadi sama saja dengan mengundang serangga yang akan tambah merusak. Kertas dan karton yang digunakan harus bebas dari asam, karena asam dapat menular pada buku lain yang kadar asamnya sudah dihilangkan.
Kolektor buku maupun pustakawan sebaiknya tahu apa yang menjadi penyebab kerusakan buku, sehingga bisa langsung mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna mencegah terjadinya kerusakan koleksi bahan-bahan pustaka yang dimiliki atau dikelolanya. Tapi jangan lupa, para kolektor buku atau pengelola perpustakaan sebaiknya melengkapinya dengan alat pemadam kebakaran.
Kiat Merawat Buku agar Awet 3
v Gangguan Sinar Matahari
Untuk mencegah rusaknya buku oleh sinar, perlu dijaga ugar cahaya yang masuk ke dalam ruangan penyimpanan buku tidak lebih dari 50 lux (kekuatan penyinaran). Untuk itu, sebaiknya jendela ruangan dilengkapi dengan kaca filter atau kaca diffuser guna melemahkan sinar matahari yang masuk. Atau dapat pula digunakan perpex yang dapat menyerap ultra violet (plexiglass UF 1-4).
Ada baiknya digunakan incandescent light (semacam lampu pijar) dan bukan fiuorosceni light untuk menghindari sinar ultra violet yang berlebih ini. Incandescent light ini memang harganya jauh lebih mahal daripada fluorescent light, sehingga pada kenyataannya lampu jenis terakhir ini yang paling banyak digunakan. Walaupun demikian sebiknya lampu ini dilengkapi dengan penyaring cahaya untuk membendung sinar ultra violet yang berlebihan.
Memisahkan buku-buku yang bersifat asam dari bahan-bahan yang tidak atau belum bersifat asam perlu dilakukan, karena keasaman dapat menular dari satu bahan ke bahan yang lain. Untuk itu perlu pula dilakukan apa yang disebut deasidifikasi atau penghilangan asam. Tujuannya untuk menetralkan kandungan asam di dalam kertas.
Derajat keasaman suatu kertas dapat diukur dengan pH meter elektrik, pensil pHydrion atau archivist pen, yaitu pen yang berisi tinta dengan warna terang yang mengandung brom cresol green. Apabila Idta membuat sebuah titik dengan pen tersebut pada sehelai kertas dan muncul warna kuning pada kertas, itu menunjukkan adanya asam yang berbahaya pada kertas. Bila warna biru yang muncul, berarti kertas tersebut behas dari asam.
Penghilangan asam im dapat dilakukan dengan memakai metode aqueous yang menggunakan kalsium bikarbonat dan magnesium karbonat yang dilarutkan dengan air, serta karbon dioksida. Dapat juga digunakan metode lain yang dikenal dengan metode non-aqueous. Dalam motode ini digunakan gas cair. Bahan yang digunakan adalah barium karbonat yang dilarutkan dengan aseton. Lalu larutan tersebut disemprotkan pada kertas.
Untuk mencegah rusaknya buku oleh sinar, perlu dijaga ugar cahaya yang masuk ke dalam ruangan penyimpanan buku tidak lebih dari 50 lux (kekuatan penyinaran). Untuk itu, sebaiknya jendela ruangan dilengkapi dengan kaca filter atau kaca diffuser guna melemahkan sinar matahari yang masuk. Atau dapat pula digunakan perpex yang dapat menyerap ultra violet (plexiglass UF 1-4).
Ada baiknya digunakan incandescent light (semacam lampu pijar) dan bukan fiuorosceni light untuk menghindari sinar ultra violet yang berlebih ini. Incandescent light ini memang harganya jauh lebih mahal daripada fluorescent light, sehingga pada kenyataannya lampu jenis terakhir ini yang paling banyak digunakan. Walaupun demikian sebiknya lampu ini dilengkapi dengan penyaring cahaya untuk membendung sinar ultra violet yang berlebihan.
Memisahkan buku-buku yang bersifat asam dari bahan-bahan yang tidak atau belum bersifat asam perlu dilakukan, karena keasaman dapat menular dari satu bahan ke bahan yang lain. Untuk itu perlu pula dilakukan apa yang disebut deasidifikasi atau penghilangan asam. Tujuannya untuk menetralkan kandungan asam di dalam kertas.
Derajat keasaman suatu kertas dapat diukur dengan pH meter elektrik, pensil pHydrion atau archivist pen, yaitu pen yang berisi tinta dengan warna terang yang mengandung brom cresol green. Apabila Idta membuat sebuah titik dengan pen tersebut pada sehelai kertas dan muncul warna kuning pada kertas, itu menunjukkan adanya asam yang berbahaya pada kertas. Bila warna biru yang muncul, berarti kertas tersebut behas dari asam.
Penghilangan asam im dapat dilakukan dengan memakai metode aqueous yang menggunakan kalsium bikarbonat dan magnesium karbonat yang dilarutkan dengan air, serta karbon dioksida. Dapat juga digunakan metode lain yang dikenal dengan metode non-aqueous. Dalam motode ini digunakan gas cair. Bahan yang digunakan adalah barium karbonat yang dilarutkan dengan aseton. Lalu larutan tersebut disemprotkan pada kertas.
Kiat Merawat Buku agar Awet 2
Pengaruh suhu, sinar, debu, kelembapan, dan polusi udara adalah faktor fisika perusak buku. Suhu yang tinggi dapat mempercepat proses perusakan kertas. Kertas menjadi kering dan pecah-pecah atau berlipat-lipat. Kelembapan (kadar air di udara) yang tinggi dapat menyuburkan pertumbuhan jamur, sedangkan kelembapan yang rendah dapat menyebabkan kertas menjadi kering dan cepat hancur. Sinar matahari dan fluorescent light tidak baik bagi buku. Apabila sinar ultra violet yang dikandungnya mengenai dokumen atau buku akan merupakan katalisator terjadinya reaksi fotosintesis dan dapat mengubah struktur selulose bahan pembuat kertas.
Debu juga jangan dianggap remeh. Selain mengganggu kesehatan, dapat pula menimbulkan noda, mengaburkan tulisan dalam buku, menularkan jamur jika menempel pada permukaan bahan pustaka. Debu yang mengandung partikel-partikel logam dan bereaksi dengan uap air akan menyebabkan tumbuhnya jamur pada permukaan kertas.
Polusi udara yang berasal dari asap knalpot, asap industri, dan juga minyak, tidak hanya berpengaruh pada kesehatan manusia, tapi juga pada buku. Sulfur dioksida yang dilepaskan akan masuk ke dalam halaman-halaman buku, bereaksi dengan substansi lain, dan membentuk asam sulfur. Akibatnya, kertas buku menjadi coklat dan ujungnya pecah-pecah.
Lalu faktor kimia yang dapat merusak buku yakni asam dan zat-zat lain, misalnya, klor. Asam sudah ada sejak awal proses pembuatan kertas, karena dalam proses itu banyak digunakan zat-zat yang bersifat asam. Klor digunakan sebagai pemutih kertas. Jika proses pencucian tidak dilakukan dengan baik, zat-zat tersebut akan tetap tertinggal dalam kertas. Akibatnya, kertas lama-kelamaan akan berubah warnanya menjadi kuning kecoklat-coklatan dan cepat rapuh.
v Manusia ikut andil
Tidak bisa dipungkiri, manusia sering ikut andil dalam kerusakan buku. Misalnya, dengan sengaja merobek bagian-bagian tertentu sebuah buku (biasanya pinjaman dari perpustakaan), atau mencoret-coretnya dengan tinta. Padahal tinta mudah sekali menularkan asam yang dikandungnya ke permukaan kertas.
Tidak jarang pula orang melipat bagian tertentu pada buku sebagai tanda batas baca. Bahkan kadang-kadang mereka melipat buku ke belakang. Tanpa disadari semua itu dapat merusak kertas dan sampul buku. Penempatan buku yang terlalu padat di dalam rak juga akan merusak buku, terutama kulit dan punggungnya. Kebakaran dan banjir adalah faktor penyebab kerusakan buku yang datangnya tidak dapat diduga.
Sebaiknya para pengelola perpustakaan maupun kolektor buku perlu melakukan persiapan, agar dapat mengambil tindakan cepat dan tepat guna mengurangi risiko. kerusakan, apabila terjadi bencana. Antara lain melengkapi ruangan dengan alat pemadam api.
Usaha pencegahan kerusakan bahan-bahan pustaka sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini akan lebih mudah dan baik dibandingkan dengan melakukan perbaikan terhadap buku-buku yang sudah telanjur rusak.
Ada berbagai cara yang dapat digunakan untuk men-cegah terjadinya kerusakan terhadap buku-buku. Membersihkan bahan pustaka dan tempat penyimpanannya secara berkala, merupakan salah satu cara untuk mencegah kerusakan bahan pustaka oleh debu. Untuk menghilangkan debu yang mudah lepas dapat digunakan sikat atau kuas. Atau vacum cleaner untuk mengisap debu yang mengotori tempat penyimpanan buku maupun bagian luar buku. Tapi mengingat daya sedotnya yang kuat, sebaiknya tidak digunakan untuk mengisap debu yang melekat pada buku-buku yang sudah rapuh. Ini untuk menghindari bertambah rusaknya buku.
Karet busa atau. spons dapat pula untuk membersihkan buku dari debu. Tapi mesti hati-hati, sebaiknya dilakukan dari arah tengah ke pinggir. Sedangkan noda-noda yang sulit dihilangkan dengan kuas atau sikat bisa dihilangkan dengan karet penghapus. Buku yang sudah rapuh dan dicetak dengan tinta yang berkualitas rendah harus ditangani dengan hati-hati. Jika tidak, hal ini justru akan menghancurkan buku-buku tersebut.
Meletakkan buku-buku di dalam lemari kaca merupakan salah satu cara untuk menghindari debu. Walaupun demikian buku-buku dan lemari kaca tetap harus dibersihkan secara berkala. Akan lebih baik lagi kalau di dalam ruang penyimpanan buku dipasangi alat pembersih udara karena dalam alat ini terdapat karbon aktif yang berfungsi sebagai filter udara untuk mengurangi debu.
Salah satu cara merawat bahan pustaka sekarang ini yaitu dengan memasang AC. Selain sebagai penyaring debu, AC membantu menurunkan kelermbapan udara, serta mencegah perkembangan jamur pada buku. Dengan AC pula suhu dan kelembapan udara ruangan bisa disetel sesuai dengan yang ideal bagi ruang penyimpanan buku atau perpustakaan, yakni antara 20 dan 240٥C, dan kelembapan antara 45 dan 60% RH. Idealnya AC harus dinyalakan nonstop selama 24 jam, karena bila tidak justru akan lebih memperburuk kondisi buku.
Ada baiknya jika ruang penyimpanan buku juga dilengkapi dengan dehumidifier yang berfungsi menyerap uap air. Sirkulasi udara sangat penting guna mencegah timbulnya kantung-kantung udara yang muncul akibat suhu dan kelembapan udara tidak memenuhi standar yang ideal. Kipas angin juga sering digunakan untuk melengkapi ruang penyimpanan buku, agar sirkulasi udara baik.
Penggunaan silika gel juga membantu mengurangi kelembapan udara. Bahan ini dapat efektif apabila digunakan di dalam ruangan yang tertutup. Sebelum digunakan, warnanya biru dan apabila sudah digunakan warnanya akan berubah menjadi dadu. Hal ini menunjukkan kadar kelembapan ruangan tersebut. Semakin lembap ruangan, semakin cepat perubahan warnanya.
Agar ruang penyimpanan atau ruang baca buku dapat terbebas dari serangga, sebaiknya dinding, langit-langit, rak buku, dan tempat penyimpanan yang lain secara berkala disemprot dengan bahan insektisida. Di samping itu letakkanlah bahan-bahan berbau yang tidak disukai serangga, seperti kamper, miphtalene ball, atau sejenisnya.
Debu juga jangan dianggap remeh. Selain mengganggu kesehatan, dapat pula menimbulkan noda, mengaburkan tulisan dalam buku, menularkan jamur jika menempel pada permukaan bahan pustaka. Debu yang mengandung partikel-partikel logam dan bereaksi dengan uap air akan menyebabkan tumbuhnya jamur pada permukaan kertas.
Polusi udara yang berasal dari asap knalpot, asap industri, dan juga minyak, tidak hanya berpengaruh pada kesehatan manusia, tapi juga pada buku. Sulfur dioksida yang dilepaskan akan masuk ke dalam halaman-halaman buku, bereaksi dengan substansi lain, dan membentuk asam sulfur. Akibatnya, kertas buku menjadi coklat dan ujungnya pecah-pecah.
Lalu faktor kimia yang dapat merusak buku yakni asam dan zat-zat lain, misalnya, klor. Asam sudah ada sejak awal proses pembuatan kertas, karena dalam proses itu banyak digunakan zat-zat yang bersifat asam. Klor digunakan sebagai pemutih kertas. Jika proses pencucian tidak dilakukan dengan baik, zat-zat tersebut akan tetap tertinggal dalam kertas. Akibatnya, kertas lama-kelamaan akan berubah warnanya menjadi kuning kecoklat-coklatan dan cepat rapuh.
v Manusia ikut andil
Tidak bisa dipungkiri, manusia sering ikut andil dalam kerusakan buku. Misalnya, dengan sengaja merobek bagian-bagian tertentu sebuah buku (biasanya pinjaman dari perpustakaan), atau mencoret-coretnya dengan tinta. Padahal tinta mudah sekali menularkan asam yang dikandungnya ke permukaan kertas.
Tidak jarang pula orang melipat bagian tertentu pada buku sebagai tanda batas baca. Bahkan kadang-kadang mereka melipat buku ke belakang. Tanpa disadari semua itu dapat merusak kertas dan sampul buku. Penempatan buku yang terlalu padat di dalam rak juga akan merusak buku, terutama kulit dan punggungnya. Kebakaran dan banjir adalah faktor penyebab kerusakan buku yang datangnya tidak dapat diduga.
Sebaiknya para pengelola perpustakaan maupun kolektor buku perlu melakukan persiapan, agar dapat mengambil tindakan cepat dan tepat guna mengurangi risiko. kerusakan, apabila terjadi bencana. Antara lain melengkapi ruangan dengan alat pemadam api.
Usaha pencegahan kerusakan bahan-bahan pustaka sebaiknya dilakukan sejak dini. Hal ini akan lebih mudah dan baik dibandingkan dengan melakukan perbaikan terhadap buku-buku yang sudah telanjur rusak.
Ada berbagai cara yang dapat digunakan untuk men-cegah terjadinya kerusakan terhadap buku-buku. Membersihkan bahan pustaka dan tempat penyimpanannya secara berkala, merupakan salah satu cara untuk mencegah kerusakan bahan pustaka oleh debu. Untuk menghilangkan debu yang mudah lepas dapat digunakan sikat atau kuas. Atau vacum cleaner untuk mengisap debu yang mengotori tempat penyimpanan buku maupun bagian luar buku. Tapi mengingat daya sedotnya yang kuat, sebaiknya tidak digunakan untuk mengisap debu yang melekat pada buku-buku yang sudah rapuh. Ini untuk menghindari bertambah rusaknya buku.
Karet busa atau. spons dapat pula untuk membersihkan buku dari debu. Tapi mesti hati-hati, sebaiknya dilakukan dari arah tengah ke pinggir. Sedangkan noda-noda yang sulit dihilangkan dengan kuas atau sikat bisa dihilangkan dengan karet penghapus. Buku yang sudah rapuh dan dicetak dengan tinta yang berkualitas rendah harus ditangani dengan hati-hati. Jika tidak, hal ini justru akan menghancurkan buku-buku tersebut.
Meletakkan buku-buku di dalam lemari kaca merupakan salah satu cara untuk menghindari debu. Walaupun demikian buku-buku dan lemari kaca tetap harus dibersihkan secara berkala. Akan lebih baik lagi kalau di dalam ruang penyimpanan buku dipasangi alat pembersih udara karena dalam alat ini terdapat karbon aktif yang berfungsi sebagai filter udara untuk mengurangi debu.
Salah satu cara merawat bahan pustaka sekarang ini yaitu dengan memasang AC. Selain sebagai penyaring debu, AC membantu menurunkan kelermbapan udara, serta mencegah perkembangan jamur pada buku. Dengan AC pula suhu dan kelembapan udara ruangan bisa disetel sesuai dengan yang ideal bagi ruang penyimpanan buku atau perpustakaan, yakni antara 20 dan 240٥C, dan kelembapan antara 45 dan 60% RH. Idealnya AC harus dinyalakan nonstop selama 24 jam, karena bila tidak justru akan lebih memperburuk kondisi buku.
Ada baiknya jika ruang penyimpanan buku juga dilengkapi dengan dehumidifier yang berfungsi menyerap uap air. Sirkulasi udara sangat penting guna mencegah timbulnya kantung-kantung udara yang muncul akibat suhu dan kelembapan udara tidak memenuhi standar yang ideal. Kipas angin juga sering digunakan untuk melengkapi ruang penyimpanan buku, agar sirkulasi udara baik.
Penggunaan silika gel juga membantu mengurangi kelembapan udara. Bahan ini dapat efektif apabila digunakan di dalam ruangan yang tertutup. Sebelum digunakan, warnanya biru dan apabila sudah digunakan warnanya akan berubah menjadi dadu. Hal ini menunjukkan kadar kelembapan ruangan tersebut. Semakin lembap ruangan, semakin cepat perubahan warnanya.
Agar ruang penyimpanan atau ruang baca buku dapat terbebas dari serangga, sebaiknya dinding, langit-langit, rak buku, dan tempat penyimpanan yang lain secara berkala disemprot dengan bahan insektisida. Di samping itu letakkanlah bahan-bahan berbau yang tidak disukai serangga, seperti kamper, miphtalene ball, atau sejenisnya.
Kiat Merawat Buku agar Awet
Merawat Buku
Dengan semangat menggebu-gebu Iwan menuju ke perpustakaan fakultasnya. Ia yakin bisa mendapatkan bahan yang diperlukan untuk skripsinya. Sesampai di sana ia lemas, karena bagian yang dia perlukan sudah tidak utuh lagi. Ada yang dimakan rayap atau robek. Tentu saja ini menyulitkannya. Hal semacam ini pun bisa terjadi pada buku-buku Anda di rumah.
Entah siapa yang salah: pengelola perpustakaan, Anda, pembaca lain, serangga, atau jamur yang merusak buku itu? Buku baru mungkin masih bisa dicetak ulang jika diperlukan, tapi bagaimana kalau itu buku lama bahkan langka?
Sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi, kelestarian buku perlu dijaga, dirawat, dan dipelihara. Sering kita hanya mencari-carinya kalau sedang butuh, tapi sesudah itu dibiarkan begitu saja. Jadi agar tidak menyesal kehilangan informasi dan data sejarah yang sangat dibutuhkan, perlu diketahui bagaimana cara merawat buku agar tetap baik dan awet.
Merawat buku bukan sekadar memberinya sampul, lalu sudah. Tapi yang perlu dilakukan kemudian ialah melindunginya agar tidak rusak (conservation), memperbaikinya jika sudah telanjur rusak akibat dimakan usia, terlalu sering dipakai, atau rusak karena soal-soal lain (preservation).
Kerusakan buku sebenarnya sudah diketahui sejak lama, tetapi kesadaran untuk merawat buku baru muncul seabad yang lalu. Mulanya perawatan ini hanya ditujukan pada buku-buku yang langka dan berharga. Tetapi kini ditujukan pada semua koleksi perpustakaan: buku, majalah, mikrofilm, kaset, kaset video, dan sebagainya..
v Dari kutu sampai banjir
Pada dasarnya kerusakan ljuku disebabkan oleh tiga hal utama, yaitu faktor biotis, finika, dan kimia. Di samping itu juga faktor manusia dan hencana seperti banjir atau kebakaran.
Yang termasuk faktor biotis ialah jamur dan serangga. Buku yang jamuran warna kertasnya berubah menjadi kuning, karena jamur dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada kertas. lamur juga bisa bikin kertas lengket satu sama lain. Tumbuhnya jamur itu akibat kelembapan udara yang tinggi, ± 60% atau lebih. Jamur akan berhenti berkembang biak kalau kelembapan udara tidak sesuai. Tanda-tanda jamur yang sudah tidak aktif lagi adalah adanya bin-tik-bintik coklat pada buku. Sementara itu serangga, yaitu bangsanya rayap, kecoa, ngengat, kutu buku, dan ikan perak, tidak kalah ganasnya dengan jamur. Bahkan sangat berbahaya. Rayap, misalnya, akan menyerang buku jika kayu-kayu yang ada di sekitarnya sudah habis dimakan. Karena itu sebaiknya rak buku dibuat dari bahan logam. Sedangkan kecoa merusak buku dengan meninggalkan noda pada kertas. Kotorannya yang be-rupa cairan dapat merusak keutuhan buku. Makanya kalau masuk ke ruang penyimpanan buku atau ruang baca sebaiknya tidak bawa makanan, karena hal itu dapat membantu mencegah kecoa dan serangga lain masuk ke situ. Di samping itu untuk menjaga kebersihan ruangan dan menghindari buku. dari kotor dan noda minyak. Serangga bertubuh tipis dan berwarna coklat bernama ngengat juga menjengkelkan. Ia gemar sekali hidup di tempat gelap seperti di dalam buku, rak, lemari, dan sebagainya. Celakanya, ngengat justru demen sekali menggerogoti lem kanji pada punggung buku, karena lem itu merupakan zat gizi yang baik bagi kehidupannya.
Ikan perak punya hobi serupa dengan ngengat, karena ia juga senang memakan perekat yang terbuat dari tepung kanji. Bahkan sasarannya acap kali tidak hanya punggung, tapi juga kulit dan label buku, serta gambar dalam buku. Lalu kutu buku yang juga musuh utama buku lebih kurang ajar lagi. Serangga berupa larva kumbang ini senang sekali mengikis habis permukaan kertas. Akibatnya huruf-huruf yang ada pada kertas menjadi hilang hingga sulit dibaca.
Dengan semangat menggebu-gebu Iwan menuju ke perpustakaan fakultasnya. Ia yakin bisa mendapatkan bahan yang diperlukan untuk skripsinya. Sesampai di sana ia lemas, karena bagian yang dia perlukan sudah tidak utuh lagi. Ada yang dimakan rayap atau robek. Tentu saja ini menyulitkannya. Hal semacam ini pun bisa terjadi pada buku-buku Anda di rumah.
Entah siapa yang salah: pengelola perpustakaan, Anda, pembaca lain, serangga, atau jamur yang merusak buku itu? Buku baru mungkin masih bisa dicetak ulang jika diperlukan, tapi bagaimana kalau itu buku lama bahkan langka?
Sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi, kelestarian buku perlu dijaga, dirawat, dan dipelihara. Sering kita hanya mencari-carinya kalau sedang butuh, tapi sesudah itu dibiarkan begitu saja. Jadi agar tidak menyesal kehilangan informasi dan data sejarah yang sangat dibutuhkan, perlu diketahui bagaimana cara merawat buku agar tetap baik dan awet.
Merawat buku bukan sekadar memberinya sampul, lalu sudah. Tapi yang perlu dilakukan kemudian ialah melindunginya agar tidak rusak (conservation), memperbaikinya jika sudah telanjur rusak akibat dimakan usia, terlalu sering dipakai, atau rusak karena soal-soal lain (preservation).
Kerusakan buku sebenarnya sudah diketahui sejak lama, tetapi kesadaran untuk merawat buku baru muncul seabad yang lalu. Mulanya perawatan ini hanya ditujukan pada buku-buku yang langka dan berharga. Tetapi kini ditujukan pada semua koleksi perpustakaan: buku, majalah, mikrofilm, kaset, kaset video, dan sebagainya..
v Dari kutu sampai banjir
Pada dasarnya kerusakan ljuku disebabkan oleh tiga hal utama, yaitu faktor biotis, finika, dan kimia. Di samping itu juga faktor manusia dan hencana seperti banjir atau kebakaran.
Yang termasuk faktor biotis ialah jamur dan serangga. Buku yang jamuran warna kertasnya berubah menjadi kuning, karena jamur dapat menyebabkan terjadinya perubahan warna pada kertas. lamur juga bisa bikin kertas lengket satu sama lain. Tumbuhnya jamur itu akibat kelembapan udara yang tinggi, ± 60% atau lebih. Jamur akan berhenti berkembang biak kalau kelembapan udara tidak sesuai. Tanda-tanda jamur yang sudah tidak aktif lagi adalah adanya bin-tik-bintik coklat pada buku. Sementara itu serangga, yaitu bangsanya rayap, kecoa, ngengat, kutu buku, dan ikan perak, tidak kalah ganasnya dengan jamur. Bahkan sangat berbahaya. Rayap, misalnya, akan menyerang buku jika kayu-kayu yang ada di sekitarnya sudah habis dimakan. Karena itu sebaiknya rak buku dibuat dari bahan logam. Sedangkan kecoa merusak buku dengan meninggalkan noda pada kertas. Kotorannya yang be-rupa cairan dapat merusak keutuhan buku. Makanya kalau masuk ke ruang penyimpanan buku atau ruang baca sebaiknya tidak bawa makanan, karena hal itu dapat membantu mencegah kecoa dan serangga lain masuk ke situ. Di samping itu untuk menjaga kebersihan ruangan dan menghindari buku. dari kotor dan noda minyak. Serangga bertubuh tipis dan berwarna coklat bernama ngengat juga menjengkelkan. Ia gemar sekali hidup di tempat gelap seperti di dalam buku, rak, lemari, dan sebagainya. Celakanya, ngengat justru demen sekali menggerogoti lem kanji pada punggung buku, karena lem itu merupakan zat gizi yang baik bagi kehidupannya.
Ikan perak punya hobi serupa dengan ngengat, karena ia juga senang memakan perekat yang terbuat dari tepung kanji. Bahkan sasarannya acap kali tidak hanya punggung, tapi juga kulit dan label buku, serta gambar dalam buku. Lalu kutu buku yang juga musuh utama buku lebih kurang ajar lagi. Serangga berupa larva kumbang ini senang sekali mengikis habis permukaan kertas. Akibatnya huruf-huruf yang ada pada kertas menjadi hilang hingga sulit dibaca.
Langganan:
Postingan (Atom)
