Kabarnya beberapa wisatawan Eropa yang berkenalan dengan mangga arumanis di hotel berbintang lima, mereka terpesona dan menganggap buah itu exotic. Kita di Losmen Bintang Tujuh meng anggapnya biasa-biasa saja. Beberapa abad yang lalu, ketika mereka merasakan betapa nikmatnya buah pisang ambon yang harum itu, mereka pun diwartakan kagum. Kok ada buah surga seperti itu, sampai Linnaeus menyebutnya Musa paradisiaca? Kita hanya heran, pisang saja kok dikagumi!
v Jadi "antik"
Kini keadaannya terbalik. Sesudah kita makmur ' "menjelang lepas landas" dan bebas (tapi bertanggung jawab) memasukkan benih lettuce, zucchini, okra, daikon, rhubarb, kohl rabi, broccoli ke bumi Indonesia, para konsumen kita juga menganggap sayuran baru itu eksotik tapi penduduk pribumi dari negeri asal sayuran itu menganggapnya biasa-biasa saja. Sejak itu, pasar pasar swalayan kita makin banyak mempopulerkan sayuran asing, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, ketika orang-orang (baik asing maupun "domestik") sempat memanfaatkan waktu senggangnya untuk berbelanja sendiri ke pasar ber-AC dan ber- WC. Meskipun tidak dikenal begitu luas, sayuran baru itu mengalir di depan kita, karena yang mencari mereka memang makin banyak. Bukan karena "tak kenal atau kenal" (maka tak sayang atau sayang), tapi karena sayuran eksotik itu membuat cara berbelanja menjadi semacam petualangan yang menarik. Baru melihat nama-nama mereka berikut bentuk masingmasing yang aneh itu saja sudah tertarik. Apalagi membaca harganya.
"Masak daikon dijual sebelas ribu sekilo! Apa istimewanya?" tanya seorang pengunjung pasar ber-AC dan ber-WC di hari Minggu santai itu. Istimewanya ialah, barang itu habis juga dalam dua hari: Sabtu dan Minggu. Mungkin karena diborong untuk persediaan satu minggu berikutnya, oleh perusahaan catering yang merantangi orang-orang asing. Daikon, Raphanus sativus varietas longipinnatus yang bentuknya seperti lobak raksasa itu, (dengan garis tengah 5 cm dan panjang 30 cm) dimasak sop atau diacar, tapi di dapur Indonesia dimasak soto. Baunya seperti lobak Raphanus sativus varietas hortensis kita, tapi lebih lembut dan gurih.
Daikon adalah varietas musim dingin dari radis, Raphanus sativus, yang tumbuhnya lebih dari semusim, sehingga perawatannya lebih lama sampai jadi mahal. Karena harganya yang menarik, beberapa pengusaha hortikultura yang jeli kemudian tidak mengimpor sayuran itu lagi, tapi benihnya, lalu menanamnya di pegunungan yang sejuknya sama dengan negeri asalnya, yaitu Jepang. Maka terbinalah pasar yang makin lama makin ramai. Minat yang tergugah dan permintaan yang meningkat ailayani dengan suplai yang cukup. Para petani Lembang dan Cipanas yang bekerja sama menanam sayuran itu, senang-senang saja diajak memanfaatkan peluang bisnis itu. Mereka agak sulit menyebut sayuran baru itu "sayuran eksotik", lalu menyebutnya "sayuran antik". Lebih lancar meluncur dari mulut, meskipun istilah antik itu berlawanan maknanya dengan pengertian "baru", tapi mereka tidak peduli.
Minggu, 29 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar