Sabtu, 28 November 2009

Memberdayakan Taman Bacaan

Memberdayakan Taman Bacaan


Awalnya cuma kumpul-kumpul anak-anak muda yang peduli pada dunia literasi Indonesia. Lalu karena juga suka jalan jalan mengunjungi berbagai taman bacaan. timbullah keprihatinan mereka pada banyak taman bacaan yang tutup. "Dari situlah kita berpikir bagaimana caranya melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan kita. Kita punya semangat. lalu apa yang bisa kita bantu, akhirnya berdirilah komunitas Forum Indonesia Membaca (FIM) pada Oktober 2001,” jelas Dessy Sekar Astina, Program Director Forum Indonesia Membaca
FIM memfokuskan diri pada upaya pengembangan taman bacaan-taman bacaan juga mendorong masyarakat agar lebih aktif lagi membangun taman bacaan di wilayahnya masing-masing yang berjejaring satu sama lain. "Akhirnya jadi kayak bola salju. Dari kecil tambah besar. akhirnya mempengaruhi Indonesia:" ujar Sekar yang hobi membaca, nonton film dan naik gunung ini.
Untuk tujuan ini FIM melakukan upaya praktis sekaligus strategis. Agar taman bacaan tak cepat mati dan bisa terus bertahan dibutuhkan suatu manajemen taman bacaan. Nah. FIM membuat modul-modul yang bisa digunakan taman bacaan di seluruh wilayah Indonesia, tentu dengan tetap memperhatikan ciri khas masyarakat setempat. Misalnya bagaimana membuat taman bacaan di pesisir atau bagaimana membuat taman bacaan di pegunungan,” ungkap lulusan progran studi Kimia FMIPA Universitas Brawijaya.
Lalu. relawan FIM yang ahli di bidang teknologi informasi juga telah mengembangkan software Athenaeum yang dapat dipakai oleh komunitas taman bacaan untuk membuat database buku, keanqgotaan atau bahan pustaka lainnya. Software, yang bisa didapatkan gratis ini. tampilannya bisa diubah sesuai kebutuhan.
Kalau software disediakan. bagaimana dengan hardware? Bekerja sama dengan perusahaan swasta yang secara rutin mengganti komputernya. FIM mendapatkan komputer-komputer bekas untuk taman bacaan yang memerlukannya. Pengembangan taman bacaan juga bisa dilakukan dengan mengadakan kegiatan di taman bacaan seperti panggung boneka. origami. atau membuat layang-layang. "Jadi nggak dipaksakan setiap ke taman bacaan harus membaca buku, boleh saja menggambar atau bermain. Akhirnya tertarik kok melakukan aktifitas membaca:" kata Sekar. Untuk para ibu bisa diadakan pelatihan membuat industri rumahan, seperti membuat kripik. sale pisang dan sebagainya.
Sekar menegaskan bahwa FIM tidak akan membuat taman bacaan sendiri dimana pun juga. Masyarakat sendiri yang tahu kondisi di wilayahnya sehingga merekalah yang lebih tahu taman bacaan apa yang sebaiknya mereka bangun. FIM hanya memfasilitasi lewat pembinaan dan bantuan menyediakan perangkat taman bacaan, seperti komputer, ketersediaan buku-buku dari donatur selama memungkinkan. Sehingga masyarakat setempatlah yang kemudian amat berperan meningkatkan minat baca di daerah masing-masing. Kampanyenya pun tak lagi terlalu luas seperti Indonesia Membaca, tapi difokuskan menjadi Aceh Membaca. Pontianak Membaca dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar